pregnancy

Pengalaman Melahirkan SC Anak Pertama

Di minggu-minggu terakhir kehamilan, hal yang kurasakan adalah deg-degan. Berkali-kali bertanya kepada orang yang melahirkan secara normal, bagaimana rasanya? Apakah mereka juga merasakan takut seperti yang kurasakan saat ini? Jawaban yang paling mantap menutupi ketakutanku pun meluncur dari seorang kerabat. “Setakut-takutnya melahirkan, bunda jauh lebih takut saat Dek Seysa ngga lahir-lahir, Yi.” ujarnya. Oke SIP!

Dan ternyata hal ini terjadi padaku…

Sejak awal hingga di saat kontrol terakhir (di dokter yang sama pastinya), estimasi tanggal kelahiran selalu berubah-ubah. Mulai dari 4 November, maju ke 22 Oktober dan 27 Oktober. Alhamdulillah hingga kontrol terakhir tidak ada lilitan, bayi sudah masuk panggul dan insya Allah bisa melahirkan normal. Akupun sangat yakin kalau insyaAllah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Tiba di tanggal 22 Oktober. Aku masih nyantai dan tenang. Belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Kontraksipun masih bisa kututupi dengan tertawa. Bundaku menyuruhku untuk check up kembali ke dokter (sebut saja dokter1). Namun, yang tertera di buku kontrol disuruh balik jika tanggal 27 Oktober belum lahir juga. Karena takut malu balik sebelum waktunya, akupun ke dokter yang lainnya (sebut saja dokter 2). Berpedoman dengan hari haid, dokter 2 inipun mengecek bukaan. Dan rasanya ehm agak sesak dan sakit. Mungkin karena si dokter -agak kurang lembut- ya. Dan hasilnya? Ga ada bukaan. Beliaupun menyuruh kami menunggu hingga 4 November 2015.Oke deh.

Hingga tiba di tanggal 27 Oktober.
Dan akupun ngga ngerasain tanda akan melahirkan, apapun itu. Baik pecah ketuban, keluar lendir atau mulas yang teratur. Berkali-kali googling mencari tau bagaimana agar segera melahirkan. Mulai dari jalan pagi hingga turun tangga bolak-balik, sudah sejak bulan ke-7 kehamilan rutin kulakukan. Namun nihil. Hingga kamipun balik ke dokter 1. Darinya kutau bahwa Kizain sudah terlilit 1 tali pusat dan ketuban semakin sedikit. Disuruh tunggu lagi sampai tanggal 4 November. Hmm.. Agak panik sih. Karena dari awal si bayi ngga ada masalah apapun. Oke deh, kita tunggu lagi.

Namun…lagi-lagi bundaku menyuruh untuk mencoba ke dokter yang lainnya. Menurut bundaku di minggu 37-38 itu seharusnya sudah ada tanda. Atau bunda berfikiran jangan-jangan aku sudah ada tanda namun akunya yang ngga sadar? Entahlah~
Karena bundaku melakukan hal itu lagi dan lagi, akupun mencoba mengecek buku USG dan kembali mengingat-ingat kapan sebenarnya hari terakhirku haid. Kucari-cari dan kudapati catatan -masa suburku- yang sudah tersimpan di tempat yang tak pernah kujamah lagi. Kutemukan bahwa hari pertama haidku adalah 14 januari 2015. Itu berarti yang aku infokan ke dokter-dokter adalah hari haid terakhirku, bukan hari pertama haid terakhir (HPHT). Segera kuhubungi kerabatku seorang dokter umum dan kunyatakan hal tersebut. Beliau menyuruhku untuk ke dokter lagi dan nyatakan hal ini. Karena ini akan berakibat fatal untuk si bayi jika tidak ada tanda akan lahir juga. Aku ngga tau fatal gimana tapi yang aku tau aku sudah mulai panik dan menghubungi Abang untuk membawaku ke dokter lagi. Kupikir USG itu sendiri yang tau berapa umur kehamilan, tapi ternyata tidak. Umur kehamilan ya berdasarkan tanggal yang kita beritahukan. Okesip berarti aku melakukan kesalahan yang…fatal!! Maaf agak lebay tapi karena ini anak pertama dan kehamilanku yang pertama, aku kacau dan mulai panik!

Dan kulakukan…. USG di dokter lainnya (sebut saja dokter3) dengan info terbaru, yakni tanggal haid yang kuperbaharui.
Alhasil info terbaru yang kudapat adalah bayiku sudah terlilit dua tali pusat dan ketubanku hanya tersisa di daerah *maaf* pantatnya saja. Aku gemetaran – gatau ngomong apa – ketika dokter3 berkata, “Ini bu, seharusnya kalo mau lahiran normal, sudah sejak sebulan lalu dicoba. Dan ini tidak saya sarankan untuk lahir di klinik atau bidan. Kalopun mau normal, ya diinduksi, dibantu. Dan itu harus di RS pendidikan. Jadi kasus untuk mereka. Dengan lilitan dua, kondisi ketuban dalam rentang 1-10 hanya tinggal 2 % saja, bisa ga ya lahir normal? Namun, kamar operasi juga dibuka sebab kemungkinan selamat hanya 30%. Kalo mau selamat ya SC aja, sama saya tujuh juta setengah. Itu juga karena saya pakai tim profesional, tim yang mantap!”

Ya Allah……….apalagi ini. Antara menggigil karena kedinginan atau karena takut sama operasi atau karena terkejut akibat perkataan dokter3, akupun mengigit ujung jaket yang kukenakan hari itu. Kulirik Bunda dan Abang (keduanya ikut menemani), kulihat guratan sendu dan panik terukit di wajah mereka. Dan aku sangat tau rasanya.

“Ini langsung saya bikin rujukan ya. Saya bikinnya pasien gawat, agar segera ditangani. Pakai BPJS apa?” sambungnya ditengah kegalauan.

“JKA, dok.” jawab Abang.

“Waduh, kalo JKA nanti sekamar sampai 20 orang lho! Mau?”

“Ya, kalo mau tidur nyaman kan di rumah, Dok. Bukan di RS kan?” sahut Bundaku.

“Iya juga ya bu. Oh iya, ini langsung masuk sebelum maghrib malam ini juga ya. Jangan masuk jam 21.00 karena belum tentu jam segitu akan langsung kami operasi. Bisa saja jam 02.00 dinihari. Namun, saya kan ngantuk juga jam segitu. Jadi bisa saja nanti ditunda lagi.”

“Kalau memang mau operasi harus malam ini juga ya, dok?” Kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan angka 18.10

“Ya. Makin cepat makin baik, itupun kalo mau selamat.” Astaghfirullah… Makin galau, asli.

Aku tak tau selanjutnya Bunda dan Abang ngomong apa lagi. Yang kutau, kusudahi pertemuan dengan dokter3 dan melanjutkanya dengan menangis di dalam mobil. Selain takut karena operasi, aku juga tak pernah terfikir akan mengeluarkan biaya untuk melahirkan -segitu banyak- biaya. Kulihat Abang, dia berusaha menguatkanku.

“Apapun yang terjadi, soal biaya jangan difikirkan. Itu sudah jadi tugas Abang.”

Sesampainya di rumah, kami istikharah. Dan bersiap-siap menuju RS. Sebelumnya sudah tanya ke teman dokter mana yang bisa pakai BPJS. Tapi ternyata dokter tersebut sedang melakukan perjalanan dinas.

Sesampainya di RS pukul 19.30. Dan di sana kami berikhtiar untuk coba USG dan periksa lagi ke dokter yang ada di RS tersebut. Dokter yang kalaupun harus operasi, insya Allah tidak ada biaya apapun. Semuanya ditanggung BPJS, sekalipun JKA.
Beliau tidak bilang apa-apa soal lilitan, hingga aku yang bertanya. Alhasil beliau menyarankan untuk induksi dan masuk RS esok paginya.
“Gapapa Dok sudah ada lilitan tapi masih dicoba induksi? Ngga berbahaya dok?” Maklum, agak mewek karena sudah mendapatkan info yang menghujam jantung sore tadi.
“Bismillah, kita coba ya. Ini surat rujukan besok pagi.”

Tenang banget rasanya… ketika si dokter berusaha meyakinkan dengan sebegitu hangat dan tidak menakutkan pasien.

Kamipun segera pulang. Dan sesampainya di rumah, baru kutau bahwa suamiku jungkir balik ketakutan. Beliau ketakutan kalau memang jadi operasi, bagaimana nasibku dan si bayi. Apakah keduanya akan selamat? Atau tidak? Deu..kamipun introspeksi diri malam itu. (Bagi Ayah ataupun calon Ayah pasti tau bagaimana rasanya hal ini)

Keesokan harinya.. Kamipun menyiapkan segala hal dan tiba di RS tepat pukul 08.30 WIB. Setelah mengurus segala berkas, akupun masuk ke ruang tindakan, ruang persalinan. Si kakak bidan yang luar biasa lembutpun menyatakan kesiapanku.
“Sudah siap kan bu?”

“Memangnya kenapa gitu, kak?”

“Iya, sudah siap diinduksi kan?Kadang, masih mau nunggu lagi.”

“Oh, insya Allah sudah kak. Memangnya induksi itu gimana sih kak?Dan berapa lama? Kata kawan saya sakit ya Kak?” Maklum, agak polos. Soalnya info yang saya dapat dari teman yang juga diinduksi, memang cepat lahirnya namun sakitnya luar biasa. Lebih sakit dari melahirkan normal. Tapi aku sih ngga takut. Aku lebih takut kalo bayinya ngga lahir-lahir.

“Nanti ada induksi kolf 1 dan 2. Kita coba 1 dulu, biasanya 3 jam sudah lahir. Kalo ngga lahir juga, mungkin ditambah jadi 6 jam. Sesuai intruksi dokter, dek.”

“Oh gitu.. Berarti tu langsung sakit kak pas diinfus?”

“Tergantung. Nanti ngga langsung tinggi, dek. Bertahap. 5 tetes dalam 30 menit, trus 10 tetes.. Begitu terus sampai terasa sakit dan ada bukaan. Ini sebelum dipasang infus nanti cek bukaan dulu ya.”

Oke deh kak, aku udah pasrah, udah tawakkal. Segeralah akupun masuk ke salah satu bilik tindakan dan dicek bukaan. Si kakak lembut banget, ga terasa sesak atau kesakitan walaupun hasilnya belum ada bukaan, hehehe. Akupun dipasang infus dengan 5 tetesan awal untuk setengah jam-an ke depan. Deg deg an? Wih bukan lagi. Tapi karena jemari digenggamin Abang aku jadi mendadak jadi superhero sang pemberani.

Bismillah insya Allah lahir normal hari ini ya anakku.

30 Oktober 2015

 

Pasang infus induksi (syntho) tepat pukul 10.00 pagi.

1 jampun berlalu

“Gimana dek? Udah ngerasain sakit?” Kata Kakak Bidan.

“Ngga ada, Kak.”

“Oke kakak naikkan lagi ya jadi 10 tetes.”

Dokter pun masuk dan memeriksa keadaanku. Sambil memegang perutku beliau berkata, “Ini jam 1 sudah harus lahir, ya”

Deg! Akupun melirik Abang. Beliau tersenyum, menguatkan. Sepeninggal dokter, beliaupun meminta izin. Katanya ingin mengaji dan menghadiahiku surah Yusuf & Maryam. Hingga akupun tertidur, walau hanya 10 menit saja.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Abang minta izin ke masjid untuk jumatan. Jujur saat itu aku tidak ingin ditinggal. Mulas di perutku sudah mulai terasa dan membuatku -harus- menahan nafas sesaat. Namun abang berjanji akan segera kembali dan Bunda yang dari tadi menungguku di luar bersama ayah berganti menjagaiku. Aku merasa seperti banyak sekali merepotkan orang dan ingin sekali menangis. Sebab, ke kamar mandipun aku ngga bisa sendiri sebab infus harus ada yang pegangi. Heu heu.

Selama Abang Jumatan, berkali-kali ingin kupejam mata. Tapi apadaya ngga bisa, deg degan banget menunggu waktunya tiba. Perawatnya masuk dan mengecek bukaan kembali…

‘Wah, masih belum ada nih dek. Kakak telfon dokter dulu, ya’

‘Dek, kata dokter ini induksinya dilanjut lagi sampai nanti maghrib. Kita naikkan lagi ya’

Maghribpun tiba. Perawatpun kembali untuk memeriksa bukaan.

‘Wah dek, kok makin kuncup ya? Sudah siap untuk operasi saja?’

Deg.. Operasi? Kan maunya normal kok malah operasi?

‘Nanti kita tunggu dokter masuk ya. Apa dilanjut lagi induksinya atau tidak.’ katanya.

30 oktober 2015 pukul 23:45

Dokterpun masuk, dan memeriksa kondisiku.

‘Ini belum ada sakit juga?’

‘Belum, dok’

‘Perutnya masih kecil ya. Ya sudah besok kita usg ya.’

Iya dok, apapun keputusan saya ikut aja. Dan malam kuhabiskan dengan bercanda dengan abang. Padahal di kiri kanan kami ada yang sedang melahirkan. Sesekali aku terdiam dan menghayati rasa sakit mereka. Berharap dini hari ini anakku lahir ke dunia.

31 oktober 2015 pukul 12.00

Akupun di usg. Entah bagaimana kondisi janinku, dokter tidak berkata apapun lagi.

‘Jadi bagaimana? Mau diinduksi lagi?’ tanyanya

‘Boleh dok. Tapi gimana dengan janinnya?’

‘Iya ini sudah kelilit dua tali pusarnya. Dan ada di leher. Kalo diinduksi lagi, sayang bayinya.’

Dan akupun galau. Apakah pengen induksi lagi untuk mengedepankan keegoisan dan kegengsian atau memilih operasi? Di keluargaku belum ada yang menjalani sc kecuali iparnya bunda. Jadi aku takut untuk sc karena keluarga besar berharap bisa normal. Tapi apakah aku bisa mengedepankan keinginan?

‘Sc saja dok.’ suamikupun buka bicara, menatapku menguatkan. Ya akhirnya kami memilih untuk sc. Kukira sebelumnya, kalo ngga sakit juga aku masih boleh pulang ke rumah untuk menunggu lagi. Tapi ternyata ngga mungkin ya, hehehe

Operasikupun akan dilaksanakan pukul 18.00 wib sore ini juga.

18.00 WIB
Akupun dibawa ke ruang operasi. Dan setibanya di sana ternyata ada dokter lain yang sedang melakukan operasi. Akhirnya jadwalku molor jadi pukul 22.00 wib. Aku meminta untuk bertemu keluarga, sholat dan makan (aku sudah puasa sejak pukul 1 siang). Tapi perawat mengatakan bahwa aku tunggu saja di sini. Karena sudah steril dan tidak ada perawat yang membawaku untuk turun. Dengan tangan diinfus dan punggung yang lelah, akupun menghela nafas. Baiklah, tinggal sedikit lagi. Aku harus sabar.

21.30
Dokter anastesinya tiba.
Awalnya aku tak menyangka beliau adalah dokter anastesi. Dari penampilan kurang meyakinkan. Hingga beliau membuka pembicaraan denganku
‘Ibu yang seharusnya operasi jam 6 tadi, ya?’
‘Oh, iya.’
‘Ibu sabar sekali ya menunggu sampai pukul 10. Pasti suaminya senang punya istri sabar.’
‘Karena saya ngga dikasih turun sama perawatnya. Jadi saya tunggu saja.’ jawabku sedikit jutek. Hehehe

Akupun masuk ke ruang operasi yang luar biasa dingin tepat pukul 22.00. Dokter yang tadi mengajakku berbicarapun menyuruhku duduk dengan membungkuk dan menyuntikkan cairan anastesi di punggungku.

Dan dengan secepat kilat merekapun bekerja. Aku merasa haus dan minta air minum. Yang dikasih malah guyuran cairan infus. Satu dua kali aku tidak mampu menarik nafas. Terlebih ketika bayiku ditarik keluar. Posisinya sudah sangat dekat dengan jalan lahir. Sehingga proses penarikannya pun penuh drama.
Beberapa kali ingin tertidur tapi doter anastesi sigap mengajakku berbicara.

Dan Kizainku pun lahir ke dunia, tepat pukul 22.30 tanggal 31 Oktober 2015.

Selamat datang, sayangku.

Suamiku yang menunggu tepat di luar ruangan langsung diizinkan masuk dan mengazankan bayiku. Aku diizinkan untuk mencium bayiku tapi belum boleh ketemu untuk waktu yang lama hingga aku tiba di kamar perawatan.

Dari kehamilan dan melahirkan kizain, aku mencatat banyak pelajaran, salah satunya jangan menganggap remeh orang2 yang melahirkan, baik itu sc ataupun normal.

 

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply