pregnancy

Hamil Jarak Dekat

_20161003_095936

Allah Maha Berkehendak. Setiap kehendakNya, banyak yang mengejutkan, memang. Tapi, saya yakin Allah tidak akan memberikan beban melebih kemampuan hambanNya. Termasuk beban menghadapi komentar miring kiri kanan tentang kondisi saya saat ini. Yang menjatuhkan, yang menyindir, ah semoga hati saya terus lapang selapang-lapangnya lapang.

Alhamdulillah, Allah izinkan saya hamil lagi tepat diusia Kizain menginjak 7 bulan. Awalnya, saya bingung dengan kondisi badan yang kurang enak dan kembung yang tak kunjung berhenti. Saya pikir ini hal yang biasa karena pada saat itu saya sedang berpuasa (tepat di bulan Ramadan) namun tetap menyusui. Dan lagi saya tidak ingat kapan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) saya, sehingga saya belum bisa menyimpulkan kondisi saya tengah hamil muda.

Namun, suami terus memaksa. Karena beliau yakin saya tengah hamil. Akhirnya saya testpack. Setelah di testpack, ternyata benar saya hamil lagi.

Baca: Kisah Kehamilanku

Saat tau hamil, rasa berkecamuk mulai mendatangi dada dan fikiran. Terbayang saat proses kelahiran Kizain dulu yang qadarullah harus di SC, awal-awal pemberian ASI yang penuh kontroversi, hingga proses recovery SC yang bersamaan dengan bayi newborn yang butuh mimik di malam hari. Takut? Iya. Terkejut? Iya. Bahagia? Iya.

Kizain Syamil Rabbani-ku saat baru lahir

Kizain Syamil Rabbani-ku saat baru lahir

Namun, yang paling saya takuti dari semua hal adalah para komentator yang datang silih berganti. Kok nggak KB? Kok cepat kali? Ngga kasian apa sama anak pertama? Duh saya jadi makin stress, sebenarnya. Apa hidup ini memang terus butuh dikomentari, ya? Padahal orang-orang seperti saya ini butuh dikuatkan, disemangati dan mengingat lagi kehadiran si jabang bayi adalah kehendak Allah. Bukan semata-mata ‘cling’ langsung jadi.

Baca: Pasca SC

Saat akan jujur ke bunda saja rasanya ada perasaan ketakutan tersendiri. Takut bunda marah karena saya yang tidak bisa ‘menjaga’ juga takut bunda ikut komentar yang aneh-aneh. Tapi, ibu memang yang terbaik. Bunda malah bersyukur akan diberi cucu lagi. Dan menyemangati saya agar tetap setrong dengan memberi poding telur setengah matang setiap hari.

Selanjutnya saya harus menghadapi keluarga besar. Kakak beradik bunda dan ayah yang tinggal berdekatan dengan kami. Termasuk makwo (kakak ayah yang berprofesi sebagai bidan), yang ternyata malah berkata,”Biar aja dia hamil lagi, gapapa. Alhamdulillah.’ Demikian. Dan respon keluarga lainnya juga turut mendoakan agar kandungan dan saya baik-baik saja. Saya bersyukur sekali berada di lingkungan orang-orang yang baik dan semoga Allah terus mengizinkan kita mendapat hidayahNya.

Saya semakin tenang menjalani hari-hari. Tidak perlu nahan-nahan nafas setiap jumpa keluarga. Tidak perlu nahan-nahan perut, meski belum keliatan buncit.

Baca: Selamat datang anakku

Suami bertekad, bahwa kehamilan kedua ini harus tetap diperlakukan sama dengan saat saya hamil Kizain dulu. Mulai dari nutrisi hingga rajinnya kami ke dokter setiap bulan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Tetap bahagia sebagaimana menyambut kehadiran anak pertama. Mulailah kami mengupgrade sabar dan syukur bahwa ini adalah hadiah menyongsong usia pernikahan yang akan menginjak 2 tahun November mendatang.

hamil jarak dekat

Saat akan ke dokter, saya mencari info di mana dokter yang pro dengan hamil jarak dekat dan pro NWP alias nursing while pregnant. Bertanya ke sana ke mari, tak ada jawaban pasti. Abang mengambil kesimpulan untuk ke dokter yang sama, tempat Kizain di usg dahulu.

Menjelang dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter, jantung saya berdegup kencaaaaaang sekali. Berusaha menerka-nerka jawaban yang atas setiap pertanyaan dokter agar kami tidak keliatan seperti orang yang tidak punya rencana kehidupan (?). Dan ternyata, respon dokternya baik dan sangat ramah. Cuma yang disayangkan, niat VBAC (Vaginal Birth After Caesar) harus dibuang jauh-jauh karena menurut dokter saya harus SC lagi. Tapi gapapa, suami menyemangati. Yang penting ibu dan janin sehat selamat, terserah bagaimana proses kelahirannya.

Dokter menyatakan bahwa kondisi janin baik-baik saja, sehat sempurna insya Allah. Karena saya lupa HPHT, jadi dokter mendeteksi umur lewat USG dan insya Allah due date 3 Februari 2017. Mohon doanya, teman-teman.

Hamil Jarak Dekat

Alhamdulillah juga dokter tetap mendukung saya untuk NWP (Nursing Whilr Pregnant). Namun, saya tetap harus berhati-hati. Karena selama hamil, hormon penghasil ASI akan cenderung berkurang, sehingga asupan Kizain harus lebih banyak diberikan lewat makanan sehari-hari. Saya juga harus berjaga agar ketika proses menyusui berlangsung, tidak terjadi kontraksi rahim. Dan sayapun harus tetap bahagia agar hormon oksitoksin terus bekerja. Kalaupun harus sufor karena ASI sudah tidak mencukupi, saya menunggu usia Kizain setahun dulu agar bisa mengenalkannya pada susu UHT dan reaksi alergi susu sapi yang jadi momok menakutkan para ibu-ibu berkurang karena usia ananda sudah setahun.

Terlalu banyak PR yang harus saya kerjakan. Tapi alhamdulillah saya diberi pendamping yang begitu pengertian. Pengalaman hamil jarak dekat membuat saya belajar banyak hal.

Mengurus bayi yang beranjak toodler sembari hamil, kadang-kadang memang terasa sangat melelahkan. Si Abang yang masih butuh perhatian dan butuh banyak stimulasi agar otaknya terus berkembang dengan baik, kadang-kadang menyita waktu istirahat saya. Namun, siapa sangka? Allah memberi kekuatan yang lebih di pundak saya di kehamilan kedua ini.

Saat ini, kandungan sudah masuk usia 6 bulan. Kizain sedang aktif-aktifnya belajar jalan. Alhamdulillah saya masih diberi kekuatan untuk menggendongnya, menyusuinya, memandikan dan bermain dengannya. Beberapa waktu ketika suami sedang  di rumah, baru saya beristirahat. Dan Kizain begitu pengertian akan kondisi saya. Banyak sekali yang mengatakan bahwa jika ibunya hamil, maka si anak pertama akan rewel. Tapi saya tidak merasakan Kizain rewel. Dia tetap seperti biasanya. Bahkan kalo digangguin dengan kalimat,”Kizain sudah mau jadi abang lho, nak,” dia tersenyum dan mendekat ke saya.

Berbeda sekali dengan kondisi saya saat hamil Kizain dulu. Usia 5-6 bulan saja sudah malas diajak jalan-jalan. Maunya ngadem aja di rumah. Malas makan, maunya makanan yang dipengenin aja. Dan lagi sedikit ngantuk, selalu tidur. Kalo sekarang? Rasanya lebih produktif. Mungkin ini yang dinamakan cinta ❤ Semoga Allah terus menguatkan saya saat hamil besar nanti dan terus hingga adiknya Kizain lahir dan dimampukan mendidik mereka menjadi anak sholeh dan sholehah, investasi akhirat kelak.

Saya membayangkan, banyak sekali ibu-ibu hebat di luar sana yang bahkan mungkin jarak kehamilan dengan usia anak pertama hanya 3,4 dan 5 bulan saja. Tapi mereka tetap mampu dan Allah kuatkan untuk terus beraktivitas. Ini juga yang memacu saya untuk terus bergerak, tidak diam membisu begitu saja.

Capek itu lumrah. Namun, kebahagiaan akan menimang anak kedua di usia muda jauh melebihi di atas kadar capek. Saya husnudzon bahwa hamil jarak dekat ini membawa kebaikan. Ketika nanti berusia 40 tahunan, insya Allah anak-anak sudah mandiri. Saya dan suami bisa terus melejit mencapai mimpi -sekarangpun begitu-

Alhamdulillah. Semoga Allah ridho dengan apapun yang kita kerjakan.

Siapa bilang nikah muda tidak bahagia? Siapa bilang hamil jarak dekat tidak bahagia? Ah, bahagia itu kita yang ciptakan, bukan orang lain. Tanya lagi hati kita setiap kali kita bersedih dan menyendu disudut pintu. Mungkin ada syukur yang belum kita selesaikan. Mungkin ada stock sabar yang belum kita pergunakan.

Tetap semangat dan berbahagialah, ibu-ibu. Semoga kehamilannya menyenangkan :)

Salam,

cutdekayi

You Might Also Like

21 Comments

  • Reply
    Rach Alida Bahaweres
    3 October 2016 at 10:27

    Mba Ayi, aku sering banget lihat ibu2 yang hamil jarak dekat. Dan sejauh ini aku lihat, mereka bahagia bahagia saja :)

  • Reply
    nur aliah saparida
    3 October 2016 at 11:14

    Semangat ya dek…semoga persalinan lancar dan sehat ibu dan anaknya…selamat abang kizain mau punya dedek ya..jagain bunda sama adeknya ya nak…salam peluk dari mas Umar..

  • Reply
    Shona Vitrilia
    3 October 2016 at 12:36

    Saya juga deketan mba 😀
    Anak pertama usia mau 3 bulan, saya isi lagi Alhamdulillah. Tapi rerata yg komen Alhamdulillah ga ada yg menjatuhkan, pd bilang “ga papa ntar tinggal ngegedein anak aja. Repot sekalian.” Kata mereka. Meski ada juga sih komen miring tp ga banyak, sayanya tutup kuping aja :p

  • Reply
    Witri prasetyo aji
    3 October 2016 at 14:37

    Selamat dan semangat yaa, mbak
    Anak itu rejeki, pantas disyukuriiii

    Bnyak orang di sekeliling aku yg harus berjuang demi mendapatkan anak dan salah satunya sepupuku sendiri

  • Reply
    Hana Aina
    3 October 2016 at 15:34

    Saya sih percaya, setiap anak membawa rezekinya sendiri. Jadi apapun itu tak perlu was-was ^^

  • Reply
    tutyqueen
    3 October 2016 at 15:56

    rapat ya mbak..sama kayak aku dan abangku yang jaraknya berdekatan :)

  • Reply
    Rotun DF
    3 October 2016 at 16:37

    Peluuuuukkkk :* :* :*
    Aku dulu jarak 2th diomelin mulu sama Ibu, hahaha.
    Beruntung Bunda support ya Deeeek. Semangat terus! :)

  • Reply
    Lendyagasshi
    3 October 2016 at 16:49

    Ayi,
    Samaan….

    Aku juga dl jarak deket antara yg pertama dan kedua.

    Bikin kesel krn banyak yg nyinyirin.
    Terutama saudara dari pihak ibu dan Bapak yg memandang sebelah mata.

    Uuhuuhhuuhh…

    Alhamdulillah,
    Suami menguatkan.
    Ditambah mama mertua yg baiik hati.

    *kami merantau, jadi ketemu sodara jarang.
    Sekalinya ketemu malah ngomongin. Kan sebel banget ya…

  • Reply
    Dina Safitri
    3 October 2016 at 18:34

    wah, happy pregnant ya mba.. saya juga sempat galau kalau telat, krn sampai anak umur 11 bln blm kb, hehe

  • Reply
    sri wahyuni
    3 October 2016 at 20:29

    Omongan orang mmg suka biki pusing kita. Jangan terlalu dipikirkan, lebih baik fokus pd kehamilan biar si adek dalam perut sehat terus. Ayo semangat, jadi ibu yang hebat itu mmg gak mudah.

  • Reply
    Julia Amrih
    3 October 2016 at 20:41

    Barakallah atas kehamilannya Mba’, di mata orang kita mah nggak pernah bener, ada aja kurangnya. Semangat terus ya bumil dan keluarga.. :)

  • Reply
    Titis Ayuningsih
    3 October 2016 at 21:12

    Alhamdulillah ya, rezeki luar biasa dariNya semoga sehat selalu dan tetap semangat! Jangan galau lagi :p

  • Reply
    hilwa salsabila
    3 October 2016 at 21:44

    Semangat kak ayiiiii \^^/

  • Reply
    Nurul Fitri Fatkhani
    4 October 2016 at 04:55

    Gak usah dihiraukan pendapat orang lain, Dek. Yang positif ambil, yang negatif, buang jauh. Yang ngejalanin hidup ini, kan kita sendiri. Keberhasilan, kebahagiaan ada dalam genggaman tangan kita. Yuk, ah…semangaat. Inget Kizain dan dedeknya…😊

  • Reply
    Rani Yulianty
    4 October 2016 at 05:18

    Semangat ya dek ayi, semoga kehamilannya lancar, alhamdulillah dek ayi berada di lingkungan yg positif yaa

  • Reply
    Ajen Angelina
    4 October 2016 at 05:44

    Semoga kandungannya sehat yah Ayiii… Btw kehamilan jarak dekat susahnya pas waktu kecil aja. Pas udah gedee seru lohh. Eg Ayi udah melahirkan yah?
    Sehat selalu yah Bumill

  • Reply
    Helena
    4 October 2016 at 13:41

    Semangat ya bumil dan busui! Semoga sehat-sehat terus. Pinternya si abang udah bisa jagain bunda dan calon adek

  • Reply
    azizahnazi
    5 October 2016 at 10:54

    Happy pregnant ya aaaiii…. Salut!!! Kak baru lahiran aja masih agak takut mau hamil lagi xixixi

  • Reply
    cputriarty
    6 October 2016 at 10:26

    Semoga dilancarkan semua hingga persalinan nanti yaa dik ayi

  • Reply
    Dedew
    7 October 2016 at 20:26

    Alhamdulillah, sehat selalu ya bumil cantiiiik…

  • Leave a Reply to Hana Aina Cancel Reply