Cerita Bunda

Menjadi Ibu, Tidak Semudah Itu

Anak adalah amanah. Mendidik mereka adalah tugas kedua orangtuanya. Kitalah yang akan membentuk pribadi mereka, apakah pribadi yang dicintai Tuhan kita atau malah dimurkaiNya? Ah, menjadi orangtua memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Tadi sore, selepas pulang membawa Medina dari dokter anak, saya dan suami banyak sekali berkaca diri. Di praktek tadi banyak model orangtua dalam menghadapi anaknya. Dengan tingkah anak yang beragam pula. Kami jadi mengevaluasi diri, bagaimana sebenarnya kami ketika menghadapi anak tantrum, rewel tiada henti? Apakah kami sudah sukses menjadi orangtua? Di sisi lain, seorang Ibu tengah mendiamkan anaknya, dikomentari penuh oleh Ibu lainnya. Si Ibu seakan-akan salah total hingga dikomentari sedemikian rupa.

Sebenarnya bukan itu saja. Sesaat sesudah melahirkan, ibu akan dihadapkan dengan bayi yang menangis ingin menyusu dan ibu dengan luka jahitan yang belum kering. Ayah yang begadang tiap malam juga kerjaan yang menumpuk akibat ikut terlibat mengurus anak.

Saat Kizain lahir, ASI saya tidak seketika keluar. Perlekatan tidak tepat saat menyusu, hingga put*ng saya lecet dan berdarah. Bayi saya menangis tiada henti. Disusui, nangis. Digendong, nangis. Padahal sebelumnya saya sudah membaca literatur tentang bagaimana menghadapi bayi baru lahir. Dan ternyata memang tidak ada apa-apanya jika belum berpengalaman. Heuheu. Hampir saja bayi saya diberikan sufor karena terus menangis sepanjang waktu. Syukurlah, hal ini tidak terjadi. Tebak, siapa yang meminta bayi saya untuk diberikan sufor? Saya. Ya, saya. Jikalau itu terjadi, entah bagaimana lagi saya ungkapkan penyesalan ini.

Bayi di bawah usia 6 bulan memang anteng sekali saat dibawa jalan-jalan. Saya sering sekali mengajak Kizain bepergian bersama saya, apapun aktivitas saya. Saat itu saya berfikiran klise sekali, saya tidak ingin bercampur asuh. Biarlah saya lelah, namun anak saya tetap sepanjang mata memandang.

Selama menuju 6 bulan, hal yang paling saya takuti adalah ketika ia sakit. Saya pernah menunda jadwal imunisasinya hingga dua minggu karena saya sedang sangat sibuk. Saya takut anak saya demam sementara kerjaan saya penuh menggelembung. Sayapun sepenuhnya menyerahkan anak pada suami dan bidan sementara saya bersembunyi tutup kuping karena anak saya akan disuntik. Yap, saya takutan gitu orangnya. Padahal, nangisnya gak lama. Padahal, setelah disuntik toh dia demamnya juga tidak lama. :’D Mengapa begitu? Entahlah.

Dua bayiku

Dua bayiku

Kizain tumbuh gigi tepat di usianya menuju 5 bulan. Saat itu ia mulai suka menggigit ketika sedang menyusu. Pernah sangking gemesnya, ia mengigit dengan kuat dan menyebabkan put*ng saya bengkak. Saya jadi malas menyusu di PD yang sakit. Namun, gejolak ASI yang penuh membuatnya semakin sakit. Dengan penuh tangisan dan air mata, saya harus menyusui di PD tersebut dengan menggenggam erat tangan suami. Sakitnya, masya Allah :’)))))))))))

Di atas usia 6 bulan, Kizain yang sudah pintar merangkak, mulai berjalan ke sana ke mari. Silap sedikit, ia sudah turun dari kasur. Emaknya ketiduran, ia sudah guling sana guling sini. Rasanya, tidur siang jadi berkurang, karena anaknya gampang terkejut. Seantero rumah disuruh untuk menjaga volume suara. Bahkan, suara motor dan mobil juga pagar yang dibukapun kalo bisa diperhalus sedemikian rupa. Karena apa? Karena anaknya ga bisa ribut sedikit saja.

Belum lagi ketika ia sudah mulai berjalan. Belum lagi ketika ia mulai tantrum. Belum lagi ketika ia mulai bisa menolak. Dan belum lagi belum lagi lainnya.

Saat punya anak kedua, saya mulai ‘kendor’ terhadap Kizain. Saya berusaha agar seimbang dalam menyayangi keduanya. Saya berusaha agar keduanya tetap mendapat perhatian saya. Deu, tapi dalam perjalanannya memang tidak segampang itu, ya buibu. Saya harus sering-sering mengurut dada dan memaafkan diri sendiri.

Medina dengan tingkah polahnya yang jauh berbeda dari Kizain, membuat saya kadang-kadang kurang menaruh perhatian padanya. Melulu ke Kizain, padahal Medina juga punya hak. Adil itu memang sulit banget, ya. Kalau sudah bingung, biasanya saya akan menyerahkan anak-anak pada suami. Dan saya berdiam diri sebentar. Ya, me time itu perlu, bu. Agar kita selalu bahagia.

Saya tidak bisa bohong. Jujur ,banyak hal positif yang terjadi saat Medina lahir ke dunia. Beberapa di antaranya adalah Kizain sudah bisa tidur sesuai jadwal dan makan sendiri. Alhamdulillah. Dulu menuju tidur harus selalu digendong/diayun-ayun. Dulu, makannya harus disuap dan jarang habis. Sekarang sudah tidak lagi. Kizain sudah pintar minum sendiri pakai gelas sejak berusia 15 bulan.

Menjadi Ibu Tidak Semudah Itu - cutdekayi.com

Sayapun tidak begitu panik menghadapi Medina saat hari pertamanya ke dunia. Berbekal pengalaman Kizain, saya berusaha tenang menghadapi Medina. Seluruh urusan rumah, saya serahkan kepada suami. Bahkan hingga saat ini, jika sudah lelah sekali, suami akan dengan senang hati membantu saya. Saya jarang sekali masak, urusan mencuci pun saya serahin ke laundry langganan, karena jam tidur anak saya satu dengan yang lainnya berbeda. Abang bangun, adiknya tidur. Begitupun sebaliknya.

Namun, yang ga santai itu adalah para komentator. Para penonton. Para tetangga. Yang seenaknya saja kasih label ‘Emak gagal’ pada Ibu yang menurutnya tak sesuai ekspektasi. Apalagi kalo ada yang nyeletuk ‘anak masih bayi kok udah punya bayi lagi?’.Duh!

Ada beberapa orang yang saya kenal, harus saya blokir dari media sosial saya karena omongannya yang bikin sakit hati. Seenak jidat ia menghakimi saya bukan hanya sekali dua kali, namun berkali-kali. Saya tidak boleh eksis lagi sebab anak sudah dua. Tidak boleh main media sosial lagi sebab anak sudah dua, belum lagi komentarnya tentang pilihan MPASI yang saya berikan untuk anak saya. Saya bukan seleb, jadi saya tak tahan membaca komentar seperti itu. Karena komentar yang menyakiti dan bikin saya kepikiran, saya memutuskan untuk memblokirnya. Terkesan kejam, ya? Biarlah. Saya tidak mau gara-gara komentarnya saya jadi tidak bahagia.

Sebenarnya saya adalah tipe yang ingin terlihat hebat dengan MAMPU mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sekali dua kali saya coba, namun esoknya saya mulai kecapean. Mengurus anak jadi tidak bahagia. Mengurus suami jadi ogah-ogahan. Apalagi mengurus diri? Timbunan lemak di mana-mana, bahkan saya akui sejak anak kedua lahir saya malas sekali makan. BB saya pun sudah di bawah normal.

Dengan ikhlas hati, saya berusaha untuk bangkit. Karena memang menjadi ibu itu tidak mudah. Tidak semudah mengatakan WAH, ANAKNYA CANTIK BANGET. MAU GENDONG DONG, BU. Atau, ANAKNYA KOK KURUS SIH, BU? JARANG MAKAN, YA? KASIH VITAMIN, HARUS KREATIF DONG, BU. Atau, GA BOLEH MARAHIN ABANG, BU. ABANG JUGA PENGEN DISAYANG SAMA IBU, saat adiknya minta nyusu sementara abang minta main. Kurang sabar apalagi mamak, nak? Seakan-akan orang yang paling tau bagaimana bunda di rumah? Apakah bunda seorang ibu yang gagal jika kalian tidak sesuai dengan keinginan mereka?

Menjadi Ibu memang tidak mudah. Ibu itu inginnya hanya disemangati, didukung dan dihargai. Disemangati setiap usaha-usahanya menjadi lebih baik. Didukung setiap aktivitas kebaikannya. Dihargai setiap pencapaiannya sekecil apapun. Jadi, tolong STOP mengatakan STAY AT HOME MOTHER IS THE BEST atau WORKING MOM IS THE BEST. Yakinlah, keduanya adalah BEST OF THE BEST.

Apakah salah ibu masih ingin tetap eksis menggapai cita-citanya? Apakah salah ibu ingin di rumah menemani anak-anaknya? Oh, please, tidak ada yang ini benar yang itu salah. Setiap Ibu pasti sudah memikirkan baik dan buruknya atas apa yang ia pilih. Setiap Ibu pasti tau konsekuensinya. Dan ia yakin, ia tidak pernah sendiri maka ia berani mengambil keputusan itu. Dan sebagai penonton, cukup nikmati. Jika tak perlu, tinggalkan. Daripada ngedumel gak jelas dan jadi ghibah atau fitnah, ya kan?

Saat mengambil hadiah lomba blog

Saat mengambil hadiah lomba blog

Ibu juga butuh bahagia. Ibu juga butuh ketenangan. Karena Ibu adalah manusia, yang (sangat) bisa lelah namun tak mampu (katakan) menyerah.

Peluk penuh cinta untuk seluruh Ibu hebat di Indonesia, dan dunia.

You Might Also Like

20 Comments

  • Reply
    Rindang
    30 May 2017 at 12:22

    Ayi, baper baca ceritamu. Plus greget sama yang senang komentar sana sini. Semoga terus dikuatkan ya mengurus anak, suami, dan diri sendirinya. Jangan lupa, keep blogging biar bisa terus berbagi dan me time. Hehe

  • Reply
    Khoirur Rohmah
    30 May 2017 at 12:51

    Semangat Mbak Ayi,…
    Aku jadi ikut tersentuh baca artikel ini, mbak. Mbak Ayi hebat,
    Biar kata di luar sana tentang Mbak. Emang pelru jauhhin hal2 yg bikin pikiran kacau mbak, palagi kayak blokir temen sosmed yang punya bad effect untukkita.
    .
    Kyah, belum pengalaman jadi ibu, hanya menyimak2dari teman2 blogger, jadi gak banyak bisa kasih masukan apa-apa -_-
    *woy, nikah belum 😛

  • Reply
    April Hamsa
    30 May 2017 at 13:11

    Hihihi idem pas anak kedua lbh santai, lbh bisa ditinggal2 dgn org lain, krn emang ada kalanya ibu butuh me time.
    Hahaha soal penonton emang gtu, bisanya cuma ngomong krn bukan pemeran utama. Tapi yg penting hepi ha ya para ibu 😀
    TFS tulisannya mbak Ayi 😀

  • Reply
    Anita Makarame
    30 May 2017 at 13:45

    Aku masih dalam tahap persiapan mental nih, Mbak. Anak pertama itu antara seneng & khawatir campur aduk jadi satu. Menanti pengen cepet lahir, tapi keseruan si kecil di perut nendang2 jadi pengen waktu jangan cepat berlalu. Hehe

    Semoga kita dikuatkan menjadi ibu yang terbaik buat anak-anak ya, Mbak.

  • Reply
    Fania surya
    30 May 2017 at 14:41

    Yang kecil lucu bngt mbk. Semngat mbak, seorang ibu etaplah ibu bagi anaknya dan ibu harus seterong.

  • Reply
    Dian Ravi
    30 May 2017 at 16:15

    Ayi harus bahagia. Kunci kebahagiaan keluarga ketika orang-orang yang terlibat di dalamnya bahagia. Ga usah dengerin kata-kata orang lain, Yi. Jangan diambil hati. Sudah saatnya Ayi sesekali tutup telinga untuk tak mendengar hal-hal yang tak sesuai sama Ayi.

  • Reply
    Mira
    30 May 2017 at 19:11

    Sabar Ayi.. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Gak usah di dengerin. Yang penting kita bahagia, anak bahagia dan dapet restu suami. InShaaAllah barokah. Semangat :)

  • Reply
    tomi
    30 May 2017 at 22:54

    Ada beberapa orang yang saya kenal, harus saya blokir dari media sosial saya karena omongannya yang bikin sakit hati. <– kalimat ini malah menandakan kalau mba deka gagal bersinergi antara sosial media dan Real world .. harusnya malah kita biarin aja seenak jidatnya nyinyir di sosmed toh siapa tahu bukan bahas diri kita hehe..

    Kalau ngomong di depan sendiri nah itu baru harus diselesaikan hehe

  • Reply
    Atanasia Rian
    30 May 2017 at 23:07

    Semangat ya ayi. Apapun suara orang diluar sana, hanya kita yang tau apa yang ada dala hati

  • Reply
    omith
    31 May 2017 at 09:54

    setuju mbaaaa
    i feel you….
    dl anak pertama saya, Kenya full asi dan saya handle sendiri sampai usia hampir 3 th lalu saya memutuskan bekerja lg dikantor selah sebulan saya isi anak kedua jarkanya mayan dekat. Kakak wkt ngASI sepulang saya gawe suda marah2 semacam digigit saya periksa ke dr SPOg ternyata saya sdh hamil 2 bln. mengatur waktu bagi wanita bekerja yg punya anak balita dan lg hamil sungguh perjuangan bgt. Saya katakan salut buat wanita / ibu Smoga selalu dibwri kesehatan prima dan rejeki melimpah bahagia amien.

  • Reply
    @dodon_jerry
    31 May 2017 at 10:19

    Bapak mana bapak hehehehe. Emak jaman sekarang mesti bisa eksis agar mengurus anak juga dengan bahagia. Semoga makin happy dan anak anak sehat. kasih sayang ibu memang sepanjang hidup :)

  • Reply
    hilwa salsabila
    31 May 2017 at 11:52

    Iya banget lah iniii.. semangat terus ka ayikuuu

  • Reply
    Nurul Fitri Fatkhani
    31 May 2017 at 14:18

    Kalau selalu mendengarkan pendapat orang, gak akan pernah habisnya, Dek. Apalagi dikeluarkan oleh orang yang merasa selalu benar. Apapun yang kita lakukan, pasti salah, dimata dia.
    Mau ibu bekerja, atau ibu rumah tangga, semua ada kelebihan dan kekurangannya. Lebih baik jalani saja peran kita, dan yang paling penting, selalu merasa bahagia, titik!

  • Reply
    MasIrwin
    31 May 2017 at 18:48

    Cerita diatas mengilhami saya untuk bisa menjadi suami yang mampu bekerja sama dalam mendidik anak, jangan hanya dipangkukan kepada istri saja. Peran ayah atau bapak juga penting dalam tumbuh kembang si anak….

  • Reply
    Perempuan November
    31 May 2017 at 20:05

    Aku baper baca postinganmu mbak. Walau belum menikah, tapi saya tau pasti, menjadi ibu memang tidak mudah. Semoga bisa terus menjadi ibu bahagia ya mbak :)

  • Reply
    Hello Fika
    31 May 2017 at 20:21

    Semangat ya mbak.. saya itu salut pada siapapun yg sudah dipanggil ibu, mau berapapun anaknya. dan seberapapun hebatnya si ibu..

    menurut saya mereka semua hebat, karena saya sendiri sudah 7 tahun ikhtiar blm juga dikaruniahi anak..

  • Reply
    Dikki cantona putra
    31 May 2017 at 21:24

    Butuh perjuangan banget ya untuk menjadi seorang ibu. Sakit yang dialami hanya untuk anak seorang dan tidak ada yang lainnyam semangat mba membesarkan anak anaknya

  • Reply
    Yulia
    31 May 2017 at 21:47

    Yang penting dan utama kita sebagi ibu sih jangan sampai memperlihatkan kegelisahan saat anak sakit.. perlu diketahui juga sebelum anak berumur 5 tahun kekebalan tubuhnya terus di uji, kitanya yang harus sabar ya Ay

  • Reply
    Rhoshandhayani KT
    31 May 2017 at 22:19

    semakin ke sini justru aku pengen jadi Ibu loh kak
    iya, Ibu yang stay di rumah. Ngurus anak,suami, dan nyambi ngeblog
    soalnya saya tahu rasanya datang ke rumah tapi gak ada orang (saat SMP), lalu merasakan ada Ibu yang selalu ada di rumah (sambil buka toko) setiap saya pulang sekolah SMA. Itu rasanyaaaaa luar biasa
    Sesederhana itu, adalah anugerah bagi saya
    eh, malah curhat yang lain aku kak, hehehe

    dulu, Ibu saya juga air susunya nggak keluar deras, cuma menyusui saya selama 6 bulan, lalu dikasih air putih. lah saat adek saya umur 2 bulan, asinya ibu nggak keluar padahal berbagai cara udah dilakukan. alhamdulillah nutrisinya tetap baik sampai sekrang

  • Reply
    lendyagasshi
    1 June 2017 at 00:50

    Bismillah,
    In syaa Allah Ayi bisa nglewain ini semua dengan senyum yang damai…
    Karena Allah Maha Tau yang Terbaik untuk Ayi dan suami.

    Kalau anak masih kecil, memang terkesan segalanya serba melelahkan.
    Tapi sebenarnya,
    di situlah letak orang tua belajar saling memahami dan menyesuaikan diri dengan sang anak.

    Nanti kalau sudah pada besar, makin kompak deeh…

    Because A Family is A Home Team.
    not individual.

  • Leave a Reply to Nurul Fitri Fatkhani Cancel Reply