Cerita Bunda

Tips Sukses Menyusui Selama Hamil (Nursing While Pregnant)

Nursing While Pregnant (NWP) adalah menyusui anak yang masih dibawah 24 bulan dalam kondisi hamil anak berikutnya. Dan saya diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan nikmatnya NWP pada anak pertama saya hingga menjelang kelahiran anak kedua.

Tepat 3 bulan setelah melahirkan Kizain, saya haid lagi. Dan saya tidak memutuskan memakai alat kontrasepsi karena banyak alasan. Saya pikir, menyusui adalah kontrasepsi alami, jadi selama anak saya menyusu, maka saya tidak akan hamil dulu. Minimal sampai terpenuhi 2 tahun penuh ngASI-nya. Namun, Allah berkehendak lain. Saya diizinkan mengandung dan merasakan nikmatnya hamil lagi saat anak pertama saya berusia 6,5 bulan. Saat di mana saya baru berkutat dengan MPASI yang beragam. Dan alhamdulillah, saya bisa menyajikan MPASI ala-ala hingga usianya 9 bulan. Menginjak usia 10 bulan, anak saya sudah tidak suka nasi lembek lagi karena gigi atasnya sudah tumbuh dua (dua gigi bawah tumbuh saat berusia 4 bulan). Dia lebih senang makan makanan yang berstektur daripada tidak, untuk menunjang ‘gatal’ gusinya.

baca: Mengetahui Hamil Anak Kedua

baca: Mengenalkan Abang Pada Adiknya

Saat saya dinyatakan hamil lagi, kandungan sudah menginjak usia 12 minggu. Dan selama 12 minggu itu saya tetap menyusui Kizain, anak pertama saya, seperti biasa. Mual, muntah dan segala rasa eneg selama hamil Kizain dulu, tidak terjadi pada kehamilan kedua. Saya malah bisa beraktivitas yang lebih dari kehamilan pertama.Dan alhamdulillah, segala proses menyusui selama hamil hingga menjelang melahirkan saya jalani dengan memerhatikan beberapa catatan kecil. Saya rasa catatan kecil inilah yang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang melewati masa-masa nursing while pregnant (NWP). Saya belum bisa menyatakan diri sukses melewati nwp, karena emosi betul-betul harus dijaga sekali. Tidak jarang, saya mengabaikan Kizain ketika rasa “malas” muncul. Jika sudah begini, saya meminta tolong suami untuk menenangkannya. Namun, saya yakin Allah tak melihat hasil, tapi melihat proses. Hingga selesai masa NWP, dan saya terharu luar biasa.

sukses nursing while pregnant - cutdekayi

Diantara beberapa catatan kecil itu adalah:

1. Memastikan Kondisi Bayi baik di dalam kandungan, ketika memutuskan untuk melakukan NWP, maka libatkan dokter (yang juga konselor menyusui) sebagai tenaga ahli yang mengetahui perkembangan janin di dalam kandungan. Selama dokter menyatakan tidak apa-apa melanjutkan menyusui, maka lanjutkanlah dengan bismillah.

2. Konsumsi Makanan Sehat Bergizi (yang kita suka) Secukupnya, selama hamil kita akan berbagi nutrisi dengan janin. Terlebih lagi jika nwp terjadi. Jadi, pastikan asupan yang kita makan cukup untuk diri juga anak-anak kita. Beruntung, saat hamil anak kedua, saya tidak merasa eneg jika makan ikan. Namun jika eneg juga bagaimana? Sumper protein bukan ikan saja, ya kan? Bisa diakali dengan makanan yang mengandung protein lainnya. Saya ingat sekali pesan dokter kandungan untuk menghadapi mual adalah makan makanan apapun yang disukai. Tidak ada larangan. Saat ngemilpun tidak pernah saya lewatkan dan lupakan soal timbangan. Karena nyatanya saat mengandung anak kedua, saya hanya bertambah 7 kg saja padahal makan saya banyak, lho. Hehehe.

3. Penuhi Hari Dengan Dukungan Suami, duh beruntunglah kita memiliki suami yang menjadi Ayah ASI. Mengapa? karena suami adalah teman terdekat kita menjalani hari-hari. Jika orang terdekat kita tidak mendukung, maka yakinlah kita akan susah survive sendirian menghadapi banyaknya komentar kiri kanan. Karena suami mengedepanka logika daripada perasaan, urusan komentar miring suruh suami di depan toh gimanapun dia ga akan baper, kan? Hihihi. Bentuk dukungan lainnya bisa dengan membantu mengurus anak pertama jika kita sedang kelelahan, membelikan makanan kesukaan hingga mengajak refreshing dari segala penat.

4. Penuhi Pikiran dengan “Allah Pasti Mencukupkan”, Allah yang memberi Allah pula yang akan menunjukkan jalannya. Anak adalah amanah Allah, Allah akan memberi rezeki pada mereka dan mencukupkannya. Kita hanyalah pemain dalam skenario Allah. Di penghujung kehamilan akan tiba masa “ASI KERING”, sekali lagi saya berpegang dengan landasan bahwa usia di atas 1 tahun, menyusui adalah masa ia mencari kenyamanan dan ketenangan. Bukan untuk kenyang lagi. Jadi, direct breastfeeding adalah masa dia untuk menenangkan diri. Lupakan soal kekurangan ASI. Karena nutrisinya insya Allah akan cukup dari makanan sehari-hari.

5. Baca Pengalaman Orang yang Sukses NWP, cara terakhir adalah saya meminta teman yang sukses NWP untuk berbagi pengalamannya. Jadi, dengan sendirinya hati akan mantap untuk melanjutkan NWP di tengah badai sapih secara paksa. Percayalah, emosi kita dituntut untuk selalu sabar dan sabar. Di tengah kerewelan anak dan ada ‘rasa’ malas menyusui bayi ketika perut terus membuncit.

Tepat di usia Kizain 14 bulan, saya mulai mengenalkan susu UHT. Hal ini saya lakukan karena saya yang harus lahiran SC, pasti akan menjalani masa recovery dan menekan laju timbulnya baby blues. Adakah masa Kizain menolak menyusu? Ada! Ketika dimana air susu saya sering saat mendekati hari lahiran. Maka uht menjadi teman Kizain (tapi tidak rutin karena dia sudah saya ajarkan tidur dengan kondisi yang tidak harus minum susu ketika menuju tidur. Yang penting saya harus selalu memastikan kondisi Kizain dalam keadaan kenyang. Bahkan tidak menutup kemungkinan dia tertidur sambil makan. :’D Sekali dua kali dia ingin direct breastfeeding ketika akan melahirkan, namun dia tidak lagi menyusu. Hanya mendekati dan kemudian tertidur.

sukses nursing while pregnant - cutdekayi.com

Setelah melahirkan, Kizain sama sekali tidak mau menyusu. Sayapun melakukan relaktasi yang luar biasa sabar dan penuh emosi. Hahaha. Cara yang saya lakukan adalah saya tidak menyediakan uht lagi dan ketika dia menangis haus malam hari, saya mendekat untuk melakukan direct breastfeeding, sekali dua kali ia menolak. Maka saya suapkan ia dengan ASIP. Rengekan hingga teriakan dilalui dengan lapang dada. Namun di kali ke sekian akhirnya ia mau meski awalnya ragu dan kayak merasa jijik. Bahkan ketika adiknya pulang dari RS, Kizain ikut menyusu (meski hanya sebentar) saat adiknya menyusu pula. Kadang saat dalam keadaan sadar, ia terheran-heran.:D Dan kini hingga usianya 18 bulan (sudah 3 bulan sejak relaktasi), saya masih berusaha untuk tetap menyediakan ASI yang ia inginkan. Saya tidak lagi menawarkan, melainkan menunggu ia meminta baru saya berikan.

Walaupun tidak selalu directbreastfeeding, saya berjanji pada diri untuk tetap memberikan ASI dengan media-media pembantu lainnya.

Sejak relaktasi, Kizain memang tidak lagi terlalu bergantung pada direct breastfeeding. Bahkan sekarang, dalam sehari ia bisa lupa untuk menyusu. Yang penting dekat dengan bundanya selama menuju tidur dan selama tidur, ia sudah tenang. Apakah Kizain akan disapih sebelum berusia 24 bulan? Apakah kami berdua siap? Wallahualam. Saya sebagai Ibu hanya bisa berproses dan berdoa. Semoga bagaimanapun ke depannya, Allah terus berikan kesehatan untuk kedua anak saya.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply