Kompetisi

Suka Duka Membangun Perusahaan Digital di Aceh

suka duka membangun perusahaan digital di aceh

Ingin mendapatkan tool dan tutorial pemrograman gratis? Kunjungi Intel Developer Zone http://sh.teknojurnal.com/witidz

Pengalaman membangun startup di Aceh bersama suami memang penuh suka cita. Apalagi kami yang usia pernikahan belum terlalu lama, sudah dihadapkan dengan kerasnya merintis usaha yang dimulai dengan modal seadanya.

Beberapa tahun sebelum menikah, abang (suami saya) sudah lebih dulu membangun usaha nonformalnya yang bernama AAC Studio. Jasanya tidak lain seputar web design dan pembuatan aplikasi, serta animasi yang pasarnya memang masih baru di Aceh. Namun setelah menikah, ia memilih untuk membawa nafas segar dengan mendirikan startup baru bernama Gumugu Studio.

Dengan skill yang ia miliki namun dengan modal yang pas-pasan, memilih untuk mempekerjakan pegawai di Gumugu Studio masih menjadi keputusan yang sulit. Saya yang bermodal pengalaman social branding sebelum menikah, hanya bisa membantunya dari segi marketing dan menaikkan branding Gumugu Studio secara bertahap tanpa dibayar. Iya, dong. Saya kan istrinya. Penghasilannya ya untuk saya juga hehe.

Sempat saya tanyakan sebelum usaha ini dimulai, apa arti dari Gumugu Studio? Dan apakah usaha ini akan benar-benar menghidupi kami dan keluarga kecil kami nanti? Sebab keputusannya untuk merintis usaha dan tidak menjadi pegawai kantoran adalah keputusan dengan tanggung jawab yang benar-benar berat. Saya sudah dijadikannya istri dan telah terlepas dari tanggung jawab orang tua saya, yang artinya sepenuhnya kehidupan saya adalah tanggung jawabnya. Apakah hidup kelaparan atau bahagia bersamanya.

“Abang bukan hanya ga suka bekerja sebagai pegawai kantoran, dan bukan pula gaya-gayaan buka perusahaan digital sendiri. Tapi yang abang taruh sekarang adalah hidup adek dan anak kita. Terlalu besar mimpi abang untuk abang lepas begitu aja hanya dengan komentar-komentar negatif dari orang-orang yang tidak paham. Cukup adek saja terus mendoakan abang dan melengkapi mimpi abang, maka tidak ada keraguan bagi abang untuk gagal dalam hal ini.” Jawabnya di suatu waktu ketika aku benar-benar ketakutan dengan pilihan hidupnya.

Awal Mula Membangun Perusahaan Digital

Di awal berdirinya Gumugu Studio, penghasilan kami tidak begitu cukup untuk mendongkrak perusahaan, bahkan untuk kehidupan sehari-hari juga masih pas-pasan. Klien masih hilir mudik, baik yang memang menggunakan jasa kami, sekedar bertanya atau bahkan hilang di percakapan perdana. Bisnis seperti ini di Aceh memang masih sangat sulit. Berbeda dengan di daerah-daerah lainnya seperti Bandung atau Jakarta yang pasarnya sudah sangat baik.

Di Aceh, banyak orang yang punya keinginan untuk menggunakan jasa kami, tapi ketika berhadapan dengan harga (yang sebenarnya lebih murah dari standar jasa yang ditawarkan perusahaan serupa di daerah lain) mereka langsung mundur cantik, bahkan beberapa mencoba menawar seperti sedang berada di pasar tradisional.

Seiring dengan pengalaman kami dalam menghadapi berbagai macam klien, membuat kami terus belajar untuk mengupgrade sumber daya kami sendiri. Karena membuka perusahaan seperti ini bukan hanya dituntut skill produksi, tapi juga skill tawar-menawar, promosi, analisa pasar sampai menghitung laba-rugi yang biasa didapatkan di jurusan ekonomi, yang jauh berbeda dengan studi yang saya ambil sekarang, kedokteran hewan.

Pernah dahulu kami mendapat klien yang ingin mengembangkan media online, yang memang saat itu sedang populer. Namun, di tengah jalan, mereka yang kurang paham menghargai sebuah produk digital, malah menganggap kerjaan bikin website dan social media itu gampang sehingga tidak perlu dibayar mahal.

“Lha, tutorial gratisan kan banyak di internet, pun modal yang bikin gak terlalu banyak, terus kenapa bisa mahal?” Sampai-sampai suatu malam kami terbangun dengan telepon dari mereka yang hanya menanyakan, “Ini tampilannya boleh diubah gak? Saya maunya diubah lagi seperti media online terkenal itu,” dan pertanyaan “Boleh kesini sekarang? Bantu kami perbaiki website ini bersama kami. Kami tunggu di tempat ini sekarang ya”. Seperti itulah pikiran-pikiran klasik mereka hingga akhirnya kami memutuskan untuk menghentikan kontrak sepenuhnya.

Lalu tiga bulan berikutnya sejak Gumugu Studio berdiri, suami saya rela bolak-balik untuk mengurus surat izin usaha. Mulai dari akte pendirian perusahaan, npwp,  izin ini itu dan keperluan administrasi lainnya.

Kamar kami yang tidak terlalu besar kami sulap menjadi perusahaan. Kami membeli sebuah meja dengan dua kursi, dan mendesign dinding ala kadarnya yang kemudian foto kamar ini kami serahkan ke pegawai yang bertugas, -karena memang merupakan salah satu syarat diterbitkannya surat izin usaha-.

Sampai suatu ketika, ketika tim validasi izin mengecek rumah kami, saya dan suami harap-harap cemas. Takut izin tidak diterbitkan perkara kantor yang belum permanen. Sekitar enam orang tiba dan melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang mengecek rumah dan mencocokkannya dengan foto, dan beberapa lainnya bertanya kepada suami saya segala macam hal yang berkaitan dengan usaha kami. Tiga puluh menit kemudian mereka pulang dan sayapun mendatangi suami saya yang terlihat tersenyum lega. Akupun bertanya bagaimana hasilnya, dan ia pun memeluk saya dan berkata, “InsyaAllah Gumugu sebentar lagi punya izin resmi, dek.”

“Masya Allah, Alhamdulillah abang,”

Workshop Animasi Perdana

Animasi yang  menjadi salah satu jasa yang kami sediakan, sekali lagi tidak begitu kondusif untuk diminati di Aceh. Bukannya tidak ada yang suka animasi. Tapi terkadang klien yang datang menawar hanya ratusan ribu rupiah, dengan sekomplit fitur dan cerita yang kalau dikalkulasi, sebenarnya seharga puluhan juta rupiah.

 Terkadang saya takut kalau seringnya kami menolak permintaan dengan harga project yang murah, dapat membuat Gumugu Studio terkesan punya harga tinggi dan tidak ada yang berminat menggunakan jasa kami. Padahal bukan begitu maksud kami.

Saya jadi teringat saat dimana keuangan kami telah mencapai titik nol. Ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan modal di awal, sementara kebutuhan hidup juga harus dipenuhi. Abang terdiam di depan mejanya, dengan layar laptop yang tidak bergeming. Saya tau beban apa yang ia pikirkan, dan sebagai seorang istri inilah saat dimana saya diuji.

Saya membuka cincin pernikahan kami dan menaruhnya di depan Abang. “Kita gadai saja ini bang. Semoga berkah dan bisa tergantikan dengan yang lebih baik.”

Awalnya abang menolak dan bersikeras kalau akan ada jalan lain tanpa perlu menggadai cincin itu. Namun, pada akhirnya pendapatku pun diterima. Walau abang meneteskan air mata sembari memelukku dan berkata, “Maafkan abang ya dek. Abang janji akan kembalikan cincin ini lagi.” Air mataku pun ikut jatuh.

Dengan komitmen dan idealisme yang terus saya dan abang tanamkan, akhirnya beberapa bulan berikutnya terbalas. Sebuah perusahaan swasta menggunakan jasa kami untuk membuat animasi dengan harga yang sepantasnya. Saat itu saya bertugas untuk menjadi penerjemah ide yang diberikan klien dan dibantu abang untuk mengumpulkan referensi dari internet untuk kematangan konsep. Beberapa malam kami lalui dengan tidur telat, yang saat itu sayapun tengah hamil muda.

Beberapa bulan berikutnya, sebagai salah satu media untuk mengenal masyarakat tentang menghargai karya animasi, abang dan saya pun membuat workshop animasi selama satu hari, yang nantinya alumni pelatihan ini menjadi corong untuk kampanye #AyoAnimasikanAceh.

suka duka membangun perusahaan digital di aceh 1

suka duka membangun perusahaan digital di aceh 2

Di awal publikasi, nyaris tidak ada yang mendaftar. Namun, kami percaya rezeki Allah tidak meleset, seminggu sebelum acara terkumpul 8 orang peserta. Abang saat itu memilih mengadakan workshop di hotel dengan alasan kalau hotel lebih terkesan ekslusif, dan sesuai dengan biaya training. Sepenuhnya workshop ini untuk promosi hingga akhirnya kami harus mengeluarkan uang lebih hanya untuk sewa ruangan dan perlengkapan training. Hasilnya ya minus.

Awalnya saya merasa kalau workshop ini hanya menghabiskan uang. Namun, selang beberapa hari sejak training, branding Gumugu Studio sebagai penyedia animasi dan grafis mulai meningkat. Bahkan sekarang kami membuka Divisi Gumugu Academy untuk kelas privat dan sudah meluluskan beberapa orang peserta. Alhamdulillah.

suka duka membangun perusahaan digital di aceh 3

Setelah kelahiran anak pertama kami -Kizain-, Gumugu semakin banyak menerima order. Walau angka yang didapat tidak terlalu banyak, namun sedikit demi sedikit nama Gumugu mulai dikenal masyarakat. Bahkan kini Gumugu menjadi partner visual branding bagi beberapa lembaga pemerintah maupun perusahaan swasta.

Saya yang di awal tadi sama sekali tidak mengerti perusahaan ini akan dibawa ke mana, akhirnya mulai mengerti setelah mengerjakan beberapa project digital bersama abang. Saya kira Gumugu Studio hanya bergerak sekedar menyambut orderan tanpa pernah mencoba untuk fokus pada salah satu jenis usaha saja. Karena kalau terlalu banyak jasa yang kami tawarkan, jujur akan sulit untuk menaikkan branding Gumugu.

Tapi setelah dipelajari, abang membawa Gumugu melewati beberapa jalan terjal untuk satu visi, yaitu penyedia layanan visual branding digital di Aceh. Mulai awalnya design web, terus pivot ke animasi, desain grafis, dan kini menyediakan jasa pembuatan aplikasi, hingga akhirnya ‘Visual branding’ menjadi tagline yang menggawangi jasa-jasa lainnya.

Bertukar peran: Istri-ibu-bagian marketing Gumugu

Di masa awal mendirikan perusahaan digital, saya bisa membantu abang kapan saja. Begadang hingga mencari klien bersama. Namun, semenjak kehadiran Kizain saya meletakkan prioritas mengurusnya di atas pekerjaan-pekerjaan saya lainnya.

Sebagai bagian marketing dari Gumugu Studio, saya lebih aktif kampanye di social media Gumugu Studio. Bahkan, beberapa perusahaan yang mempercayakan akun media sosial dan konten websitenya kini menjadi bagian dari tanggung jawab saya.

Camera 360

Abang juga mengajari saya untuk membuat kontrak penawaran, dan ditambahkan halaman analisis yang berisi penjelasan singkat strategi visual bagi bisnis calon klien. Isinya mencakup permasalahan yang sebenarnya harus dihadapi klien dan bagaimana solusi-solusi kreatif untuk menyelesaikan itu sesuai dengan segmen pasar yang ia ambil.

Permasalahan tiap klien berbeda, sehingga butuh waktu sedikit lebih lama bagi kami untuk menyelesaikan satu persatu permasalahan. Namun, tak menutup kemungkinan jika permasalahan yang dikirimkan sangat urgent, saya usahakan semalam suntuk agar email penawaran sudah terkirim.

Jujur, setelah melahirkan, setengah energi muda saya hilang dan terasa mudah lelah. Saya harus pintar-pintar membagi waktu antara mengurus anak, melayani suami, menyelesaikan pekerjaan di perusahaan digital juga mengikuti mata kuliah di kampus.

Saya selalu berusaha untuk tepat waktu mengupdate media sosial, juga menyelesaikan konten media begitu anak tidur. Saya selalu berusaha untuk memikirkan materinya semalam sebelumnya, jadi ketika esok datang saya tak kelabakan mencari materi lagi.

Begitu ada waktu kosong, saya periksa kembali daftar pekerjaan yang belum terselesaikan. Sesekali menghubungi abang menanyakan apakah ada project yang bisa saya bantu untuk dikerjakan.

Apakah kami bekerja hanya berdua? Tidak.

Alhamdulillah, sejak menjelang Kizain lahir, abang yang memikirkan segala sesuatunya sendiri, membuatnya berpikir bahwa dia butuh tim. Apalagi saat itu Gumugu Studio sedang mengikuti lomba aplikasi tingkat Aceh, dan saya yang seharusnya menjadi anggota tim harus mundur karena sedang menunggu hari untuk melahirkan.

suka duka membangun perusahaan digital di aceh 4

Yap, kini Gumugu Studio sudah memiliki tim tersendiri untuk menyelesaikan baik desain web, aplikasi, dan animasi. Kini, abang sesekali saja ikut terlibat, selebihnya abang memilih untuk bertemu klien baru dan membuka relasi.

Sedangkan saya? Saya tetap berjuang mengedepankan personal branding baik Gumugu Studio itu sendiri maupun beberapa pengerjaan kontrak yang belum habis masanya. Ya, saya tetap memegang peranan di dunia marketing merangkap bendahara CV. Gumugu Studio.

Menyenangkan? Sangat menyenangkan. Beberapa kali harus menyusui Kizain sembari menyelesaikan kontrak kerja. Membaca materi kuliah sambil menulis kontrak kerja. Kizain seakan mengerti, dia tak pernah rewel berkepanjangan.

Intinya adalah jadi perempuan di era sekarang ini, jangan mau didikte teknologi. Tapi, biarkan kita yang mengontrol mereka, sehingga kita tidak merasa terbebani meski saban hari bertemu itu lagi itu lagi. Sudah siap menerima dunia kita sekarang ini?

Lupakan soal dikejar waktu, dikejar deadline dan kerempongan mengurus anak. Segala sesuatunya itu akan seimbang jika kita tau cara membagi waktu dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bagaimanapun, keluarga adalah prioritas. Namun bagaimana caranya agar kita tetap eksis di dunia pekerjaan? Yakni totalitas.

 Jadi…

“Dek, sudah siap mulai project besar kita yang sesungguhnya?” katanya sambil memeluk saya yang sedang menimang-nimang anaknya.

Banda Aceh, 22 April 2016

@cutdekAyi


Intel RealSense

You Might Also Like

40 Comments

  • Reply
    ketapelkecil
    23 April 2016 at 09:43

    masya Allah :) semangaaat ay ^^/

  • Reply
    Khoirur Rohmah
    23 April 2016 at 09:57

    Subhanallah…
    semoga usahanya mbak Ayi senantiasa dilancarkan ya mbak
    salut banget sama mbak Ayi ^_^

    • Reply
      cutdekayi
      24 April 2016 at 08:59

      Aamiin allahumma aamiin, insyaAllah mbak.. Perlu banyak usaha dan terus semangat hihi

  • Reply
    Ayu Ningtas
    23 April 2016 at 10:32

    Masyaallah, luar biasa sekali perjuangannya, merintis dari nol berdua memang rasanya lebih nikmat yaa.. Semoga Gumugu semakin sukses ya, Ayi, makin lancar rejekinya :)

    • Reply
      cutdekayi
      24 April 2016 at 09:00

      Mba ayuuu makasih ya mbak. Iya mbak, padahal awalnya sempet suruh abang daftar PNS aja tapi abang keukeh pengen jd wirausaha ya sbg istri yg baik harus menyupport, hiaat 😤😤😤

      Aamiin allahumma aamiin..

  • Reply
    Lidha Maul
    23 April 2016 at 12:22

    Salam sukses ya buat Gumugu :) Saya mau dong jadi bagian Gumugu *emang.ngerti?*
    Eh, itu ending napa bikin penasaran sih, olala project apa yaaa… 😀 ;D

    • Reply
      cutdekayi
      24 April 2016 at 09:01

      Rahasia Gumugu dooong. Hahaha doain ya Mba Lidha semoga Gumugu jadi problem solvernya permasalahan umat *halaahh*

  • Reply
    Agung Rangga
    23 April 2016 at 17:40

    keren bangeeet!!!
    semoga Gumugu Studio semakin maju dan semua usahanya berjalan lancar ya mbak. 😀

    • Reply
      cutdekayi
      24 April 2016 at 09:02

      Aamiin thankyu Agung sudah mampir 😀

  • Reply
    farah febriani
    24 April 2016 at 04:09

    suka baca tulisannya kak ai
    disarankan untuk segera punya buku kak
    insya Allah laris..bisa nambah pemasukan juga ^^

    • Reply
      cutdekayi
      24 April 2016 at 09:06

      Mungkin belum sekarang, Farah. Sedang menikmati dunia teknologi, nih nyambi ngurus anak dan kuliah juga. Nulis buku mungkin bisa dimulai dari ngedraft kali ya? Hihi thankyou sarannya :)

  • Reply
    cutdekayi
    24 April 2016 at 08:57

    Aamiin, terimakasih Kak Lissa :)

  • Reply
    Yofani
    24 April 2016 at 10:49

    Masya Allah…
    keren euy

  • Reply
    Fakhruddin
    24 April 2016 at 12:07

    Wah keren usahanya, Usaha digital memang memprihatinkan :-) Mmm… Dunia IT sih secara keseluruhan begitu. Kebetulan saya bekerja di divisi IT salah satu perusahaan.

    • Reply
      cutdekayi
      25 April 2016 at 08:32

      Iya, mas. Mohon doanya semoga Gumugu semakin berkembang baik ya mas. :)

  • Reply
    evrinasp
    24 April 2016 at 17:58

    wuah keren mbak mendirikan perusahaan digital sendiri, cocok nih temanya, good luck

    • Reply
      cutdekayi
      25 April 2016 at 08:33

      Iya, mbak. Karena terfikir untuk punya perusahaan sendiri. Terimakasih mba evrina :)

  • Reply
    Mira
    25 April 2016 at 09:57

    terharu bacanya.. smoga selalu diberkahi usahanya, keluarga ayi dan aslan juga :)

    kk dan kawan2 juga udah planing buka sejenis startup, tapi karena kesibukan masing2, belum beres sampe sekarang

    • Reply
      cutdekayi
      26 April 2016 at 01:57

      Aamiin makasih doanya kak mira :)

      Hmm startup di aceh,kak? Ayuk semangat biar aceh terkenal dg kreatifnya juga!!

  • Reply
    Yulia
    25 April 2016 at 23:19

    Waaah… keren Cut.. semoga usahanya sukses ya.. biar say kecipratan hihihi

    • Reply
      cutdekayi
      26 April 2016 at 01:58

      Aamiin mba yul, hihihi kecipratan kebaikan ya mbaa

  • Reply
    Anisa AE
    26 April 2016 at 08:21

    Waaah perjuangan yang luar biasa, ya? 😀 Pasangan kompak yang patut dapat 10 jempol. 😀

  • Reply
    @nurulrahma
    26 April 2016 at 09:04

    aku mlongoooo baca tulisan ini!
    Kalian berdua super duper WOW! Semoga keberkahan dan rejeki melimpah untuk mbak dan suami yah :)

  • Reply
    @dodon_jerry
    26 April 2016 at 14:44

    keren kak ayi. lanjutkan terus! indonesia butuh orang yang mau berbagi :)

  • Reply
    Ipeh
    26 April 2016 at 18:24

    Adek tetap semangat ya!!! Semoga gumugu nanti bisa bikin workshop di Jakarta kerja sama dengan blogger biar bisa belajar bikin animasi

  • Reply
    Susindra
    27 April 2016 at 07:14

    Intinya adalah jadi perempuan di era sekarang ini, jangan mau didikte teknologi. Tapi, biarkan kita yang mengontrol mereka, sehingga kita tidak merasa terbebani meski saban hari bertemu itu lagi itu lagi.

    Ini kesimpulan luar biasa di antara cerita-cerita yang luar biasa. SUkses untuk Gemugu

  • Reply
    cputriarty
    27 April 2016 at 11:56

    Keren nih pasangan muda yang bisa semangat dan berkarya lebih untuk bangsa n tanah air. Salut sama dirimu mbak dan keluarga. Sukses ya untuk kontes lombanya. The best wishes for u ^_^

  • Reply
    Dewi Ratih
    28 April 2016 at 07:07

    Wah betul2 pasangan muda pengusaha nan muda belia :D, keren… Ini cerita teknologi dlm balutan script ftv romantis ya Ai? Hihihi… Semoga sukses dan lancar selalu usaha dan kehidupan berkeluarganya ya Ai

  • Reply
    apri ani
    29 April 2016 at 15:04

    Tulisannya bagus. Selamat ya mbak jadi juara 1

  • Reply
    kania
    29 April 2016 at 23:24

    Wah keren Ayi, semoga makin sukses dan berkahh ya dengan Gumugu Studio-nya :)

  • Reply
    yelli sustarina
    30 April 2016 at 06:08

    Wah,,, keren banget kak Ayi,,, cerita a sangat menginspirasi,,, semoga usahanya tetap sukses n berkembang terus,,,! :)

  • Reply
    Rach Alida Bahaweres
    1 May 2016 at 12:08

    Mba Ayi, selamat ya tulisannya keren. Menginspirasi bagi sayaa :)
    Sukses selaluu…

  • Reply
    RafliMustaqim
    5 May 2016 at 15:30

    Subhanallah.. Setiap kali membaca kisah kalian menggetarkan perasaan saya. Saat ini ada banyak hal yang saya rencanakan dan kalian begitu menginspirasi.. Terus tinggalkan cerita. Mudah2an suatu saat saya bisa meninggalkan sepenggal cerita yang barangkali bisa seperti kalian. Saya tunggu ceritanya lagi.. Assalamualaikum..

  • Reply
    almukhlis
    6 May 2016 at 13:42

    Terbaiiiiiik Gomugunyaaa…

  • Reply
    Tetty Hermawati
    6 May 2016 at 14:43

    hwa, sama nih aku jg dulu gadein cincin nikah buat usaha.. dan alhamdulillah kembali lagi.. usaha brg suami itu emang penuh suka duka.. semangattt

  • Reply
    inda chakim
    20 May 2016 at 22:10

    terharu bacanya mbk ay…
    duuhh, kalian emang super duper semangatnya, pantang menyerah.
    smoga makin sukses gumugu studionya yak. amiiiiinnnnnn

  • Reply
    Irly
    31 May 2016 at 12:11

    Aahh.. Maaf baru sempat BW
    Ini post yang menang kemarin kan?
    Selamat!! Tim tangguh yang sudah teruji kalian..

    Semoga Gumugu semakin berkembang dan menuai rizki dan berkah berlipat yaaa!^^

  • Reply
    Syarifah Aini
    26 June 2016 at 09:59

    Ayiii.. kereeen. Kaak baru sempat BW. Ini yang menang lomba kemarin ya. Selamat buat Ayi dan Aslan.

  • Leave a Reply to Mira Cancel Reply