Cerita Bunda Kompetisi

Semakin Mengenali Diri, Semakin Bertambah Kepercayaan Diri

Setiap manusia itu unik karena kepercayaan dirinya. Bagaimana mereka tau sisi ‘cantik’ dari dirinya untuk kemudian dikembangkan dan difokuskan. Begitupun di kehidupan perempuan. Tak pelak, banyak sekali perempuan yang mencoba-coba untuk mencari kepercayaan diri dengan cara yang paling dasar, yaitu mengikuti gaya orang lain.

Hari ini, banyak sekali OOTD yang photogenic di instagram, membuat para perempuan ikut-ikutan untuk menunjukkan kepercayaan dirinya. Bagi mereka yang sudah tau titik cantiknya, maka hal ini bukanlah hal yang sulit. Tapi bagi yang baru mencoba, hal ini akan dirasa sangat sulit bahkan untuk sekedar bergaya bak artis papan atas. Lagi-lagi karena mereka belum mengenal diri mereka sendiri untuk kemudian percaya diri tampil di masyarakat.

Ngomong-ngomong soal percaya diri, saya adalah orang yang hidup dengan kepercayaan diri yang cukup namun belum terlalu matang. Saya selalu ingin terlihat sempurna karena sifat perfeksionis yang sudah mendarah daging di dalam pikiran saya. Hal ini terbukti pula saat saya mengisi quiz kepribadian yang digelar oleh Serioxyl beberapa waktu yang lalu. Berikut hasil tesnya:

Semakin Mengenali Diri, Semakin Bertambah Kepercayaan Diri cutdekayi.com

Yap, di sana dikatakan bahwa saya cukup percaya diri, namun saya selalu berharap lebih terhadap ekpektasi. Sementara usaha dan kerja keras saya tidak mampu mencapai ekspektasi yang sudah saya ukir sedemikian rupa di ruang imajinasi.

Krisis Percaya Diri Saat Masih Mahasiswa

Cerita punya cerita, ketika saya masih melajang dahulu, saya selalu tidak percaya diri ketika diminta untuk public speaking di depan khalayak ramai. Jangankan untuk berbicara sebagai moderator atau pembicara, jika disuruh berkoar-koar saat aksi bersama para aktivis kampuspun, saya lebih memilih untuk update akun social media daripada berbicara. Saya akan sangat percaya diri untuk tampil sebagai seorang admin daripada seorang pemimpin aksi. Kenapa? Karena saya punya kelemahan dalam mengucap huruf R dan sayapun kalau berbicara, seringkali intonasinya terlalu cepat karena  ingin menutupi kekurangan itu. Selain itu, saya lebih senang mengolah kata dalam dunia tulis menulis daripada menyatakan kalimat secara langsung. Padahal dalam imajinasi yang menghampiri saya ketika tidur sebelum hari H, saya berandai-andai mampu berbicara hebat dan dikagumi banyak orang. Ekspektasi berbanding terbalik dengan realita, bukan?

Hari ke hari, semakin sering saja muncul tawaran untuk berbicara di depan. Terkadang dosen meminta saya untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan teman-teman. Saya mulai berpikir, bagaimana jika saat seminar proposal skripsi nanti? Bukankah saya juga harus mempertaruhkan hasil penelitian saya? Jangan sampai gara-gara hal sepele saya jadi gagal!

Solusi Krisis Percaya Diri Saat Masih Mahasiswa

Pelan-pelan, saya mulai googling tentang pembicara-pembicara yang bisa sukses meski tidak bisa mengucapkan huruf R. Saya mulai berlatih berbicara secara perlahan di depan kaca. Dan saya mulai memberanikan diri bertanya di dalam setiap forum diskusi untuk menumbuhkan kepercayaan diri saya.

Awalnya gugup, sih. Beberapa kali saya harus bersitegang dengan keegoisan diri saya yang tidak mau mengalah. Tapi keinginan saya untuk berubah menjadi seorang mahasiswa yang berani berbicara ini terlalu besar untuk dienyahkan begitu saja. Untuk meredakan kegugupan, saya coba untuk menulis pertanyaan secara lengkap di buku catatan agar bisa lancar. Dan alhamdulillah, selama 4 bulan saya terus mengulang kegiatan tersebut, perlahan rasa gugup dan takut itu hilang.

Semakin Mengenali Diri, Semakin Bertambah Kepercayaan Diri 1 cutdekayi.com

Setiap kali forum diskusi berlangsung, saya memberanikan diri mengacungkan tangan untuk bertanya. Saya juga sering menawarkan diri menjadi moderator saat forum diskusi kelas dilaksanakan. Saya jadi berani tampil dengan percaya diri. Ketakutan saya akan huruf R yang tidak bisa saya sebutkan dengan jelas dan setiap kalimat yang keluar dari bibir saya, hilang entah ke mana. Prinsip out of the box yang saya dapatkan dari buku Kreatif Sampai Mati-nya Mas Wahyu Aditya sudah berhasil saya terapkan. Kalau biasanya saya nyamannya di belakang layar, kini saya sudah berani menyeimbangkan keduanya. Saya berani tampil sebagai social media admin dan juga tampil public speaking di depan orang ramai.

Timbul Krisis Kepercayaan Diri Baru: Hamil Anak Kedua

Berbeda waktu, berbeda pula permasalahan yang dihadapi. Setelah menikah dan punya anak, saat ini saya yang sedang hamil anak kedua sedang kurang percaya diri terhadap penampilan.  Saya jadi kurang percaya diri untuk tampil saat diundang di berbagai acara karena pipi saya yang semakin tembem dan perut yang semakin buncit. Kalau di kehamilan pertama dulu, saya tak begitu kepikiran karena saya harus bedrest dan kegiatan-kegiatan saya di luar harus saya off-kan selama 9 bulan.

Di kehamilan kedua dan alhamdulillah saya tidak harus bedrest, satu persatu kegiatan datang dan meminta saya untuk hadir secara nyata. Saya jadi gugup dan kurang percaya diri. Belum lagi usia saya yang baru akan menginjak 23 tahun pada April 2017 nanti memaksa saya untuk tetap bersikap sebagaimana teman-teman saya pada umumnya. Hingga saya sadar, i’m a pregnant mommy. Dan saya harus bangga.

Beberapa hal yang bikin saya kurang percaya diri adalah:

1. Jerawat yang mulai muncul selama hamil.

2. Baju-baju yang mulai mengecil (karena bobot tubuh terus membesar).

3. Pipi saya yang mulai tembem.

Rasanya rugi sekali kalau saya harus menyerah untuk absen dari berbagai kegiatan karena krisis kepercayaan diri yang mulai hadir kembali. Padahal dulu saya butuh effort yang lumayan berat saat proses menumbuhkan kepercayaan diri di jenjang mahasiswa. Terlebih ketika tawaran untuk menjadi narasumber di TVRI Aceh datang, dan ini merupakan kesempatan yang langka. Masa saya harus menolak hanya karena tidak percaya diri?

Dan saya mencoba mengenali satu-persatu kelemahan yang membuat saya jadi tidak percaya diri.

1. Dimulai dari munculnya jerawat-jerawat kecil, membuat saya mengenali jenis kulit wajah dan mulai rajin menjaga kelembaban kulit. Saya yang belum terlalu pintar untuk dandan layaknya selebgram, minimal setelah berwudhu dan sholat, atau mulai terasa minyak berlebih di wajah, saya mengaplikasikan tisu minyak, pelembab wajah dan bedak di wajah saya.  Ketiga alat pamungkas itu selalu rajin saya bawa di setiap kegiatan dan Alhamdulillah jerawat-jerawat kecil yang muncul itu tertutupi. 

Semakin Mengenali Diri, Semakin Bertambah Kepercayaan Diri 2 cutdekayi.com

Bye bye jerawat ~

Di rumah, saya jadi lebih sering menjaga wajah dengan cara maskeran madu atau buah. Saya berhenti untuk terus menerus memandangi wajah di cermin dan membandingkan wajah saya dengan wajah orang lain yang juga sedang hamil. Takutnya malah makin depresi kan :p

2. Untuk baju-baju yang mulai mengecil di bagian perut, saya asingkan semua baju-baju itu dan mulai melirik beberapa atasan lebar yang jarang sekali saya sentuh. Juga beberapa gaun/gamis yang jarang sekali saya pakai. Ternyata ketika hamil, baju-baju yang lebar ini jadi lebih nyaman untuk saya pakai. Bahkan di beberapa kesempatan, saya disangka sedang tidak hamil oleh peserta kegiatan. Padahal sudah 8 bulan, lho. :’)

Saya jadi mulai tampil percaya diri dan menerima bahwa diri saya sedang hamil besar. Mungkin orang bisa saja memaklumi, tapi dasarnya memang perempuan yang selalu ingin terlihat fresh meski sedang hamil sekalipun. Hehe.

Semakin Mengenali Diri, Semakin Bertambah Kepercayaan Diri 3 cutdekayi.com

Bumil tetap eksis hadir di acara-acara blogger gathering

3. Untuk jilbab, saya biasanya hanya menggunakan jilbab segiempat kemudian pakai pentul dan sisi kanan kiri dipakaikan bros. Dan ternyata saat kehamilan saya masuk usia 8 bulan, saya ditawari menjadi narasumber di TVRI Aceh. Saya mulai bingung, masa gaya jilbab sehari-hari tetap saya gunakan saat tampil di TV? Ini jarang-jarang, lho.

Begitupun suami, beliau maunya saya terlihat lebih fresh dan percaya diri agar tidak gugup. Namun, bagaimana dengan pipi tembem ini? Hiks.

Salah seorang teman menawari saya untuk menggunakan pashmina instan. Model kerudung yang tidak pernah saya coba sebelumnya. Namun menurut teman saya, pashmina instan yang tidak perlu pentul sana sini dan menutup dada bahkan punggung belakang ini, sangat cocok digunakan oleh pemula pemakai pashmina seperti saya. Saya sempat maju mundur, tapi si teman ini malah sudah mengantarkan barang tersebut ke rumah saya. Mau tak mau akhirnya saya coba dan suamipun mengacungkan jempol.

Saya mematut-matut diri di kaca, apakah penampilan ini cocok untuk saya?

‘Tembemnya ga keliatan banget, kok. Malah kamu cantik pakai pashmina begitu,’ ungkap suami saya ketika melihat saya yang dari tadi sibuk bercermin.

Semakin Mengenali Diri, Semakin Bertambah Kepercayaan Diri 4 cutdekayi.com

Bersama host dan narasumber lain di TVRI Aceh

Dasar perempuan ya, kalau udah dipuji jadi bertambah aja kepercayaan dirinya. Alhasil, pashmina tersebut saya gunakan saat hari H dan alhamdulillah untung saja saya pakai pashmina. Kalau tidak, kebanting banget sama host yang cantiknya masya Allah. Ketika melihat hasil foto dari layar TV yang diambil oleh bunda sayapun, saya jadi merasa cantik dan tidak terbebani lagi dengan pipi tembem ini. Saya jadi pengen mengoleksi pashmina instannya, deh! Hihihi.

Menerima dan Bersyukur

Ternyata, selama ini saya terlalu ingin tampil sempurna namun enggan mencoba dan sulit menerima kondisi tubuh. Padahal ketika saya mencoba, tidak ada yang salah dengan wajah saya dan suamipun oke-oke saja dengan penampilan saya. Dan saya bersyukur diberikan kelemahan, dengan begitu saya jadi memutar otak untuk mencari solusi terbaik dengan usaha dan kerja keras yang maksimal. Bukan malah mendengus dan membiarkan kelemahan itu berlarut-larut.

Seperti pada awalnya saya malu untuk berbicara di depan orang ramai, ternyata bisa saya taklukkan asal berani mencoba keluar dari zona nyaman. Coba pikirkan, bagaimana jika saya membiarkan masalah itu terus terjadi, maka tawaran menjadi narasumber di TVRI Aceh tidak akan berani saya ambil. Saya tidak akan menemukan berbagai pengalaman baru yang menantang, seperti sidang skripsi, contohnya.  

Begitupun ketika hamil, saya menciptakan kepercayaan diri dengan cara menerima dan bersyukur. Dengan munculnya jerawat-jerawat kecil di wajah, saya jadi rajin membersihkan wajah. Saya jadi melirik baju-baju yang sudah lama tidak saya gunakan, juga saya jadi percaya diri untuk tampil menggunakan pashmina.

Alhamdulillah, sekarang tidak ada lagi standar tinggi yang saya tetapkan untuk diri saya. Saya menghargai setiap usaha yang sudah saya lakukan, meski masih perfeksionis namun sekarang saya sudah lebih menerima dan siap untuk melejitkan potensi-potensi lain yang saya miliki. Rugi saja jika saya terus berkutat dengan standar tinggi namun usaha saya tidak begitu memacu saya untuk mencapai keinginan seperti yang saya mau. Iya, kan?

Begitulah kisah percaya diri saya sejak masa mahasiswa hingga sudah menjadi seorang ibu.

Ibu-ibu muda dan teman-teman perempuan lainnya, sharing kisah kepercayaan dirimu, yuk! Mulailah untuk mengenali dirimu sendiri, lalu terima ia dengan kelapangan hati, dengan begitu kamu akan tau solusi untuk melejitkan kepercayaan dirimu.

Salam semangat,

cutdekayi

“post ini diikutsertakan dalam Blog Competition Serioxyl X IHB“

You Might Also Like

10 Comments

  • Reply
    zaenudin
    8 December 2016 at 08:43

    memang benar ya mba jangan sampai hanya karna hal sepele aktivitas jadi terbatas..
    harusnya bisa kayak komedian,kekurangan mereka justru mereka jadikan kekuatan yang bisa membuat mereka punya ciri khas.. hehe

  • Reply
    di sekitar
    8 December 2016 at 20:57

    wah keren ya bisa keluar dari krisis kepercayaan diri. semoga bisa segera seperti mbaknya

  • Reply
    @dodon_jerry
    12 December 2016 at 14:01

    Semakin sehat dan bahagia dengan kehamilan anak keduanya. anak sehat ibu sehat dan ayah bahagia

  • Reply
    suplemenfitnes
    14 December 2016 at 08:43

    mbak umurnya berapa ya kok kayanya masih muda banget :) padahal udah ada buntut dua

    hehe salam kenal mbak

  • Reply
    Baihaqi
    16 December 2016 at 14:15

    Kalo udah percaya diri, mau kemana-mana sama siapa aja udah mulai gampang adaptasi ya mbak. Dulu saya introvert banget jadi susah diajakin ngobrol.

  • Reply
    minda lubis
    18 December 2016 at 12:28

    Kalau udah berani lawan rasa kurang percaya diri, jadi kesempatan terbuka lebar yaa…. semangat terus Ayi 😊

  • Reply
    Rach Alida Bahaweres
    19 December 2016 at 14:18

    Sukses buat Mba Ayi yaaa ….
    Semakin percaya diri, semakin bahagia :)

  • Reply
    Dewi Ratih Purnama
    21 December 2016 at 12:35

    wah disini kelihatan transformasi wajah ai ya, pas jaman ngampus, jadi bumil, jd ibu2 :) bumil makin gemuk makin cantik loh ai, seger lihat wajah ai, cocok phasminanya, kayanya mami naksir juga tuh, hihi

  • Reply
    Ahmad
    22 December 2016 at 19:51

    keprcayaan diri inilah yang kurang dari saya … yang mungkin harus saya asah lagi ni rasa pedenya

  • Reply
    Wadiyo
    31 December 2016 at 15:38

    Dear,
    Bagaimana cara membangun kepercayaan diri sejak awal ya?
    terima kasih

  • Leave a Reply to di sekitar Cancel Reply