Browsing Tag

aceh

Kompetisi

Jangan Baper, 3 Hal Ini Cuma Ada di Sabang

IMG-20171111-WA0033

Berbicara tentang keindahan Sabang dan daya tarik pariwisata, rasanya tak pernah bosan dituturkan. Keanekaragaman fauna yang tersebar di beberapa titik laut Sabang membuat turis ingin menceburkan diri dalam keelokan pesonanya. Belum lagi wisata pantai yang tersebar di hampir semua titik Kota Sabang. Lantas, apa yang membuat Sabang begitu menarik ingin dikunjungi tak terkecuali bagi wisatawan di negeri sendiri?

Continue Reading

keluarga

Anakku, Terimakasih Sudah Mengerti

IMG_20160202_181851

Beberapa hari belakangan, aku mulai disibukkan dengan aktivitas kuliah. Mulai merancang power point presentasi untuk tugas kelompok dan sibuk membaca ulang bahan yang telah diberikan. Lumayan, semangat diawal harus tetap dipompa agar terjaga hingga akhir.

Selama kuliah, aku meninggalkan anakku yang masih 3 bulan di rumah. Anakku yang masih ASI ekslusif itu harus berjuang minum ASIP yang kuperah dini hari dan pagi buta. Aku kurang yakin dengan ASIP yang telah lama di dalam kulkas, jadi aku berusaha untuk memberikan asi segar kepada Kizain. Kalaupun harus masuk kulkas, kuusahakan agar tidak lebih dari semalam saja.

Awal-awal pemberian ASIP, Kizain menolak. Dotnya digigit, geram. Berkali-kali dilepeh dengan lidahnya dan memalingkan wajah. Jujur, aku bingung dan sedih. Aku khawatir Kizain akan kehausan selama kutinggal ke kampus.

Pelan-pelan kubujuk saat Kizain tengah menyusu padaku. Kuberitau bahwa ibunya harus berpendidikan. Maka dari itu ibu melanjutkan kuliah.

Kizain menatap mataku. Sayu. Aku terenyuh. Matanya seakan berbicara, sekejap kemudian ia tertidur pulas. Kututup malam dengan mengadu resahku pada Yang Maha Segala.

Esoknya, hari pertamaku kuliah. Berbekal keyakinan dan helaan nafas panjang, kutinggalkan Kizain dengan ASIP seadanya. Hanya 50ml saja.

Selama tiga jam aku pergi, hatiku berusaha untuk tenang dan tidak berpikiran macam-macam. Sepanjang perjalanan, aku melamun. Membayangkan buah hatiku tengah minum ASIP dan tertidur.

Tak lama, HPku berdering. Sms dari suamiku. Beliau mengabarkan bahwa Kizain sudah tidur lelap. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Setelah bangun Shubuh hari, Kizain akan minta tidur di jam 8pagi dan terbangun jam 10pagi.

Hatiku sedikit lega dan berharap Kizain tidur agak lama, minimal ia terbangun saat aku pulang nanti.

Sepulang kuliah, kudengar ocehan anakku. Segera kutemui dirinya. Rasa rindu yang membuncah sudah tak mampu lagi kutahan.

Ya, Kizain sudah bangun. Dia tertawa, sedang bermain dengan suamiku. ASIP tersisa 10ml lagi.

“Hallo bunda, kami lagi bermain lho.. Oh iya tadi awalnya dia ngga mau minum, De. Nangis kencang dan pengen digendong terus. Abang ajakkin dia ngobrol kalo bunda sedang berjuang, jadi Kizain juga harus berjuang. Nanti pulang bunda kuliah, Kizain boleh minum ASI langsung sama bunda. Dia mau minum ASIPnya, walau masih bersisa. Padahal tidurnya tadi cuma 20 menit saja,” kata suamiku sambil mengaduh, sebab janggutnya ditarik tangan mungil anakku.

“Alhamdulillah. Gapapa asal bisa mengganjal perutnya. Assalamualaikum Kizain anak sholehkuuu…” segera kutemui dia dan tersenyum, terharu. Ingin sekali kudekap tubuhnya. Namun kuurungkan. Kebiasaan kita ketika pulang dari mana-mana adalah tidak menyentuh dan mencium anak sampai mencuci tangan, wajah dan kaki.

Kizain membalas senyumku kemudian menangis. Eu, dia haus.

Kucuci tangan dan muka serta berganti baju untuk segera menyusui anakku. Dia pun minum dengan baik dan tertidur pulas.

Terimakasih anakku, atas pengertianmu.. Mengerti kalau bundamu masih berstatus mahasiswi. Mengerti kalau bundamu lelah dan rewelmu tak pernah berkepanjangan. Mengerti kalau bundamu terkadang tidak mengajakmu berbicara lantaran tengah membuat tugas. Mengerti kalau kuajak jalan-jalan sehingga tidur sepanjang perjalanan. Mengerti kalau malam waktunya tidur, sehingga kau tak begadang. Mengerti kalau ayah dan bunda sedang berbicara dan kau diam mendengarkan. Mengerti kalau menangis, membuat hatiku susah. Mengerti kalau kau tersenyum, membuat lelahku hilang seketika. Mengerti kalau hadirmu buat duniaku berwarna. Mengerti kalau kau adalah investasi akhirat kedua orangtua.

Bunda sayang Kizain karena Allah, nak.

 

Banda Aceh, 4 Februari 2016