Browsing Tag

hamil lagi

Cerita Bunda

Mengenalkan Abang Bayi Pada Calon Adiknya

cutdekayi.com - mengenalkan abang bayi pada calon adiknya

Jumat, 11 November 2016

Terhitung hingga hari ini, alhamdulillah usia kandungan saya sudah 30 minggu. Kondisi janin baru saya periksakan di dokter kandungan tiga minggu yang lalu. Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Proses Nursing While Pregnant yang saya jalani untuk Kizain pun tidak memengaruhi ketuban dan sejauh ini lancar-lancar saja. Terbukti dengan pernyataan dokter tentang air ketuban saya yang banyak. Bagaimana dengan kontraksi ringan yang saya rasakan? Kontraksi itu tetap ada dan Kizain seakan mengerti kalau dia akan segera menjadi abang.

Baca : Hari Lahir Kizain

Saat mengetahui hamil di usia kandungan 14 minggu yang lalu, saya berusaha tetap menyayangi Kizain sepenuhnya tanpa menyesali kehadiran calon adiknya. Saya menyayangi mereka berdua sesuai porsi yang Allah beri. Mereka memiliki tempat sendiri-sendiri di hati saya tanpa saling menyikut dan membandingkan. Namun tetap, pelan-pelan saya mulai memperkenalkan Kizain pada calon adiknya.

cutdekayi.com - mengenalkan abang bayi pada calon adiknya 2

Hasil Usg Adiknya Kizain

Gimana Cara Mengenalkan Bayi 12 Bulan pada Calon Adik?
Setiap ibu pasti punya cara tersendiri karena mereka yang paling memahami kondisi anaknya. Begitupun saya. Dengan kekurangan ilmu yang saya miliki, saya tetap harus memulai perkenalan mereka.

1. Memanggil Kizain dengan Sebutan Abang

Sebenarnya panggilan Abang ini adalah panggilan sayang saya untuk suami. Namun, sejak Kizain sudah mulai ngoceh-ngoceh, saya memanggil suami dengan sebutan Ayah dan suami memanggil saya dengan sebutan Bunda. Karena sampai detik ini Kizain memanggil Ayah dengan sebutan ‘Abah’, begitu pula ketika memanggil setiap orang yang lebih besar dari dirinya. Jadi, pelan-pelan saya mulai mengajarkan panggilan Ayah dan memanggil Kizain sebutan Abang.

2. Mengajak Mengelus Adik Janin

Saat proses menyusui berlangsung, kadang Kizain masih suka menaikkan kaki ke atas perut saya. Atau meletakkan tangan di atas perut saya. Hal itu saya manfaatkan untuk mengeluskan jemarinya di atas perut sambil berseru, ‘sayang adik..sayang adik.’ dan ketika kemudian adiknya membalas dengan gerakan, Kizain melihat saya dan tertawa. Kemudian melihat ke perut dan menciumnya. Saya berkata, ‘Ada adik di dalam, ya bang?’ dan dia guling-guling sambil tertawa. 

3. Membelikan Mainan Tidak Hanya Satu

Setiap mainan Kizain tidak pernah saya belikan satu. Selalu dua. Jadi ketika proses bermain sedang berlangsung, kadang saya juga ikut bermain dengan mainan yang satunya. Agar ketika nanti adiknya lahir, dia terbiasa untuk bermain bersama dan tidak ada proses rebut-rebutan terjadi. Sejauh ini proses rebutan dengan saya atau ayahnya terjadi hanya ketika kami sedang memegang remote Ac (yaiyalah remote Ac cuma satu). :’D

4. Mengajak Berdiskusi Soal Adik, Baik Nama, Pemilihan Baju, dll

Lucu aja gitu ya mengajak anak 12 bulan ngomong dan dibalas dengan ocehan abrakadabra. Tapi saya suka! Saya anggap Kizain mengerti dan turut andil ketika saya ajak berbicara. Setiap ocehannya saya balas lagi dengan kalimat yang fasih, bukan kalimat yang ga jelas. Dan alhamdulillah, Kizain senang sekali setiap saya bertanya, ‘nanti pas adik lahir, kita kasih nama ini ya, nak?’ atau ‘Kizain mau belikan bantal warna apa buat adik?’ :)

cutdekayi.com - mengenalkan bayi pada calon adiknya 2

Alhamdulillah kini Kizain sudah lancar berjalan. Bahkan tak tertutup sesekali ia berlari meski terjatuh dalam posisi merangkak. Tapi dengan bisanya Kizain berjalan, saya jadi jarang menggendong (karena memang perut inipun sudah semakin membuncit) dan alhamdulillah Kizain tidak melulu minta gendong, kecuali dalam keadaan tertentu, seperti takut atau terkejut.

Beruntung saya bergabung di dalam sebuah grup The Sundulers Parents di Facebook, di sana saya belajar banyak dari ibu-ibu yang sudah lebih dulu berpengalaman hamil jarak dekat. Seperti misalnya, tidak boleh sedikit-sedikit membawa-bawa adik janin jika bunda sedang capek. Karena itu akan memengaruhi psikologisnya yang masih butuh banyak perhatian. Jadi, dialihkan saja dengan berbagai hal, misalnya capek bermain sambil duduk, bisa diganti dengan berbaring dan membaca buku :)

Alhamdulillah, proses kehamilan yang saya jalani sampai detik ini nyaman-nyaman saja. Kizainpun riang dan jarang sekali rewel. Cuma maunya deket sayaaaaa aja. Dan saya anggap ini adalah proses ‘penerimaan’ akan kehadiran adiknya.

Baca: Alasan Rindu Hamil Lagi

Terkadang pikiran takut, kacau, mumet, hebring dan sebagainya seringkali datang silih berganti. Bagaimana jika malam saat Kizain tidur lalu adiknya menangis dan Kizain mendada terbangun, apakah harus begadang? (mengingat dulu saat Kizain newborn dia tidak pernah mengajak ayah bundanya begadang). Apakah nanti Kizain bisa tidur tanpa deket-deket bundanya? Apakah nanti Kizain minta gendong sementara proses jahitan belum kering?

Tapi suami saya selalu berkata bahwa jangan berfikiran yang belum terjadi. Apalagi fikirannya sampai membebani. Seakan-akan kita tidak percaya dengan kesanggupan yang menurut Allah sanggup, maka kita dikasih amanah seperti ini. Seakan-akan kita lupa kasih sayang Allah begitu luas dan menyejukkan. Masya Allah, iya bener juga ya? Saya takut jatuhnya nanti akan kufur. Padahal syukur itu sendiri sudah menenangkan. Sabar dan sholat menjadi penjaga agar tetap dalam keadaan waras.

Mohon bantu kami ya Allah, untuk menjadi suami istri yang terus berkasih sayang, menjadi ayah dan bunda yang mampu mendidik generasi Rabbani dan mendapat syafaat RasulMu di hari akhir nanti.

Salam sayang selalu untuk Ibu-ibu yang terus berjuang membahagiakan dirinya,

Bunda Kizain