Kesehatan

Pengalaman Pasang KB IUD (Spiral) di Dokter Kandungan Banda Aceh

0BC87F3D-0D56-4744-AF9C-04A125B48C1F

Siapa di sini yang dari awal nikah belum teredukasi dengan baik soal alat KB? Oke, kita sama. Berbicara perihal KB seakan masih tabu. Jadi ketika dokter menyarankan memasang KB selepas anak pertama lahir, seringkali kita hanya mendengarkan pengalaman teman atau saudara. Jarang meminta edukasi langsung dari ahlinya. Aku pribadi hanya menerka-nerka, Alat KB atau keluarga berencana bukanlah hal yang krusial, dan bisa aku dapatkan infonya seiring waktu.

Iya, bisa. Tapi menyesal, mengapa tak tau dari lama.

Selepas melahirkan Kizain di salah satu RS di Banda Aceh, saya disarankan dokter kandungan tempat saya kontrol bulanan untuk segera memasang KB di hari ke-40 pasca melahirkan. Tapi aku abai, karena menganggap menyusui sejatinya sudah menjadi KB alami.

Tapi tapi, kita kebobolan dan akhirnya di usia anak pertama 14 bulan, aku sudah melahirkan anak kedua.

Dari sini, aku mulai cari info tentang KB yang banyak disarankan orang-orang: Spiral, tentang bagaimana kegunaannya, manfaatnya, cara pasangnya dan yang paling penting biayanya.

Sebab, mau ga mau kita harus punya persiapan mental dan materi agar bisa terlaksana.

Tapi, ditunggu-tunggu ada dana khusus untuk masang, ga hadir juga, mentalpun ga siap-siap, padahal niat udah maksumal. Pada akhirnya di usia anak kedua 18 bulan, aku hamil lagi anak ketiga.

Di tengah segala kekalutan, aku harus tetap  bersyukur kan, ya? Iya, biar ga kufur nikmat. Karena diriku begitu hebat, masih bisa melanjutkan proses menyusui meskipun dalam keadaan hamil (Nursing While Pregnant), juga lanjut tandem nursing. Alhamdulillah anak pertamaku lulus ASI di usia 20 bulan, dan anak keduaku lulus ASI tepat 24 bulan, sebulan sebelum adiknya lahir.

Lalu kenapa akhirnya pasang KB?

Aku dan suami menikah di usia 20 dan 22 tahun. Dalam 5 tahun pernikahan Allah udah ngasih 3  amanah yang lucu, sehat dan insya Allah qurrota ‘ayun. Aku dan suami juga ingin fokus pada pendidikan karakter, kualitas anak dan financial planning agar ga kelabakan ke depannya. Jangan sampai, kami tidak punya rencana dan impian tidak ternyatakan.

Juga karena aku ingin memulihkan diri dulu setelah berturut-turut hamil, melahirkan dengan proses bersalin caesar serta recovery persalinan yang luar biasa mengejutkan. Serta agar financial keluarga tidak besar pasak daripada tiang. Kami tau, anak adalah rejeki, tapi kami juga harus tau bahwa masyarakat juga punya hak atas keberadaan kami.

Belum lagi perihal menjaga anak dan kewarasan Ibu. Aku merasakan sedikit stress yang mengganggu, anak nangis, diri yang butuh relaksasi serta tubuh yang kurasa makin jompo hari ke hari. Sementara visi misi pernikahan kita adalah berkumpul kembali di syurga kelak, maka PRku masih banyak, aku harus sehat hingga akhir!

Dengan diskusi yang panjang, akhirnya aku memutuskan menggunakan KB IUD (Spiral) pada tanggal 17 November, di hari ke 6 haid.

Gimana rasanya?

Setelah berkonsultasi ke dr. Niken Asri Utami, Sp.OG(K), IBCLC, yang berpraktek di Harapan Bunda Sentra Medika, Lamprit, Banda Aceh, tentang keinginanku pasang KB IUD, dokter menyuruhku berbaring di tempat pemeriksaan. Dokter akan meng-USG-ku untuk memastikan rahim aman, tidak ada kista/tumor dan yang paling penting tidak ada janin.

Selanjutnya dokter Niken menyuruhku bersiap, lalu tidur seperti posisi melahirkan pada umumnya. Biar ga kikuk apalagi kaku, dokter Niken menyuruhku untuk memegang HP yang bisa bikin fokus ke ‘bagian bawah’ berkurang, sehingga dokter leluasa bekerja.

Pada awalnya, dokter akan minta kita buat tarik nafas sedalam-dalamnya, dan memasukkan alat yang bernama spekulum untuk membuka jalan menuju rahim.

Setelah itu dokter mulai fokus bekerja dan dipertengahan (aku terka sih ini saat diukur panjang rahim agar peletakan IUD sesuai), perasaan ketika proses ini sih sedikit terasa ngilu + kram yang ga sakit, persis kayak lagi haid dan diakhiri dengan suara gunting. Eits jangan serem dulu, ini gunting buat potong benang IUDnya. Santai gaes, ga ada proses jahit menjahit kayak persalinan, kok!

Si benang spiral ini disisain beberapa centimeter, dengan begitu aku juga bisa ngecek sendiri si benang masih di tempat atau gimana.

Bagi temans yang bersalin secara SC dan merasakan cabut kateter, maka aku berani katakan cabut kateter ngilunya jauh lebih berasa daripada pasang spiral. Lho tapi kan cabut kateter cepet daripada pasang spiral? Iya bener, tapi proses yang terasa cenut-cenut adalah di pertengahan, seperti yang aku jelasin di atas. Justru aku ga masalah pas dimasukin spekulum yang berfungsi membuka jalan menuju rahim. Kalian yang hamil normal, pernah dicek bukaan? Nah sakit cek bukaan lebih terasa daripada pasang spiral. Aku bersyukur dokter niken memasangnya dengan lembut dan kurang dari 10 menit sudah selesai.

Jenis KB Spiral yang Kupakai

Jenis KB Spiral yang kupakai adalah  Nova T380 yang akan efektif mencegah hamil selama 5 tahun.

Jenis Spiral yang Kupakai

Jenis Spiral yang Kupakai

Sakit gak?

Kalo sakit, dokter pasti bius kita dong biar ga kesakitan? Jauh lebih ngilu scalling ke dokter gigi dong daripada pasang spiral, percaya deh.

Setelah spiral selesai dipasang, aku di USG lagi. Hal ini memastikan bahwa si spiral tepat posisi dan perletakannya. Dokter Niken mengatakan bahwa kontrol dilakukan dalam seminggu ke depan. Dan juga sebaiknya setiap bulan mengontrol kondisi si spiral agar tetap pada tempatnya.

Kondisi ‘di bawah’ gimana? Aku sempat kikuk saat jalan, duduk, naik motor bahkan kebelet pipis. Perasaan kayak mau jatoh aja itu si spiral, hahahaha. Padahal karena abis pake spekulum, bukan karena si spiral.

24 Jam setelah pasang

Aku udah santai, ga kaku lagi saat jalan, duduk bahkan gendong anak. Walaupun kadang suka kepikiran ‘si spiral masih di tempat kan, ya?’. Oh iya, meskipun kemarin aku pasang di hari menstruasi ke enam, setelah pasang spiral haidku keluar lagi.

1 Minggu Setelah Pasang

Haid berakhir di hari keempat setelah pasang Spiral. Aku udah menerima kehadirannya dalam rahimku, aku ga mikir aneh-aneh kaya 24 jam setelah pasang. Dan suami coba berhubungan denganku, dia ga merasa ada sesuatu which is benang yang disisain itu, walaupun habis berhubungan suka ngeflek lagi, sih. Tapi ga banyak dan darahnya ga segar kaya haid, kuanggap ini penyesuaian.

Sebulan setelah pasang

Seharusnya sudah jadwal balik ke dokter Niken, tapi belom sempat-sempat karena kesibukan. Tapi sejauh ini perasaanku biasa aja, bahkan kini aku sudah haid lagi, hehehe. Alhamdulillah. Setidaknya kekhawatiran ‘bakal jadi’ sedikit berkurang selepas berhubungan. Aku bisa ngecek juga si benang tetap di tempat. Aku dan suami jadi super santai 😭, duh tau gini dari dulu, deeh..

Saran:

Bagi teman-teman yang ingin menggunakan IUD, aku sarankan untuk pasang di dokter kandungan yang sudah pasti akan mengUSG kamu. Lalu kembalilah untuk kontrol bulanan, jangan ngeyel merasa semua baik-baik aja. Bila ada keluhan, segera kembali ke dokter kandunganmu, dan komunikasikan. Jangan malu!

Memang bisa ngecek sendiri dengan posisinsi benang, tapi dokter kudu tau kondisi si spiral di dalam rahim. Jangan sungkan balik lagi ya!

Alasan mengapa pasang saat haid?

Setelah diskusi dengan dokter kandunganku, pemasangan KB IUD Spiral saat haid:

  1. Kondisi jalan menuju rahim tidak kering, sehingga tidak terasa sakit saat dibuka pakai spekulum.
  2. Karena habis pasang, bakal keluar darah lagi.
  3. Tidak dalam kondisi hamil: soalnya lagi haid
  4. Dokter gampang ngecek masa subur

Baik haid atau tidak haid, ga masalah mau pasang spiral, begitu kata dokterku. Dan harus diingat, alat KB tak selamanya mampu mencegah kehamilan, bisa juga sesekali ada kebobolan, dan persenannya kecil. Jadi selain pakai spiral, teman-teman juga harus tau masa subur, jadi bisa ngatur timing untuk berhubungan.

Spiral cuma alat yang membantu kita mencegah kehamilan, dengan begitu kita bisa fokus menyelesaikan proses menyusui anak sebelulmya hingga dua tahun atau lebih, rahim bisa beristirahat dan terhindar dari perdarahan, ibu juga bisa beristirahat dari hamil lagi hamil lagi, hubungan suami & istri juga bebas pacaran lagi, ehehee.

Semoga tulisan ini bermanfaat, ya!

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply
    Melly
    19 December 2019 at 13:59

    ternyata pasang IUD tidak semenyeramkan yang dibayangkan yaa Ay! selamaattt sudah melewati fase galau soal KB.. semoga ke depan kualitas hidup Ayi menjadi lebih baik yaa..

  • Leave a Reply