Kesehatan

Mengapa Anakku Divaksin?

Vaksinasi

Saya aktif membagikan foto anak saya di IG @cutdekayi, baik sedang bergembira ria maupun mewek habis divaksin. Total sejak ia lahir hingga hari ini, Kizain sudah 4 kali divaksin, dan saya terus mensharenya di media sosial saya. Tak jarang, banyak teman yang menchatting saya tentang kegalauan mereka memvaksin anaknya akibat antivaks yang berseliweran, beraksi untuk mengkampanyekan ketidaksetujuan mereka dengan vaksin yang menurut mereka tidak halal.

Saya bukan seorang dokter spesialis anak yang jauh lebih mengetahui manfaat, kerja dan resiko bila anak divaksinasi. Untuk itu, di FB saya aktif mengikuti perkembangan vaksinasi oleh dokter yang hebat di bidangnya, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Dr. Annisa Karnadi dan Dr. Raehanul Bahrain. Saya yakin, banyak dokter-dokter hebat lainnya yang juga aktif mengampanyekan manfaat vaksinasi di luar sana.

Ketiga dokter tersebut sudah lelah hayati setiap hari memposting tentang vaksinasi, berharap masyarakat teredukasi dengan baik dan tidak ada yang galau berjamaah lagi. Tapi, masih saja hari ini banyak antivaks – yang mengaku bukan antivaks – mengomentari status mereka dengan kata-kata jitu “Vaksin itu asal dari babi.” atau “Anak saya sehat-sehat saja tuh dikasih vaksin.” juga “anak saya divaksin malah sakit, tapi abangnya tidak saya vaksin malah sehat-sehat saja.”

Hellooooooooooooooooooooooooooo..

Sudahkah kita berkaca diri sejauh apa pengetahuan kita tentang vaksinasi? Apakah kita merasa paling benar dengan pengetahuan minim lalu menjelek-jelekkan bahkan menjatuhkan dokter yang -bukan cuma setahun dia belajar-  butuh waktu bertahun-tahun untuk diizinkan membuka praktek dan mengedukasi kita semua?

Dengan izin Allah.

Saya, sebagai seorang ibu dari anak yang masih berusia 4 bulan, setiap hari melihat dan mendengar kasus anak-anak yang sakit akibat orangtuanya ogah memvaksin, lalu dibolongin lehernya karena difteri, pecah pembuluh darah di matanya karena pertusis, dan segala macamnya dari ketiga dokter di atas, jujur saya ga kuat.

Ke mana mereka akan berobat setelah itu? Ke dokter.

Kemarin-kemarin di edukasi dokter tentang vaksinasi kok ga mau? Kok ngeyel? Kok mencari pembenaran berdasarkan pengalaman orang lain?

Nanti anaknya sakit siapa yang disalahin?

Dokter.

Berhentilah ibu, ayah, untuk mengondisikan anak-anak kita sama dengan anak yang lainnya, membanding-bandingkan dan merasa paling sukses dalam mendidik anak. Saya bukan memihak dokter, tapi saya yakin tidak ada dokter yang ingin menjerumuskan pasiennya.

Dulu, saya takut sekali melihat cairan imunisasi diinjeksikan ke dalam tubuh anak saya. Banyak ibu-ibu yang bilang, ASI sudah cukup untuk imunitas anak. Lalu pertanyaan muncul, bagaimana dengan anak-anak yang mengonsumsi sufor dan ibunya antivaks?

Sejatinya, vaksin itu bukanlah obat. Dokter-dokter sudah menjelaskannya berjuta kali lipat. Lalu bagaimana dengan dokter yang antivaks dan kampanyenya sudah menggaet banyak orangtua? Saya yakin, kalo debat terbuka dengan para dokter di atas, dokter tersebut juga angkat tangan. Tapi bukan debat yang kita inginkan, melainkan pencerahan untuk para orangtua.

Pelan-pelan ketakutan saya menghilang. Anak saya juga setelah divaksin hanya rewel manja. Tidak berkepanjangan dan hanya satu harian. Tidak mengganggu aktivitas saya, malah saya semakin ingin selalu dengannya. Selanjutnya, alhamdulillah ia semakin ceria.

Orangtua yang memilih tidak memvaksin anak, saya yakin punya pendapat tersendiri. Dan bersyukurnya lagi, mereka tinggal di lingkungan yang bersih. Sekitarnya anak-anak pada divaksin. Merasa yakin tidak ada penyakit yang bertebaran. Lalu marah pada orang-orang yang memvaksin anaknya, mengampanyekan dengan terukur untuk melakukan vaksinasi pada orang-orang di sekitarnya. Saya sarankan, untuk sering-sering membuka web IDAI. Kenapa? Baca sajalah.

Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi yang baik tak semata dari pemikiran yang kita benarkan, butuh bergerak untuk mencari informasi yang akurat. Bukan informasi setengah-setengah lalu galau. Lalu memilih diam. Memilih untuk berhenti bergerak. Kemudian keruh, layaknya air yang tak tau hendak ke mana.

Dan juga, postingan ini bukan untuk lapak debat, hanya kegelisahan seorang ibu yang setiap hari mendapat pertanyaan, “Kok anaknya divaksin?” Sesungguhnya, ikhtiar lebih Allah sukai daripada menyerah lalu menunjuk-nunjuk, menyalahkan.

Terimakasih dokter-dokter yang sampai saat ini masih semangat mengampanyekan vaksinasi. Membuat kami yakin bahwa masih ada dokter yang peduli pada pencegahan, bukan semata menunggu pasien sakit lalu diobati.

 
Banda Aceh, 15 Maret 2016

 

@cutdekAyi

You Might Also Like

6 Comments

  • Reply
    yofani
    15 March 2016 at 16:48

    Epic post ayi!
    well said :)

  • Reply
    cutdekayi
    24 March 2016 at 22:42

    Sama-sama :)

  • Reply
    Hairiyah Umar
    25 March 2016 at 21:29

    Sharing yang bagus ukhti 😊 semoga bisa member ikan pencerahan kpd ibu-ibu yg masih ragu.

    • Reply
      cutdekayi
      25 March 2016 at 21:35

      Aamiin allahumma aamiin :’) berharap banget gitu, mbak. Terimakasih sudah mampir ya mbak :)

  • Reply
    Rach Alida Bahaweres
    1 May 2016 at 12:02

    Mba Ayi, aku selalu vaksin anakku. Khususnya vaksin wajib setahun itu. Ada tetanggaku yang milih ga vaksin anaknya yang ketiga. Karena anak 1 dan 2 di vaksin tapi nggak ada efek apa2. Pdhl efeknya kan ntar kalo udh gede. Aku udah bilangin manfaat vaksin

  • Leave a Reply