Cerita Bunda

Curhatan Bunda: Anak dan Kesabaran

curhat - cutdekayi.com

Anak adalah amanah Allah SWT. Dan kita sebagai orangtua, cuma sebentar sekali “dititipin anak” olehNya. Kapan Allah mau kasih, dikasih. Kapan Allah mau ambil, diambil. Jadi sebenarnya memang tak sepantasnya kita mengeluh. Tapi, apa yakin ada manusia yang tak pernah mengeluh? Bahkan dalam firmanNya pun Allah berkata bahwa manusia sifatnya mengeluh.

Postingan ini tidak 100 persen berisi keluhan, sih. Ada beberapa benang merah juga yang saya tarik dan jadikan kesimpulan. Agar teman-teman, buibu semua yang sedang berada di posisi saya bisa mengambil pelajaran. Yah, buibu dengan dua anak yang jaraknya deketttt banget. Sini dipelukkin satu-satu. :’)

Saat anak kedua saya, Medina, lahir ke dunia, otomatis fokus saya bertambah. Yang kemarin dahulu cuma perhatiin Kizain dari pagi sampai pagi lagi, kini sudah ada adiknya yang juga jadi perhatian saya. Beberapa hal yang mungkin saya paksakan sempurna saat hanya ada Kizain, kini pelan-pelan sifat perfeksionis itu saya hilangkan.

me time ala saya

me time ala saya

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Saya bahagia sekali dengan tumbuh kembang mereka yang makin pintar hari ke hari. Saya bisa tersenyum dan cepat sekali tertawa. Saya sering melibatkan mereka berdua dalam kegiatan saya. Dan saya tidak pernah meninggalkan mereka tanpa pendampingan Ayahnya. Yah, meskipun saya cukup repot kian hari, tapi semua saya terima dengan lapang dada.

Namun, jujur, tak setiap hari yang kami lalui berjalan mulus. Ada satu dua hal menjadi pengganjal kebahagiaan kami. Kadang, Kizainnya yang enggan tidur dan maunya deket sayaaaaa terus. Kadang, Medinanya yang mau mimikkkkk terus, sampai abangnya kesal dan merengek-rengek kehausan, hiks. Lagi mandiin abang, adiknya nangis. Lagi tidurin adek, abangnya ngajakkin keluar, buat main. Saya jadi lupa mandi, lupa makan bahkan lupa kalo saya ngantuk. Kadang saya kesal, sampai menangis. Saya enggan untuk bercerita dengan siapapun karena saya malu. Saya malu dengan ibu-ibu yang anaknya banyak tapi STOK SABARNYA JUGA BANYAK, GENKZ! Saya malu dengan orang-orang yang berhasil melewati masalah dengan ketenangan sementara saya panikan gak jelas.

Bodohnya saya adalah saya kurang bercerita dengan suami akan permasalahan ini. Saya berharap suami peka dengan sendirinya, euy. Dan saya merasa dia MAMPU MEMBACA HATI SAYA. #ehgimana. Ya gitu. Pokoknya saya maunya suami saya tuh tau apa yang sedang saya rasakan. Padahal sudah berapa kali doi mengingatkan bahwa, ke dia tuh ga bisa pakai KODE, tapi katakan secara gamblang. Begitu juga kata sahabat-sahabat saya yang terkumpul dalam barisan #GengIjoek dan sudah mendahului saya berperan sebagai istri dan ibu, lelaki itu tidak peka kalau kita tidak membuka diri. Lelaki tidak sadar kita butuh bantuan kalau kita gak ngomong. Udah berapa kali diingatin memang, tapi kalo lagi dalam kondisi emosi, saya jadi lupa lagi. T_T

Curhatan Bunda: Anak dan Kesabaran 1 - cutdekayi.com

Saya inginnya kalau urusan anak tuh cukup jadi urusan saya dan suami tanpa campur tangan orang lain. Bahkan saya berfikir agar anak-anak homeschooling sama saya. Tandanya saya ga boleh menyerah, kan? Saya masih harus bangkit, kan? Meskipun saya inginnya jika keadaan sedang seperti kapal pecah, di mana emosi dan ngantu serta anak menangis sedang terjadi, suami ada di samping saya. Kapanpun. Lha, terus kerjaannya gimana, dong? :’D

Yah, akhirnya saya membuka diri ke suami akan permasalah ini. Kami mulai mencari-cari solusi agar jika terulang kembali, saya bisa menguasai suasana. Dan pesan suami, yang terpenting adalah DIRI SAYA. Karena kalau diri saya aja gampang baperan alias ga kuat, benteng pertahanan akan mudah dibobol. Saya bisa saja akan menangis atau bahkan marah-marah gak jelas. Dan kemudian saya menyesal. Tapi, apa itu efektif?

Sayapun mulai berusaha menguasai diri saya setiap berhadapan dengan kemauan kedua anak saya. Sebelum saya bertindak, terlebih dahulu saya menarik napas dan berusaha tenang. Setelahnya, baru diselesaikan. Jika mereka menangis secara bersamaan, saya akan menggendong Medina dan mendekati Kizain untuk bertanya apa yang ia mau. Jika sudah selesai, saya lanjut mengurus Medina dengan tidak meninggalkan Kizain. Ya, saya mendahulukan kemauan abangnya, karena jika ‘urusan’ abangnya sudah kelar, saya akan nyaman menyelesaikan kemauan adiknya yang maunya dikelonin terus.

Tapi, jika tidak mau diam juga, saya akan mengeluarkan jurus pamungkas.. Yaitu berkata ke Kizain seperti ini: “Kizain, sayang.. Jangan nangislah, nak. Nanti kalau Kizain nangis, bunda sedih juga lho”. Dan lalu dia diam, dan mulai ‘ngobrol’ dengan saya mengutarakan apa yang sebenarnya ia inginkan.

Rasa ingin marah itu pasti ada. Sifat buruk-buruk rasanya pengen dikeluarin semua saat anak rewel dan bikin maknya pusing. Tapi, apadaya di mata mereka ‘harapan’ itu terpancar. Saya jadi merasa bersalaaaaaaaah sekali setiap mereka tidur dan telah melalui hari yang berat bersama saya. Saya bagaikan debu. Jika sudah begini, saya akan menangis dan memohon ampun pada Sang Maha Penyayang. Mencium kedua anak-anak saya, dan berjanji untuk mengelola emosi dan mencari sabar sebanyak-banyaknya. Saya ingat lagi, bahwa anak-anak saya itu sedang dalam masa penumbuhan fitrah. Saya dan suamilah yang membantu mereka menemukan fitrahnya.

Curhatan Bunda: Anak dan Kesabaran 2 - cutdekayi.com

Tidak ada hal yang tidak bisa diselesaikan. Mungkin stok sabar aja yang perlu diperbanyak. Banyak-banyak menghela nafas. Banyak-banyak bersyukur. Dan banyak-banyak me time. Percayalah, di saat me time, pikiran melayang ke…. anak juga :’D

Yang akan selalu saya ingat adalah jangan memendam rasa. Karena kalau terlalu lama dipendam, ntar si dia keburu ada yang punya. Eh salah, karena kalau terlalu lama dipendam, suatu waktu akan membludak dan efeknya akan lebih besar.

Jadi, sekian curhatan remeh temeh saya ini. Yang semoga menjadi pengingat bahwa saya masih belajar menjadi ibu yang sabar. Masih belajar menjadi hamba yang amanah. Dan semoga kedua anak saya tumbuh menjadi generasi penyejuk mata & hati kedua orangtuanya.

Btw, ada yang mau curhat juga?

You Might Also Like

22 Comments

  • Reply
    Mugniar
    20 April 2017 at 22:49

    Hai Ayi. Baru juga kemarin saya ngobrol sama teman di sini, bahwa suami itu memang hrs diberi tahu kalau kita punya ganjalan. Mungkin hanya 1 di antara 1.000 kali yang bisa baca kode hehe. Belajar terus saja, Ayi. Saya pun tidak berhenti belajar. Sesekali kebablasan, sadar lagi, istighfar lagi, hehe. Yang penting mau menjadi lebih baik :)

  • Reply
    hilwa salsabila
    20 April 2017 at 22:58

    Aahh kak ayi, ku aja yang baru satu masih sering ngeluh :((( perbanyak istighfar dan jaga hubungan keatas kak, supaya nambah stok sabarnya :’) semangat kak ayi.. Allah gak salah nitipin mereka berdua ke kak ayi

  • Reply
    Ipeh Alena
    21 April 2017 at 04:22

    Baaangettt…ketika lagi didera kesulitan pun Saya ga terkecuali kok, Ayi. Kadang suka berharap yang nggak-nggak, wkwkwk. Ya itu diaa…harapan semu berharap pasangan langsung ngeh dengan kode dari kita. Tapi, balik lagi, he is just an ordinary man yang bukan ahlinya memecah kode perempuan.

    Jadi Bunda Ayi semangat selalu ya. Benar kata bunda Niar, belajar terus untuk speak out sama suami apa aja keluh kesah atau ketika minta tolong.

    Love you sista Ayi :)

  • Reply
    Lidha Maul
    21 April 2017 at 05:38

    Bukan sekadar dua anak Ay, yang bisa bikin kita emosi ini yakni ada lebih dari satu hal yang mesti dilakukan dalam waktu bersamaan, kalau kasus Ayi: kizain atau medina?
    Nah, untuk bagian ini: “sifat perfeksionis hilang” itu udah pasti akan dirasakan oleh emak-emak manapun, termasuk yang Ayi bilang stok sabarnya banyak.
    Saya dan Ayi jelas beda posisi, kalau saya nggak bisa ngandalin suami, meskipun dia menolong banget, tapi orangnya sering nggak ada jadi nggak bisa bantu juga. Tapi ngasih kode harus tetap jalan,
    Btw, tulisan ini juga kode buat suami ya kan Ay (hedeh)

  • Reply
    Nyak
    21 April 2017 at 07:23

    Peluuuuk…
    Klise ya Dek kalau bilang sabar, tapi memang itu senjatanya :D. Sabar menikmati lelah, ngantuk, kesel bahkan marah. Sabar hingga mereka sedikit besar. Sedikit saja, kaya aku nih sekarang Wafa sama Ayyas udah umur 5 sama 3. Udah asik main berdua, udah jarang nangis, jarang rebutan emaknya lagi. Hehehe. Bahkan kalau satunya nggak ada, satunya sibuk mulu deh nyariin. Mati gaya main sendirian xD.
    Sekarang Ayi lagi masa ‘nikmat-nikmatnya’. Semoga lelahnya jadi penguat diri, penggugur dosa dan penempa pribadi ibu yang lebih tangguh. InsyaAllah :)

  • Reply
    Atanasia Rian
    21 April 2017 at 08:22

    Semangat ya ayi. Memang kadang kita jengkel, sebel, dll. Tapi penting kita sabar dan slow kembali ke tujuan utama kita

  • Reply
    Mia Fajarani
    21 April 2017 at 09:50

    Ka Ayi, perbedaan usianya berapa antara abang dan adik?
    Wajar kalau Kizain sering ngerengek kalau lagi ngurus adeknya, wong saya aja yang beda 11 tahun sm dede kadang suka iri dan hanya memendam rasa.
    Hahahaha
    Tapi ya mau gimana lagi, kemuliaan ibu adalah kesabarannya mengurus anak. Semangat ka Ayi, aku ngerasain gimana harus adil dan berbagi waktu antara ponakan dan dede. Sulit, kadang juga ga sabar, tapi nanti ujungnya juga senyum lagi ketawa lagi karena ulah mereka yakan.
    Ah aku blm jadi ibu, tapi bisa ngerasain gimana ngerawatnya. Yg blm aku rasain cuma hamil dan ngerasain wkwkw
    Semangat Ka Ayi, demi masa depan anak yang cemerlang dan indah ❤

  • Reply
    Nurri
    21 April 2017 at 10:14

    AKu belum menikah, belum punya anak juga. Tapi udah kerasa banget kok gimana “serunya” punya anak. APalagi seperti mbak yang jarak usia anaknya gak belasan tahun. Hihhiii…
    Seru dalam artian yang campur aduk, yah? HUahahah..
    Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warhmah, Mbak..

  • Reply
    William Giovanni
    21 April 2017 at 15:17

    Mamah Ayi, aku mau curhat. Karena terlalu lama memendam rasa, akhirnya dia pergi. #EhGakGitu sekalian saya belajar kode demi kode, kami kan laki-laki gak peka.

  • Reply
    vira elyansyah
    21 April 2017 at 15:28

    Mbak Ayi :”)
    Membagi perhatian dan kasih sayang ke anak yang keduanya masih balita, tentu bukan hal yang mudah ya mbak ((o(^_ ^)o))
    Tapi tetep semangat, “kalo mamanya sedih, nanti anaknya ikutan sedih loh”

  • Reply
    Ajen
    21 April 2017 at 16:12

    Halo Ayi saya kira semua orang yang punya anak pasti akan tiba pada masa itu. Masa ketika sangat lelah dan jadi melupakan diri sendiri karena mengurus anak. Satu yang pasti Ayi nggak sendirian, aku punya teman jiga yang sering ceritaa masalah tenrang anak. Dan setelah cerita dia lebih lega. Aku kira Ayi beruntung punya suami yang baik sekali dan perhatian. Plus anak2 yang hebat.
    Semangat yah ayi. Percayalah kamu nggak sendirian dan dengan cerita begini semoga mendapatkan ketemangam dan semoga ibu lain yang membaca dan mengalami hal yang sama mau cerita juga ke suami dan teman.
    Semangat selalu agi. Semoga Kizain dan Medinah selalu sehat

  • Reply
    Lendyagasshi
    21 April 2017 at 16:59

    Pernah ngerasain di posisi Ayi 3 tahun yang lalu.
    Jangankan mengenal blog, aku full di rumah berkutat dengan anak-anak bayik yang belum bisa menyampaikan pesan dengan kata, hanya tangisan dan rengekan.

    Alhamdulillah, Ayi…
    Meskipun komunikasi aku ke anak-anak dan suami masih compang-camping, babak belur bahkan jatuh bangun ((macam lagu dangdut)), tapi proses belajar ini yang penting.

    Sekarang kalau dikenang, mashaallah…ada banyak hikmah yang bisa dipetik saat ini.
    Dan ternyata hikmah terbaiknya adalah ini bagian dari doa aku saat melahirkan kaka.

    Aku pingin kaka menjadi anak yang bermanfaat untuk banyak orang, anak yang bijaksana dan matang secara emosional.

    Jawabannya,
    Allah kasih anak kedua dengan jarak dekat.

    Barakallah…

  • Reply
    Anita Makarame
    21 April 2017 at 18:50

    Aku baru mau punya anak 1 nih, Mbak. Tapi semacam kayak hampir kena baby blues. Hal-hal kecil aja tapi banyak yang dikhawatirin, kayak khawatir mikirin cara batasin anak jajan, nurut ga ya, dll.
    Mungkin aku terlalu perfeksionis ya.

  • Reply
    tomi
    21 April 2017 at 21:18

    duh saya bingung harus hapa mba hehe.. tapi mungkin ini bisa jadi pelajaran bagi saya aja kalau nanti sudah punya anak ya.. semoga bisa baca kode dari istri heheheh

  • Reply
    Tukang Jalan Jajan
    22 April 2017 at 09:33

    Salut lho ama emak muda dengan segala macam keriweuhannya namun masih mampu bersinar terang dan berbagi informasi. semoga nanti bapaknya anak anak bisa lebih responsif dan segera menolong jika mommy udah sampai di titik nya

  • Reply
    Tarry KittyHolic
    22 April 2017 at 09:56

    Semangat ya Ayi, pasti ga mudah menjalaninya ya. Dulu aku sama adek cuma selisih 2 tahun dan emakku ga sanggup mengurus kami. Terpaksa aku dititipin ke nenek.

    Semoga stok sabarnya berlipat, biar bisa mengasuh Kizain dan Medina tanpa emosi :)

  • Reply
    @unggulcenter
    22 April 2017 at 12:41

    Emang tuh bun.. kalau punya anak mesti sabar ya. Apalagi ada dua, megang satu yang satu gmana gitu, megang yang satu yang satunya gimana.. jdi mesti sabar n semua harus diperhatikan ^^

  • Reply
    Dikki cantona putra
    22 April 2017 at 19:31

    Harus extra sabar banget ya menghadapi anak. Apalagi tidak mau diurus oleh siapapun. Tapi harus tetap semangat untuk mengurus anak yang ingin besarnya nanti menjadi anak yang baik

  • Reply
    Siti mudrikah
    22 April 2017 at 21:30

    Mungkin curhatan mba ayi hampir semua pernah alami, yg pasti butuh kesabaran ekstra ya.
    Semangat terus mba

  • Reply
    April Hamsa
    22 April 2017 at 22:15

    Huhuhu samaaaaa, aku jg termasuk suka ngomelan, tapi saat meihat mereka bobo pules, keliatan sekali mereka tu msh polos, murni gtu.
    Moga kita senantiasa bisa bersabar ya mbak, kalau dah pd rewel gtu, aku paling ke kamar mandi trus taktutup, biasanya sih mereka jd anteng sendiri hehe

  • Reply
    Natalia Bulan
    22 April 2017 at 22:49

    Kamu perenpuan kuat Kak Ayi! Semangat ya buat gedein anak2nya. :)

  • Reply
    Rindang
    23 April 2017 at 14:40

    Ini bukan curhatan remeh temeh Mbak Ayi. Ini curhatan dari hati terdalam seorang ibu muda dg 2 momongan. Salut, karena Mbak Ayi segera menyadari ‘kesalahannya’ dqn segera bercerita utk mencari solusi kepada suami. Tetap semangat, Mbak.

  • Leave a Reply to Mugniar Cancel Reply