pregnancy

Kisah Kehamilanku

Suatu hari, aku mengikuti sebuah pelatihan yang mengharuskan diri menginap beberapa malam. Awalnya abang ngga ngasih izin karena belum sanggup tidur tanpaku walau sebentar. Rindu. Begitulah bahasa lainnya.

Yang menjadi pertimbangan lainnya adalah saat itu aku tengah berbadan dua, baru saja masuk trimester kedua. Sehingga beliau terlampau khawatir. Takut makanku kurang, tidurku tak nyenyak dan segala ketakutan lainnya. Namun aku berusaha meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Meski berat, ia pun mengizinkan dengan banyak sekali pesan perjalanan.
Selama di sana, aku dan peserta lainnya mengikuti 10 materi. Masing-masing materi berdurasi 1-2jam. Belum lagi diskusi, atau pemateri menambah-nambahkan waktu sendiri. Acara berlangsung selama 3 hari dua malam. Masuk ruangan dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir kira-kira pukul 23.00-23.30 WIB.

Saat itu aku tengah hamil 4 bulan. Bobot perut belum terlalu berat, namun aku sudah merasa sakit pada punggung jika terlalu lama dalam posisi duduk. Pun semenjak hamil, aku jadi sering mengantuk dan selalu ingin berbaring. Males-malesan, ceritanya. Katanya panitia keseluruhan tau kalo ada peserta yang lagi hamil, tapi ngga tau kalo orangnya adalah aku. Peserta yang tau juga hanya beberapa orang, itupun karena rajin kepoin aku di media sosial kali ya, hehehe (narsis.com). Jadilah aku berusaha bersikap manis tanpa mengganggu siapapun di awal-awal materi dimulai.

Materi perdana dimulai pukul 20.30 WIB di hari pertama malam kedua. Dengan mata kriyep-kriyep (maklum kalo di rumah jam segini sudah tepar), aku berusaha agar anteng duduk di kursi hingga pemateri selesai memberi apa yang seharusnya diberi. Aku haus di tengah perjalanan. Minta izin ke panitia buat minum, tapi panitia ga standby di TKP. Dengan menundukkan kepala, aku mencuri-curi waktu untuk minum susu hamil yang diwanti-wanti Abang untuk di bawa. Selanjutnya aku kembali membetulkan posisi duduk dan berkali-kali pula membungkuk-tegakkan badan sebab ternyata punggungku sudah mencapai letihnya  (pada saat itu aku kebagian kursi paling belakang, dan setelah melalui kejadian malam ini, aku sangat beruntung. Bertekad esok untuk kembali ke kursi ini lagi.)

Alhamdulillah aku bertahan hingga materi-diskusi selesai dan kembali ke kamar dengan lega.

Esok paginya, lanjut materi kedua-ketiga-dan keempat yang dipadatkan mulai pukul 08.00 WIB sampai menjelang dzuhur. Berhubung pemateri kedua sudah tiba di kursi panas, aku yang saat itu telat terpaksa harus duduk di kursi seadanya, kursi nomor dua dari depan. Oow.. Tekadku tak terlaksana.

Selama 1,5 jam materi-diskusi, aku berusaha untuk tetap di posisi nyaman. Berkali-kali izin ke toilet, padahal hanya ingin berdiri sebentar. Tulangku butuh sedikit peregangan. Begitu terus hingga masuk ke materi ke 4. Untung aku tak kelaparan, sebab panitia menyediakan snack dan aqua.

Terhitung teman-temanku sudah duduk selama kurang lebih 3,5 jam. Istirahat hanya ketika pemateri telat sampai. Lumayanlah bisa lompat-lompat sejenak walau hanya 5 menitan. Kalau aku ikuti mereka, wah pingganggu bisa copot rasanya. Belum lagi perut terjepit sebab posisi kursi dan meja yang sempit dan berdekatan, sikut-ketemu sikut antar 1 kawan dengan kawan di sebelahan. Tuhan, kuatkan aku dan teman-teman seperjuangan. Berkali-kali kubayangkan Asma’ binti Abubakar, Ibuku tercinta dan Ibu hebat lainnya di luar sana~ Aku juga baru menyadari mengapa di angkutan kota ibu hamil lebih diutamakan untuk duduk daripada bapak-bapak. Atau di tempat-tempat di mana kujumpai ibu hamil, mereka bebas menyandar dan selonjoran. Aku baru tau rasa pegel saat hamil itu bagaimana.

Pemateri ke 4 tiba dan langsung buka powerpoint. Baru pembukaan, blasst!! Lampu mati. Ac mati. Pintu yang sedari awal tertutup, dibuka oleh panitia biar masuk udara. Kalo tidak, mungkin +/- peserta yang berjumlah 60-an itu sudah sesak nafas. Bagaimana denganku??

15 menit pertama, aku mencoba tegar. Tak ingin dikira anak yang ga kuat dengan asam garam kehidupan. Walau jujur perutku berteriak lapar (lagi), mataku memerah karena ingin menangis, perutku sakit karena duduk terlalu lama, begitu juga tulang punggungku. Kakiku kebas dan rasanya pitam! Tapi kutahan, hingga seorang panitia yang sedang membagikan kue melihatku. Seakan memberi sinyal padanya, dia langsung mendekatiku. Aku berkata dengan suara yang tak ingin didengar siapapun, “Aku ga kuat duduk lagi,” Hwaa…tangisku pecah, air mataku tumpah ruah. Sesenggukan. Seperti anak 5 tahun kehilangan Mamak di pusat perbelanjaan.

Akupun diajak untuk berdiri dan segera di bawa ke kamar untuk berbaring. Sontak hampir semua peserta melihatku. Beberapa ada yang sinis. Miris. Ah, aku ga peduli. Yang penting aku segera mendapatkan kenyamanan, begitupula janinku ini.

Pemateripun melihat, dan panitia menyampaikan, “Peserta sedang hamil, bu. Ga kuat lagi duduk ikut materi.” Air mukanya berubah panik. Ia ikut membawaku keluar ruangan dan berkali-kali bertanya, “Masih kuat jalan atau tidak?”

Aku menangis lagi. Terharu. Kangen Bunda, hiks.
Aku bersyukur pemateri saat ini adalah seorang ibu-ibu yang aku yakin sangat mengerti kondisiku. Terlebih ternyata si Ibu kenal banget sama Bundaku, hehehe.

Setiba di kamar, aku segera istirahat. Berbaring sambil mengatur nafas dan meluruskan setiap sendiku. Tiba-tiba kamarku diketuk. Ternyata beberapa panitia. Mereka membawa kue sembari bertanya akan keadaanku. Mereka juga mengatakan bahwa aku boleh masuk ruangan 30 menit lebih telat. Dan kalau ndak sanggup ya istirahat saja di kamar. Duh, pengertiannya. Aku jadi terharu (lagi).

Sudah pukul 14.00. Materi ke 5 dan 6 akan segera tayang. Akupun memilih untuk telat 10 menit.

Sesampainya di kelas, materi sudah dimulai. Teman-teman melihat kedatanganku, seperti merasa terganggu. Maaf yah, lain kali ngga gini lagi. Aku segera menuju kursi kosong. Ahamdulillah kebagian di belakang juga akhirnya. Melihat panitia duduk di lantai, aku jadi ingin ikutan. Duduk di kursi membuat tulangku seperti belepotan. Pegel. Sakit. Tapi panitia mengizinkan.
Kali ini, aku janji akan bertahan hingga akhir materi.
Tapi sayang, aku hanya bertahan 40 menit. Selebihnya aku izin duduk di luar karena lagi-lagi lampunya mati. Hingga ke materi berikutnya pun begitu. Aku memilih untuk tidak menyaksikan materi dan berdiam diri di kamar sambil BBM-an sama Abang. Kangen.

Malampun tiba. Materi berikutnya akan segera dimulai. Aku sudah bersiap untuk duduk di lantai hitung-hitung menemani panitia. Kasihan, ga dapat kursi ya kan.
Di tengah asik selonjoran, masuk beberapa kakak yang aku yakin ilmunya sudah high class banget. Toh ga jadi peserta lagi. Dia juga masuknya grasak grusuk, ribut! Langsung menuju ke tempatku duduk dan berbincang dengan temannya. Kutaksir mereka sekufu. Jadi ngga roaming kalo berbicara.

Beberapa menit setelah ketibaannya, sepertinya dia baru sadar aku bukan panitia. Dia pun bertanya,”Kenapa ga di kursi dek?Itu kan kosong.” Dia menunjuk ke kursi kosong yang tepat berada di depanku.
“Oh, ngga papa kak. Di bawah aja.”

Tak kusangka materi habis. Pemimpin panitia masuk ke ruangan. Dengan penuh emosi menanyai kami satu persatu perihal materi yang telah diberikan. Mungkin si kakak kesal karena banyak peserta yang mengantuk. Aku takut. Segera saja menuju kursi yang kosong itu. Hanya beberapa menit aku bertahan. Panitia yang melihatku sudah pucat pasi segera berbisik, menyuruhku untuk duduk di bawah lagi. Akupun mengiyakan.

Si Kakak yang sekufu dengan temannya tadi melihatku lagi. Mungkin dalam fikirannya kok ini anak rempong kali. Kenapa ga duduk aja di atas kursi tu. Aku aja kepengen duduk di kursi. Mungkin gitu kali ya. Tapi kutepis, dan kusenyumi saja si Kakak. Dia mengajakku berbicara.

“Kenapa kok suka kali duduk di bawah? Bukan panitia kan? Jangan mengganggu temannya, dong!” Oh Mai God. Si kakak sinis banget suaranya. Tatapannya juga dengan sebelah mata.
Aku hanya tersenyum dan mengatakan “Iya, gapapa Kak. Di sini lebih nyaman.” Si Kakak tidak memperdulikan, meninggalkanku dan segera keluar ruangan. Peserta yang duduk di depanku melihat kearahku dan si Kakak. Aku malu.

Setelah si Kakak pemimpin panitia yang di depan selesai menyampaikan gundah gulana, kamipun keluar. Aku berpapasan dengan si Kakak sekufu tadi. Kulemparkan senyum. Dia malah memalingkan wajah.

Aku jadi ingat sepenggal nasyid
“Hari ini ia adalah orang yang sangat mengerti akan perasaan hatimu.
Mungkin esok, ia adalah orang yang paling tidak memahamimu.
Janganlah memaksa karena saudaramu juga hanyalah seorang manusia biasa”

Aku melihat kearah perut. Perutku memang belum kelihatan nonjolnya. Masih 4 bulan. Aku mengelus dada, air mataku menetes. Hatiku seperti disayat. Kondisiku yang sudah tidak stabil akibat mata mengantuk, kaki kram dan punggung nyeri-nyeri, membawaku ke pengharuan tingkat tinggi. Aku ingin dipeluk, disayang dan dimanja. Aku ingin dipijit. Aku lelah. Aku kangen Abang. Langsung kuBBM abang dan minta dijemput. Dan Abang sigap ingin jemput walau sudah 23:45 WIB.

Banda Aceh, 28 Juli 2015

You Might Also Like

5 Comments

  • Reply
    Isni wardaton
    28 July 2015 at 00:46

    Semoga ibu dan janinnya selalu sehat yaa :-)

  • Reply
    Nurul Azizah
    29 July 2015 at 11:25

    ayyiiiiii…. hikmah banget ceritanyaa, moga nanti suatu saat klo kakak jumpa ibu muda yang lagi hamil akan diperlakukan lebih lembut… yang sabar yaaa semoga si baby juga ikutan semangat 😉

  • Reply
    Sri Luhur Syastari
    6 February 2016 at 15:10

    Waaa Kak Isni, belum meet up lagi kita ya hehehe

  • Reply
    Sri Luhur Syastari
    6 February 2016 at 15:11

    Makasih, Kakak. Telat bgt ai balas ya hihihi

  • Reply
    Makanan sehat untuk ibu hamil muda
    27 April 2017 at 11:00

    Memang trimester pertama kehamilan adalah masa-masa yang paling rentan bagi ibu hamil muda. Sebaiknya bunda rajin-rajin mempraktekan pola hidup sehat diantaranya dengan selalu mengkonsumsi makanan sehat untuk ibu hamil muda supaya bunda mudah menjalani masa kehamilannya dan tentunya anak dapat lahir dengan sehat dan cerdas.
    terimakasih informasinya bund. Salam kenal.

  • Leave a Reply to Makanan sehat untuk ibu hamil muda Cancel Reply