Kesehatan

Dukung Rokok Harus Mahal dan Tak Bisa Dibeli

IMG-20180626-WA0006

Sudah banyak fakta buruk tentang rokok yang kita ketahui. Dari berbagai iklan yang ditayangkan, kampanye anti rokok yang diselenggarakan hingga penyakit & kematian yang terjadi akibat efek buruk rokok. Namun sayangnya, banyak pula dari masyarakat kita yang seolah tutup mata dan membiarkan efek buruk itu tumbuh perlahan dalam dirinya.

Sejak lahir hingga saya berumur 7 tahun, ayah saya adalah seorang perokok. Tanpa rokok, dia tak bisa beraktivitas. Kami sekeluarga menjadi perokok pasif yang tak bisa berbuat apa-apa. Diingatkanpun, paling ayah hanya berpindah tempat saja. Ia tetap menghisap rokok nun jauh di sana. Berbahayakah menjadi perokok pasif? Yap, perokok pasif adalah masyarakat yang menghirup asap rokok orang lain yang akan berakibat meningkatkan risiko asma, kanker paru-paru, beberapa masalah pernapasan, masalah jantung dan infeksi telinga.

Saya bersyukur, meski Ayah saya adalah seorang perokok, beliau tetap membelikan saya majalah anak-anak dari hasil keringatnya. Kadang, jikapun uangnya kurang, ia menunda membeli rokok untuk sesaat, dan mengedepankan majalah anak-anak yang saya inginkan.

Hingga suatu ketika, majalah anak-anak langganan kami menuliskan cerpen tentang Bahaya Merokok;  Saya membacanya dengan seksama, bisa bayangkan usia 7 tahun bacaannya tentang rokok? Yes, bisa! Dari bacaan itulah saya meniru si pemeran cerpen yang membuat poster No Smoking dengan gambar puntung rokok terbakar dan tanda silang di atasnya.

Gambar tersebut saya jiplak di atas kartin putih berukuran undangan ulang tahun anak-anak, saya berikan untuk Ayah tepat di hari ulang tahunnya. Setelah Ayah baca, Ayah menempelkannya di dinding kamar agar selalu diingatnya.

Masih saya ingat, selepas saya berikan hadiah ulang tahun untuk Ayah, mulai berdatangan undangan menjenguk teman-teman seumuran Ayah yang dirawat di RS. Mereka adalah PNS, yang notabene biaya kesehatannya ditanggung pemerintah, dan masuk RS karena rokok: beberapa penyakit berbahaya yang diakibatkan oleh rokok diantaranya adalah paru-paru, impotensi, lambung, dan stroke.

Dan Ayahpun mulai terguncang. Apakah beliau berhenti merokok seketika? Tidak. Ayah berhenti perlahan, dimulai dengan tidak membeli mancis/korek api. Jadi, Ayah hanya meletakkan puntung rokok saja di bibirnya, namun tidak dibakar. Hingga 5 bulan setelahnya, Ayah berhenti total. Sebab, teman-temannya yang dirawat di RS, tidak bisa kembali ke kantor karena penyakitnya semakin merajalela.

Syarat Jadi Suami Saya: Tidak Merokok!

12 tahun setelah Ayah berhenti merokok, datang seorang pria hendak melamar saya. Dari semua syarat, ada satu hal yang perlu disepakati, yakni beliau tidak merokok dan tidak akan pernah merokok. Alhamdulillah, ternyata beliau memang seorang pria yang membenci rokok dan perokoknya. Apalagi bila perokok itu merokok di depan istrinya, juga anak-anaknya. Awalnya saya tak paham bagaimana maksudnya. Setelah menjadi istrinya dan status saya berubah menjadi seorang Ibu, barulah saya paham mengapa.

Sejak saya hamil dan melahirkan, beliau semakin berani menegur orang merokok. Tak tanggung-tanggung, dari kalangan manapun, bermobil atau tidakkah beliau tetap menegur bila si perokok menghembuskan asap dekat ke saya dan anak-anak. Dan kebanyakan perokok yang kami jumpai tersebut adalah kalangan menengah ke bawah. Yang notabene anggota BPJS :'(

Kenapa kalangan menengah ke bawah bisa membeli rokok? Karena harga rokok di Indonesia termasuk dalam daftar 10 rokok termurah di dunia, bahkan bisa dibeli perbatang dengan harga seribu rupiah. Duh, jajan anak sekolah aja udah lebih dari 1.000,- ya? Ga heran, kenapa anak usia sekolahpun jadi coba-coba rokok dalam kesehariannya. Mereka lebih memilh rokok dibanding makanan bergizi yang sebenarnya seharga satu bungkus rokok itu udah bisa dapat menu 4 bintang.

Saya Dukung #RokokHarusMahal!

35482254_10213965399621330_3950658201879314432_n

Sejak menjadi ibu, saya makin intens  mempelajari menu seimbang, bahkan sampai hafal harga sayur demi mencukupi gizi keluarga. Jadi, ketika dengar radio KBR yang mengundang pemateri ternama, saya cukup miris sekali.

Fyi, KBR mengadakan 8 kali talkshow dan talkshow tentang #RokokHarusMahal dengan narasumber yang akan saya jabarkan adalah talkshow yang ke-5. Jadi masih ada kesempatan buat kita untk mendengarkan talkshow lainnya tentang #RokokHarusMahal yang bisa disimak lewat 100 radio jaringan KBR. Di Jakarta bisa disimak di Power Radio 89,2 FM. Kita juga bisa menyimaknya melalui aplikasi KBR Radio di Android dan iOS, serta fan page Kantor Berita Radio KBR.

Menurut Prof. Dr. Hasbullah Thabrany, MPH -Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI- (pemateri pertama) dalam talkshow bertema “Selamatkan JKN dan Kelompok Miskin, Rokok Harus Mahal” di dalam program Ruang Publik KBR di radio-radio jaringan KBR, Penelitian menunjukkan bahwa 70% perokok adalah anggota BPJS dan mayoritas dari perokok itu adalah golongan masyarakat kurang mampu dan berimbas pada klaim di BPJS untuk penyakit akibat rokok adalah yang paling tinggi. Bisa dipastikan, dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang terbatas, terpakai untuk mereka-mereka yang kecanduan rokok. Peran pemerintah yang membiarkan harga rokok murah plus iklan rokok yang tayang bebas di mana-mana perlu dikendalikan. Kalau tidak, bagaimana nasib masa depan anak muda Indonesia?

Jika ditarik benang merahnya, rokok murah sungguh menghambat upaya pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas. Program pemerintah dalam pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan berbagai program pemberian gizi tambahan untuk anak-anak untuk mencegah stunting jadi tidak efektif. Akibatnya, bangsa Indonesia kurang bisa bersaing dengan Negara lain karena kualitas masyarakatnya jelek, contoh paling nyata dalam hal olahraga, Indonesia tidak mampu masuk Piala Dunia. Masih anggap remeh dengan efek buruk rokpk?

Menurut Yurdhina Meilissa – Planing and Policy Specialist Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI)- (pemateri kedua) dalam talkshow yang sama mengatakan bahwa negara kehilangan dana sebanyak 1,2 miliar akibat rokok ini.

Solusi yang memang harus menjadi perhatian pemerintah adalah #RokokHarusMahal. Minimal banget 100.000, sebagaimana survey yang telah dilakukan pemateri terkait hal ini, masyarakat menengah ke bawah akan mikir 3-5 kali buat beli rokok. Dana BPJS akan tercover dengan baik sebab pengguna BPJS yang merokok jadi ga melulu ke dokter paru-paru buat rontgen kondisi paru-parunya. Jadi semangat buat mencari nafkah, sebab merekalah tulang punggung keluarga.

Dengan #RokokHarusMahal, juga bikin anak-anak perokok jadi tidak menjadi perokok pasif dan tidak mampu membeli rokok akibat harganya yang mahal. Mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas pikiran dan sehat raganya. Rokok, sungguh efek buruknya bikin mamak tiap malam berdoa agar anak lelaki mereka tak menjadi perokok yang candu dan mengganggu udara yang sehat.

Kita, sebagai perempuan, dan pendidik generasi masa depan, wajib berada di garda terdepan yang menolak kehadiran rokok. Bilapun rokok tetap ada, maka #RokokHarusMahal. Cara berikutnya lain dengan mendukung dan menandatangani petisi #RokokHarusMahal di link berikut ini: Change.org/rokokharusmahal

Saya jadi rindu Ramadan. Sebab hanya di ramadanlah suasana Banda Aceh yang notabene muslim tidak ada asap mengepul pagi-pagi. Tidak ada asap ditiup siang hari, dan bayi-bayi bebas jalan ke mana aja tanpa orangtuanya perlu melihat lokasi, apakah banyak perokok atau tidak.

Rokok, mahal-lah. Tolong kami.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply