Browsing Tag

tsunami aceh 2014

Cerita Bunda

Di Mana Saya Saat Tsunami Aceh 2004?

tsunami-aceh-2004-cutdekayi.com

Dari lahir hingga berumur 7 tahun, saya habiskan waktu di Banda Aceh, tepatnya di Ulee Lheue. Rumah kami hanya bersebrang jalan saja dengan laut lepas.

Saya disekolahkan di MIN di daerah Jambotape. Saya lupa bagaimana masa kecil saya, tapi yang pasti saat Ayah belum ada mobil, saya diantar naik vespa. Perjalanan dari Ulee Lheue – Jambotape memakan waktu sedikit lama, jadi Ayah selalu ke kantor buat absen sebentar, lalu izin mengantar saya ke sekolah.

Ketika ayah absen, saya menunggu di vespa, di sebrang jalan. Kami tidak masuk ke parkiran, karena harus memutar lagi. Jadi untuk menghemat waktu, ayah menyebrang dan saya menunggu.

Pernah suatu waktu, ayah lupa bahwa saya menunggu. Dengan baik budinya sayapun tetap di tempat. Duduk di atas jok vespa ayah yang tepat di bawah rimbunan pohon. Saya amati lalu lalang kendaraan yang pada saat itu masih sedikit dan jarang terjadi kemacetan.

Kurang lebih dua jam kemudian, ayah tampak di pagar kantor. Berlari dan menyebrang ke arah saya. Ayah meminta maaf karena lupa bahwa saya menunggu. Dan ayah langsung mengantar saya untuk main di rumah nenek di asrama gajah, Peunayong. Yeee libur sekolaah…

Bukan hanya itu.. Saat ayah baru beli mobil dan baru pandai membawanya, pernah insiden tabrak terjadi di perjalanan menuju sekolah saya. Saat itu labi-labi menutup jalan, sehingga ayah tak tau di depan sana ada mobil menghadang. Mereka sama-sama tidak tau dan menginjak pedal gas. O ow.. Nasib pagi itu, kami tabrakan. Untungnya tidak ada yang terluka. Dan saya akhirnya diantar lagi ke rumah nenek.

Di Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue

Di Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue

Pindah Ke Sibolga

Satu tahun sebelum tsunami, tepatnya tahun 2003, ayah di pindahtugaskan ke Sibolga, Sumut. Saya dan dua adik merasa sedih. Karena ini adalah kali perdana berjauhan dari keluarga besar. Kami pindah meninggalkan nenek, cecek, mami, sepupu dan semuanya.

Malam itu, dengan menumpang bus PMTOH kami berangkat menuju Medan dan esoknya sambung lagi dengan bus menuju Sibolga. Saya dan kedua adik menikmati perjalanan dan berusaha untuk menyamankan diri dengan suasana kota yang baru. Bagaimana caranya? Dengan tidak jauh-jauh dari Ayah dan Bunda.

Waktu sudah pukul 17.00 WIB saat kami tiba di sibolga dan turun tepat di depan rumah dinas kantor. Cuaca dingin menyergap. Di belakang rumah ada bukit. Dan di depan rumah ada sungai.

Namun, meskipun tinggal di rumah dinas, kondisinya tidak sama seperti di Banda Aceh. Di sini, rumahnya hanya 3 dan berjejer. Rumah kami tepat di tengah-tengah. Diapit oleh dua rumah dinas lainnya namun dibatasi dengan pagar.

Hari demi hari kami lalui penuh kehati-hatian. Karena ini adalah kota orang, jadi harus pandai-pandai membawa diri. Apalagi logat kami yang masih sangat Aceh.

Namun, alhamdulillah…ternyata teman-teman di sekolah tidak ada yang mengucilkan, dalam waktu beberapa minggu saya sudah memiliki teman akrab. Endang, Alfi, Mei, Nurhalimah.

Bulan September tahun 2004, kami pulang ke Banda Aceh. Rindu.

tsunami aceh 2014 2

Selama di Banda Aceh, kami ke kuburan atok dan mandi di pantai Ulee Lheue. Jalan ke rumah saudara juga singgah ke tetangga saat di rumah dinas dulu, almh wak ina dan alm om nur.

Kami hanya tiga minggu saja di Aceh, setelahnya kami langsung kembali lagi.
Sedihhh pengen ga balik lagi karena maunya dekat almh acik aja… Hiks. Tapi alhamdulillah ternyata saat kami pulang, dua cecekku (cek andri dan cek fadil) serta acik ikut serta. Cek fadil akan ke pekanbaru, sedangkan acik dan cek andri sejenak berlibur di kota sibolga lalu kemudian kembali ke aceh

Kejadian Tsunami, 26 Desember 2004

Pagi itu, pukul 07.15 kami bersiap rihlah ke pantai di Barus, 3 jam dari Kota Sibolga. Namun, saat diperjalanan, kami melihat banyak sekali orang keluar dari rumah, dan ayahpun memberhentikan mobil dan mencari tau.

Ternyata gempa.

Saat itu saya belum tau gempa itu apa, jadi ya karena tidak merasa meminta ayah untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Di Barus, kami tidak mandi di pantai. Karena kondisi pantai sangat surut. Entah kenapa hati kecil saya selalu mint pulang.. Dan dua jam kemudian kami pulang beserta rombongan.

Tiba di rumah sudah sore menjelang maghrib. Tetangga menyergap dan berkata,”Bunda Tari, Ayah Tari. Cepat buka tivimu, Aceh tsunami!!!!” ucapnya sambil menghapus air mata.

Ha? Tsunami?

Bundapun bergegas membuka pintu dan menghidupkan TV. Tampak di sana tagline Tsunami Aceh menggema. Di mana-mana. Di semua siaran berita.

Bunda langsung meraih gagang telpon dan memencet nomor telfon rumah siapapun yang ada di aceh. Termasuk wartel (warung telepon) dekat rumah acik, mami, cek andri.

Namun nihil. Tidak tersambung.

Berkali-kali bunda menghapus air mata dan meminta kami berganti baju dan segera tidur. Saya menuruti, karena memang saya tidak mengerti.

Keesokan harinya, kami tidak ada yang sekolah. Ayahpun tidak kerja. Bunda masih saja menonton tv dan berkali-kali mengangkat gagang telfon lalu menutupnya. Hingga saya mengajak bunda bicara.

“Bun, Aceh kenapa, bun?” tanya saya polos.

“Tsunami, nak. Tsunami itu, air laut tinggi datang ke kota. Udah sampe ke simpang lima juga. Ayi tau simpang lima, nak?” Jawabnya sambil menekan lagi nomor saudara di Banda Aceh.

“Tau, bun. Terus acik? Cek andri? Mami? Gimana bun?”

“Belum ada jawaban, nak.” Di tengah kalut bunda masih saja menjawab.

Beberapa menit kemudian, dari siaran berita bunda mendapatkan nomor info terkait tsunami di Banda Aceh. Namun nomornya terus sibuk.

Dan begitu terus hingga seminggu kemudian, bunda mendapat telfon dari Ayahngoh (abang bunda) yang di Pekanbaru. Beliau mengabarkan bahwa Acik selamat, saat ini acik di Takengon tempat mami. Cek andri selamat, meski sempat dikejar air dan lari hingga ke Mata Ie.

Allahu akbar.. Bunda langsung sujud syukur dan memeluk kami satu-satu. Sungguh, pada saat itu saya masih belum mengerti. Yang saya tau, acik dan cecek selamat. Dan bunda tidak terlalu bersedih lagi. Begitupun ayah, keluarga intinya selamat. Meski banyak juga saudara yang meninggal terkena tsunami Aceh 2004.

Inilah hikmah mengapa ayah dipindahtugaskan ke Sibolga. Bahwa memang rencana Allah itu indah. Kalau tidak, bisa dibayangkan bagaimana nasib kami yang tinggal di Ulee lheue saat itu?

Namun, pada akhirnya, Acik tetap harus pergi dari sisi kami menuju ke Rabb Yang Maha Tinggi pada tahun 2007, beberapa bulan setelah kami kembali dari perantauan…

-semoga Allah ampuni mereka-

Banda Aceh, 15 April 2016

@cutdekayi

*Acik : Nyakcik(Nenek)

Cecek : Paman

Labi-labi : angkutan umum di Banda Aceh

Takengon : kota yang terletak di dataran tinggi Gayo