pregnancy

Pengalaman Hamil Jarak Dekat (Post Operasi Caesar Dua Kali)

7FE2FA08-52B2-4D46-ABE1-16B9CF4EBB40

Ini adalah tulisan kedua saya, setelah tulisan sebelumnya berhasil menduduki peringkat pertama pencarian terpopuler di situs www.cutdekayi.com. Yang menyebabkan banyaknya para mahmud mengirimkan pesan by DM instagram ataupun via email. Tak lain dan tak bukan adalah bertanya tentang hamil jarak dekat.

Baca: Hamil Jarak dekat

Sejujurnya kalo boleh dikata, cerita yang akan saya tuliskan ini bisa jadi dirasakan oleh para ibu yang tak merencanakan hamil lagi. Tak semudah itu untuk saya menerima kehamilan lagi, setelah riwayat dua kehamilan sebelumnya sungguh merobek jantungku (?).

Yap, ini adalah kali kedua saya merasakan hamil jarak dekat. Setelah sebelumnya jarak saya melahirkan anak pertama dan hamil anak kedua itu hanya berselang 6 bulan, sekarang sebenarnya sudah lumayan jauh. Namun, bagi saya ini tetp deket. Sebab anak kedua saya belum selesai menyusu hingga dua tahun.

Saya dinyatakan hamil lagi saat Medina (anak kedua saya) berusia 15 bulan. Gimana ceritanya tau hamil?

Saya dan suami memang belum menggunakan alat KB yang spesifik. Kami hanya berpatokan pada periode menstruasi. Kami selalu melakukan ‘azl. Namun takdir Allah berkata lain. Satu dari sekian banyak berhasil menembus ovum dan berkembang di dalam rahim.

Seminggu pasca lebaran idul fitri yang lalu, saya merasakan pusing yang tak biasa. Badan mulai meriang, uring-uringan dan sebentar-sebentar capek. Saya kira ini adalah efek sebulan penuh berpuasa plus ngurus dua balita, yang mana satunya masih menyusu. Saya belum berfikir kalo kemungkinan besar saya hamil.

Tapi, saat mengingat jadwal terakhir haid, yaitu 10 Mei 2018, sudah telat seminggu, malah hampir dua minggu. Suami berinisiatif membelikan testpack agar jelas.

Setelah ditestpack, hasilnya garis dua. Allahu akbar, saya menangis sejadi-jadinya. Saya merasa makin gagal lah dalam hal mengurus Kizain Medina, saya merasa tak mampu menjadi ibu yang baik dan segala rasa bersalah yang saya yakin datangnya dari syaithannirrojim. Saya dilanda bingung dan berharap kalo ini bukanlah kehamilan. Karena memang saya dan suami tidak merencanakan untuk segera menimang bayi kembali.

Periksa ke Dokter

Setelah testpack bersuara, saya dan suami segera ke dokter keesokan harinya.  Respon dokter bikin saya deg degan. Apalagi jika ada riwayat plasenta lengket di rahim, bisa jadi yang ketiga pun akan tercetus hal yang sama; Plasenta Akreta.

Saya berharap dokter mau menggugurkan kandungan, namun apa daya denyut jantung janin sudah terdengar. Dan jika dilakukan kuretase tanpa sebab yang pasti, berujung kepada dosa dan pembunuhan.

Ya Allah maafkan hamba saat itu :'( Sesungguhnya yang bikin saya berat untuk menerima kehamilan ketiga ini adalah saya terus teringat support system kami yang tidak memadai. Saya tak punya saudara perempuan yang bisa menunggui saya di ruang pemulihan/kamar rawat inap.

Seperti tahun lalu, suami full time menjaga saya di ruangan, dan mondar mandir ke sana ke mari mengurus BPJS saya, BPJS Medina (yang harus masuk NICU pasca lahir). Ayah & Bunda hanya bisa mampir sebentar setiap harinya sebab Kizain saat itu masih 14 bulan dan butuh perhatian lebih.

Hingga akhirnya suami tumbang setelah saya pulang ke rumah. Gejala typhus. Sementara kami masih harus bolak-balik RS-Rumah demi mengantar ASI perah dan per2 jam saya susui Medina secara langsung.

Saya jadi teringat proses lahiran Medina yang mana cairan anastesi baru berhasil disuntikkan setelah 5 kali colokan. Aseli, lahiran Medina saya sampai minta izin ke dokter anastesinya untuk menggenggam tangannya (yang alhamdulillah saat itu seorang perempuan) karena saking menggigil dan takutnya saya. Proses SC hanya ditemani suami pukul 23.00 WIB.

Segala hal-hal ini terus membayang, dan saya semakin terjerat rayuan syaithan yang memang tak mau ummat Muhammad ramai. Saya main terpuruk hari ke hari tapi tidak di depan anak-anak. Berbagai macam obat keguguran sampai saya hafal di luar kepala dan berencana membeli tanpa sepengetahuan siapapun.

Tapi di setiap saya selesai sholat, saya seperti orang yang tak beriman. Saya kufur nikmat dan meragukan takdir Allah hanya karena takut satu dua hal yang  bisa jadi takkan terjadi.

Astaghfirullah hal adzim.. Saya mohon ampun kepada Allah atas kurangnya ilmu dan kufurnya saya :'(

Gimana dengan Ekonomi?

Saya dan suami berjuang dari awal banget membangun gumugu, sekarang setelah beranak dua, ekonomi hampir stabil, kami mulai berfikir untuk menyewa ruko.

Saat terdeteksi hamil lagi, saya khawatir dengan dana pendidikan anak-anak. Saya takut ekonomi kami terganggu lagi.

Namun siapa sangka? Setelah saya ikhlas dan ridho, kucuran dana datang entah darimana saja. Allah kirimkan rezekinya melalui klien-klien Gumugu yang tak pernah kami duga. Lebih dari cukup untuk ditabung, namun memang opsi menyewa ruko belum bisa kami realisasikan. Mungkin akan Allah beri di saat yang tepat. Bismillah. Alhamdulillah

Saya Bahagia, Tapi Takut

Hari demi hari saya terus mempositifkan pikiran. Saya tetap beraktivitas seperti biasanya. Saya melakukan banyak hal seolah tak sedang berbadan dua. Sekian detik terselip bahagia akan menjadi Bunda beranak Tiga. Tak perlu risau dengan perlengketan saat proses menyusui, dan berharap penuh bisa IMD di anak ketiga ini.

Namun sepersekian detik berikutnya saya takut, takut tak mampu menjadi Ibu yang baik, takut tak bisa mengelola emosi, takut kuliah makin keteteran dan segala ketakutan lainnya. Sebenarnya saya lupa meyakini Allah takkan memberi cobaan diluar batas kemampuan hambaNya.

Saya lupa kalo saya punya Allah Yang Maha Besar.

Sejujurnya yang paling saya takutkan adalah gimana cara ngomong ke orangtua? Selama ini Ayah Bunda selalu menjadi support system terdepan saat saya dan suami tak bisa membersamai anak-anak. Saya takut mereka semakin kerempongan, di usia yang sekarang seharusnya mereka bisa berleha-leha malah direpotkan dengan ‘Bun, hari ini titip anak-anak lahi, ya,’

Bulan berikutnya, ke Dokter lagi, kali ini saya percayakan kehamilan dan semoga bisa melahirkan sama dokter cantik, dr. Niken Asri Utami, Sp.OG, IBCLC.

Kali ini saya sudah memberanikan diri. Berbekal tilawah, tahajud dan dhuha yang saya amalkan sebelum bertemu dokter, saya siap dengan apapun hasilnya nanti.

Begitu masuk, dokter Niken terlebih dahulu menanyakan riwayat kehamilan dan melahirkan saya sebelumnya. Karena memang sebelumnya saya tak melakukan pengecekan di beliau. Dan ini jadi poin plus buat saya & suami sebab dari sekian dokter yang kami datangi saat hamil Medina, belum ada yang nanya gimana riwayat sebelumnya.

Hamil Jarak dekat part 2

Setelah panjang lebar bercerita, dokter Niken terlebih dahulu memecah keheningan dengan menjelaskan posisi plasenta. Alhamdulillah plasenta tidak tumbuh di bekas sayatan sebelumnya. Namun tetap harus dipantau karena makin hari janin makin gede, otomatis plasenta juga bisa berubah posisinya apakah mendekat ke bekas sayatan atau menjauh. Tapi, menurut dr niken sejauh ini ada clear zone di antara plasenta dan bekas sayatan,  selebihnya usia 28w akan dilihat kembali.

Berikutnya ke janin. Dia tumbuh dengan baik dan ketuban bagus. Saya tercekat dan semakin mengharu biru saat layar USG memperlihatkan janin sedang bergerak-gerak. Usianya memang masih 12 minggu, tapi saya dan suami tak pernah melihat 12 minggu udah selincah ini. Di dua anak sebelumnya hanya tidur saja dan tidak bergerak.

Dr niken menunjuk semua organnya dan insya Allah dalam keadaan baik.

Disitu rasanya saya merasa bersalah banget. Dalam sebulan terakhir saya melakukan hal yang sebaiknya tak dilakukan pada Ibu hamil trimester awal. Saya berdoa aneh-aneh dan tidak memosisikan diri bagaimana rasanya menjadi janin itu, punya Ibu yang tak berhati macam saya.

Pulang dari praktekan, saya meminta beribu ampunan sama Allah. Saya menerima dan melepaskan segalanya. Tinggal satu yang masih saya pikirkan bagaimana caranya; Ngomong ke orangtua.

Ngomong ‘Mak aku hamil’ Ternyata ga Semenyeramkan Saat Minta Nikah

Butuh waktu lama bagi saya pribadi untuk ngomong ke orangtua. Bagi saya ini adalah hal terberat yang saya lakukan. Saya mencari waktu paling aman dan nyaman. Saya mencari mimik muka bahagia bunda untuk kemudian menyusup dan mengatakannya.

Dan pagi tadi, usai belanja keperluan lebaran, saya lihat bunda tampak happy. Keuangan mencukupi, apalagi bunda asyique mengobrol tentang kambing qurbannya.

Saya pun memberanikan diri.

‘Bunda, ai hamil lagi.’

Yang ternyata abis ngomong bisa lega banget, ditambah respon bunda yang sumringah, bahagia tak terkira. ‘Senangnya bunda, ramai lagi rumah bunda ni, alhamdulillah.’

Sayapun menceritakan segalanya, tentang keinginan untuk menggugurkan, dan hal-hal yang bikin bunda mengernyitkan dahi dan tersenyum tipis

‘Sebenarnya ai takut ngomong sama bunda. Takut bunda marah,’

‘Inilah rezeki, nak. Kan ai tau kalo bunda seneng sama anak kecil,’

Ternyata tak semenyeramkan yang saya kira. Respon bunda melunturkan keegoisan saya selama ini. Bunda yang sudah jadi seorang nenek saja masih sangat menerima, kenapa saya menolak bagai diberi racun?

Ya allah, Masya Allah, legalah hati saya satu persatu terselesaikan. Tinggal 6 bulan ke depan saya dan janin masih harus berjuang.

Sehat-sehat ya dek janin, semoga nanti lahiran kamu bisa IMD, bisa pulang sama bunda ke rumah sama-sama, berkembang dan bertumbuh dengan baik, diberi takdir dan umur yang panjang, kesehatan dan bagus akal pikirannya.

Ini adalah pengalaman nursing while pregnant saya yang kedua. Dan hamil jarak dekat kedua ini sungguh memberikan banyak pelajaran berharga.

Insya Allah, ayah dan bunda tetap semangat dan berjuang meraih mimpi seperti sediakala.😘

P.S: Praktek Dokter Niken Asri Utami, Sp.OG di Harapan Bunda Sentra Medika, mulai 10.00 – 14.00 WIB

You Might Also Like

9 Comments

  • Reply
    Ade Delina Putri
    19 August 2018 at 04:40

    Masya Allah. Barakallah ya Mbak. Mungkin kalo aku hamil, juga sama kali ya awalnya pasti belum kuat hiks. Tapi Allah mah emang Maha ya Mbak :’)
    Semoga sehat terus ya Mbak. Anak-anak juga selalu sehat. Aamiin :)

  • Reply
    Mugniar
    20 August 2018 at 21:16

    Masya Allah ya Ayi, berliku jalan menuju jihad Ayi. Semoga lancar dan sehat selalu.

    Oya, kalo ada co-working space, mungkin lbh ringan ngantor di co-working space. Di sini saya tahu bbrp startup ngantor di co-working space.

  • Reply
    dwi puspita
    21 August 2018 at 11:56

    Alhamdulillah…nggak jadi digugurin. Semoga Ayi kuat ya… itu rezeki…bener kata Bunda Ayi. Banyak orang yg pengen dapat anak…semoga Ayi dan suami selalu sabar dan senantiasa diberi kekuatan oleh Allah…

  • Reply
    kanianingsih
    21 August 2018 at 13:47

    semoga sehat2 terus ya Ayi, saya juga mau periksa nih minggu ini :)

  • Reply
    Atisatya Arifin
    22 August 2018 at 00:38

    Masha Allah dek Ayi, barakallah ya Ayi untuk kehamilannya. Membaca tulisan ini justru membuat aku semangat Ayi karena kemarin pun aku sempat punya ketakutan yang sama untuk hamil lagi dengan alasan yang egois (karena badan aku overweight dan aku nggak mau nanti karena hamil tambah besar lagi). Jadi malu sendiri rasanya, padahal Allah SWT sudah pasti menjamin rejeki tiap anak manusia di bumi ya. Semoga kehamilannya lancar dan selalu diberi kesehatan oleh Allah ya. Aamiin…

  • Reply
    lendyagasshi
    22 August 2018 at 02:13

    Ayii….
    Sahabat blogger ter-love dan Bunda hebat yang aku kagumi.

    Semoga kehamilannya lancar, melahirkannya mudah dan in syaa Allah bersama Ayi dan suami, terbentuk generasi islami yang menjadi imam besar kelak.

    Barakallahu fiikum, Ayi dan suami.

  • Reply
    Titis Ayuningsih
    24 August 2018 at 20:29

    Tetap semangat Ayi, semoga sehat selalu dan rezeki berlimpah^^

  • Reply
    Yervi Hesna
    26 August 2018 at 14:07

    Hai Ayi, selamat ya atas kehamilannya kaki ini. Iya NWP gak apa dilakukan asalkan tidak ada riwayat keguguran dan rahim tdk mengalami kontraksi Krn menyusui

  • Reply
    Ria Rochma
    27 August 2018 at 09:16

    Alhamdulillah, kalau bunda-nya Dek Ai menerima dan sennag dengan kehamilanmu. Itu sudah support system paling ampuh karena nanti pasti ortu adek mendukung kehamilan ketiga ini.

    Sehat terus ya, Dek..

  • Leave a Reply