Browsing Tag

Indahnya ramadhan 1437H

Cerita Bunda

Ramadan Pertama Bersama Kizain

ramadan-bersama-kizain-cutdekayi,com

Hallo, sudah hari ke-4 Ramadan, ya. Gimana puasanya? Masih lancar, dong? Jangan kalah sama anak-anak TK yang sudah belajar puasa meski setengah hari. Tetap semangat hingga akhir, ya!

Ngomong-ngomong soal ramadan, ini adalah kali kedua saya dan abang berpuasa dengan status sebagai suami dan istri. Namun kali pertama berpuasa dengan kehadiran si kecil, Kizain.

Setahun yang lalu, -saat saya masih hamil Kizain-, saat bulan puasa hadir saya terpaksa harus berbuka di tengah-tengah hari. Kondisi badan ibu hamil yang berbeda-beda membuat saya harus membatalkan puasa. Saat itu kondisi janin sudah 6 bulan.

Puasa kali ini, saya dalam kondisi menyusui. Kizain juga sudah berumur 7 bulan 1 minggu, jadi sudah tidak ASI Ekslusif lagi. Saya pikir, anteng-anteng saja kalo saya berpuasa. Dengan berfikir positif, insya Allah puasa akan dijalani dengan nyaman.

Di malam ramadan pertama, saya tarawih tidak berjamaah ke masjid, melainkan di rumah. Kizain kecil setiap pukul 19.30 sudah minta tidur. Ya mau ga mau harus mengalah, dong? Abang berjamaah ke masjid dan saya tarawih di rumah sembari menjaga Kizain.

Saat sahur, Kizain kecil ternyata ikut terbangun mendengar keriuhan kami yang sedang menyantap sahur. Dia ikut sahur meski mata kriyep dan menguap terus-menerus. Saya mengajak dia berbicara bahwa rutinitas sahur adalah untuk berpuasa seharian, biar ayah bunda kuat puasanya. Saya awalnya khawatir Kizain akan kurang tidur, tapi ternyata setelah sahur dan menyusu, dianya alhamdulillah bobo lagi.

Pagi pertama, saya merasa tak mengapa untuk berpuasa. Kondisi badan insya Allah masih fit meski Kizain sangat kuat menyusu. Meskipun sudah MPASI, ASI-nya masih lancar jaya, apalagi kalo mau tidur dan abis keringetan main-main di lantai (baca : merangkak), bisa sampai 30 menitan nge-ASInya.

Setelah memandikan Kizain dan menyuapkan MPASI-nya, saya berbaring sebentar. Terasa kelelahan yang berkepanjangan. Nafas ngos-ngosan kaya habis lari beberapa kilometer :’D saya tetap berpositif thinking dan membayangkan betapa banyaknya busui yang jauh lebih banyak aktivitasnya daripada saya.

Namun ternyata, pusing mendera saat jam menunjukkan pukul 10.00. Mata saya berkunang-kunang saat menyusui Kizain. Sayapun mengatakan ke abang kondisi saya. Dan abang menyarankan untuk mengambil keringanan bagi ibu menyusui daripada terjadi hal yang tidak-tidak.

Dengan mencari referensi keringanan sana sini, akhirnya saya memutuskan berbuka pukul 11.00 siang. Dalam hati sedih dan segala macam rasa. Namun, saya harus kuat lillahita’ala. Setelah berbuka, mata jadi benderang, badanpun kembali fit. Alhamdulilah.

Meskipun saya tidak berpuasa, saya tetap menemani abang di kala berbuka dan hanya makan di waktu makan saja dengan tidak dilihat langsung oleh Kizain. Mengapa? Karena meskipun dia masih bayi, suasana ramadan yang menahan hawa nafsu kami ajarkan pelan-pelan. MPASI sore Kizainpun saya ganti waktunya menjadi saat berbuka, di saat keluarga sedang berkumpul untuk menyantap takjil bersama. Saat ayah bundanya mengaji, Kizain ikut memperhatikan meski berujung dengan ia memegang Quran sendiri, hehehe.

ramadan-bersama-kizain-cutdekayi.com

Namun begitu, saya tidak memaksa Kizain untuk ikut rutinitas ramadan kami, seperti sahur bersama. Kalo memang dia bangun, ya saya ngasih ASI dulu. Kalo bobok lagi, ya alhamdulillah. Kalo engga, sekalian aja diajak sahur.

Satu hal yang pasti, sejak kehadiran Kizain, keegoisan berada di posisi terakhir. Saya tidak bisa memaksa kehendak untuk mengajak Kizain mengerti banyak hal. Pembelajaran yang baik adalah yang sama-sama bahagia, diterima dengan ceria dan gembira.

Insya Allah besok-besoknya saya semakin kuat berpuasa seiring waktu. Niat yang kuat akan dibarengi dengan usaha yang giat. Betapa banyaknya tips bagi ibu menyusui di mana-mana yang bisa dicoba dan dipraktekkan di rumah-rumah kita.

Berpuasa insya Allah menguatkan, bukan malah membebani. Puasa itu menyehatkan, bukan memberi rasa sakit yang bertubi-tubi. Semoga amalan di ramadan kali ini bisa kita raih dengan tawadhu’ dan istiqomah, yaa..

Selamat berpuasa Ibu-ibu. Gimana cerita ramadannya kali ini?