Browsing Category

pregnancy

pregnancy

Persiapan Menjadi Seorang Ibu

persiapan-menjadi-seorang-ibu- cutdekayi.com

Persiapan menjadi seorang ibu itu harus disiapkan jauh-jauh hari. Karena menjadi ibu bukanlah amanah yang main-main. Sehingga persiapannya pun butuh kematangan tingkat tinggi. Anak yang kita lahirkan akan sesuai dengan fitrahnya atau tumbuh karena obsesi orangtua? Continue Reading

pregnancy

Persiapan Sebelum Melahirkan

Persiapan Sebelum Melahirkan - cutdekayi.com

Hallooo, apakabar blog-ku? Sudah lumutan? Jamuran? Bersarang laba-labakah? Hehehe, mohon maaf hampir beberapa minggu belakangan ditinggalin karena bener-bener quality time sama Abang Kizain sembari menyiapkan hal-hal sebelum lahiran.

Alhamdulillah di minggu ini, usia kandungan saya sudah masuk 36 minggu alias 9 bulan. Alhamdulillah badan masih asik dibawa buat beberes rumah, ngurus Abang Kizain, dan berbelanja printilan adek janin. Malah kalo diajak baring atau malas-malasan, pasti adaaa aja bagian yang sakit :’) Jadi kayanya si adek janin suka bundanya bergerak terus, nih.

Persiapan Sebelum Melahirkan - cutdekayi.com

Nah, berhubung sudah masuk di bulan ke – 9 dan beberapa persiapan sudah hampir 95 % rampung diselesaikan, saya mau berbagi, apa aja sih yang saya persiapkan menjelang kelahiran?

1. Persiapan Mental dan Pengetahuan

Ngaji diperbanyak, dengerin murottal sering-sering, minta suami ngaji terus elus-elus perut hampir setiap malam, al-ma’tsurat terus dibaca pagi dan petang, juga berdoa di setiap waktu dsb, bagi saya ini penting sekali untuk menguatkan mental dan pribadi saya. Adik janin akan dilahirkan secara SC sama seperti abangnya. Itu tandanya akan ada pertemuan dengan ruang operasi, obat bius, tes alergi, kateter dan berbaring seharian sebelum kateter dilepas.

Belum lagi hari-hari pertama setelah melahirkan, akan mulai berdatangan segala macam komentar, baik tentang ASI yang belum keluar, bayi kecil yang menangis terus, dsb. Jadi, persiapan mental dan pengetahuan tentang newborn, SC, dll ini perlu agar ketika hari H tiba kita sudah siap dan yakin dengan pengetahuan yang sudah kita tekuni. Jangan lupa ajak juga orangtua dan suami untuk berdiskusi agar sepemikiran. Ketika di lapangan, kita akan semakin kuat karena dukungan mereka.

Saya mulai membaca kembali tentang ASI yang akan deras keluar 3 hari setelah plasenta lepas, juga tentang pentingnya kolostrum. Selain itu, saya juga mencaritau tentang arti tangisan bayi dan sebagainya. Meskipun ini lahiran kedua, tapi saya rasa perlu banget mengupgrade pengetahuan biar jadi ibu -meskipun muda- tapi ga ketinggalan kereta.

Masih teringat saat lahiran Kizain, dan saya dikomentari karena ASI yang belum lancar keluar sehingga Kizain terus menangis :’D Sempat hampir disuruh-suruh sufor oleh orang, namun alhamdulillah bunda dan suami saya yang telah sepemikiran dengan saya tetap mendukung dan menolak saran mereka. Saya sempat hampir stress dan minta pulang dari rumah sakit karena sudah tidak betah. Saya menyampaikan itu terus menerus ke suster yang memeriksa saya, dan bersyukur saya bisa pulang di pagi hari selasa setelah SC pada sabtu pukul 22.30 WIB.

Saya berharap sekali kelahiran yang kedua inipun akan dipermudah oleh Allah, baik proses recovery maupun saat operasi sedang berlangsung. Dan Kizain akan menjadi abang yang sholeh selama bundanya masih terbaring dengan jemari kaki yang kaku.

2. Persiapan Dana

Meskipun saya lahiran ditanggung pakai BPJS, namun persiapan dana ini perlu banget. Di sinilah perasaan syukur atas pekerjaan suami yang tidak terikat kantor mulai mendarah daging di diri saya. Saya meminta suami untuk full day menjaga saya dan anak-anak di minggu pertama setelah kelahiran. Alhamdulillah ternyata suami sayapun menawarkan hal yang sama. Dan tandanya dia tidak akan pegang project selama beberapa saat. Dari sekarang kita sudah mulai mempersiapkan dana baik saat proses kelahiran dan recovery di rumah sakit maupun setelah pulang ke rumah di minggu-minggu pertama.

Ga ada ART-kah?

Ada, tapi bukan khusus buat jaga saya dan ngurus kedua anak saya 24 jam. ART cuma buat beberes rumah, nyuci baju-baju adik janin, dan masak. Untuk nyari yang khusus jagain bayi dan balita sudah sejak awal kehamilan saya cari namun belum ketemu juga yang sreg sama harapan saya, suami dan bunda saya. Kalo untuk ngantar Abang Kizain ke day care? Saya nggak mau, dan tidak akan pernah mau :’)

3. Bersihkan Rumah dan Selesaikan Segala Pekerjaan 

Kegiatan beberes rumah ini saya serahkan ke suami. Soalnya ga mungkin saya naik-naik tangga, nyedot sarang laba-laba dan debu, kan? :’D Jadi saya milih beresin lemari aja.

Bantal-bantal, kasur dan selimut kita sedot agar dijauhkan dari tungau. Bersihin AC kamar, agar udara yang keluar fresh, dan membiarkan sinar matahari masuk ke dalam kamar.

Begitupula dengan pekerjaan yang deadlinenya mendekati due date atau setelah due date alias bulan pertama setelah adik janin lahir. Kita mulai nyicil dan bikin target selesai maksimal seminggu sebelum melahirkan, agar pikiran selama di rumah sakit tidak terbayang oleh pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk, dan klienpun senaaang.

4. Siapkan Barang-barang Newborn dan Ibu Dalam Tas Khusus

Meskipun saya akan lahiran secara SC, mempersiapkan barang-barang ke dalan satu tas ini tetap saya lakukan. Agar ketika hari H tiba, tidak kalang kabut dan tidak merepotkan suami untuk mencari-cari barang tersebut di dalam lemari.

Persiapan Sebelum Melahirkan 1 - cutdekayi.com

Yang saya siapkan untuk bayi adalah:

1. Bedong 1/2 lusin

2. Pospak dan Popok Kain

3. Baju lengan pendek 6pcs

4. Topi dan STK Bayi 6 pcs

5. Selimut bayi

6. Kasur Kelambu Bayi + Bantal

7. Bedak + Minyak Telon + Sabun + Handuk Bayi

8. Sapu Tangan Bayi

Iya, di RS tempat saya melahirkan nanti bayi akan langsung dipakaikan pospak setelah dimandikan di ruang bayi. Dan kenapa banyak banget sampe 6 pcs? Karena pengalaman Kizain kemarin saya cuma bawa 3, dan ternyata kurang karena Kizain ganti baju 2-3 kali sehari selama di RS. Kenapa bawa kasur kelambu? Setelah melahirkan, satu jam ke depan bayi akan diberikan ke ibunya. Kita ngga tau ruangan itu akan bebas nyamuk, jadi untuk lebih ringkas saya pakai kasur kelambu. Ketika saudara berkunjung pun, Kizain tetap bisa dilihat sembari tidur di atas kasurnya.

Persiapan Sebelum Melahirkan 2 - cutdekayi.com

Yang saya siapkan untuk diri saya:

1. 2 baju tidur kancing depan + Jilbab

2. Baju pulang

3. Underwear

4. Pembalut Melahirkan + Handuk Kecil

5. Perlak + Kain panjang / Kain Sarung + Selimut

6. Sunblock/BB Cream, Facial Wash, Lipstik, Bedak biar ga pucat amat :’D

7. Kartu-kartu penting, KK + BPJS + KTP etc agar ketika diminta untuk mengurus administrasi, kita tidak kalang kabut kesana kemari.

8. Saya juga nyetok Air Mineral selama di rumah sakit. Karena saat belajar jalan, butuh effort yang masya Allah menimbulkan haus yang luar biasa. Kalo kata orang-orang jangan banyak-banyak minum air putih habis melahirkan. Kalo kata saya malah engga, minum aja terus. Karena teman saya yang minumnya dijatah sama ibunya, terpaksa harus bermalam lagi di RS karena infeksi :'( padahal kami lahiran hanya berselang setengah jam saja dengan proses dan dokter yang sama.

9. Apalagi, ya? Ada yang mau nambahin?

And the last is…

5. Quality Time Sama Abang Kizain dan Suami

Persiapan Sebelum Melahirkan3 - cutdekayi.com

Mulai dari bermain mobil-mobilan bersama, jalan-jalan sore, membacakan Kizain buku cerita hingga ke ritual bobo yakni : pukpuk Kizain sampai terlelap. Saya libatkan suami dalam hal ini, agar ketika saya lahiran dan harus menyusui adik sementara Kizain butuh saya, ia tidak merasa kehilangan karena ada sosok ayah bersamanya. Ah bagian ini mungkin setiap ibu punya cara sendiri, ya. Saya percaya setiap ibu adalah ibu yang hebat untuk anak-anaknya.

Tidak terasa telah sampailah kita di penghujung tulisan. Sekiranya inilah yang dapat saya bagikan ke teman-teman sekalian. Semoga pengalaman saya bisa dijadikan referensi yang bermanfaat dan mohon doanya untuk proses melahirkan secara SC yang akan saya jalani untuk kedua kalinya dengan jarak 1 tahun 2 bulan.

Salam semangat,

cutdekayi

pregnancy

Hal-hal yang Disuka & Tidak Disuka Selama Menjalani Kehamilan

Hal-hal yang Disuka & Tidak Disuka Selama Menjalani Kehamilan 4 cutdekayi.com

Dari judul sebenarnya ketauan ga kalo saya ini anaknya baperan? Hihihi. Habisnya saat dikasih tema sama temen-temen (ngga temen juga sih, habis mereka udah pada tua :p) saya bingung mau nulis tentang apa. Dan karena saat ini tengah menjalani proses kehamilan kedua dengan usia kandungan 32 w 1 day, alhasil jadilah tulisan ini. Baiklah, untuk melunasi hutang kepada keenam teman saya, saya bertekad kuat untuk menyelesaikan tulisan ini meski deadline udah lewat 4 hari :’)

Hamil Jarak Dekat, Perasaannya Samakah?

Setiap ibu yang mengalami kehamilan, kebanyakan mengalami perasaan yang berubah-ubah. Entah perasaan ngidam yang mulai tumbuh hingga ke engga sukaan sama hal-hal kecil. Misalnya ngga suka keringetan, ngga suka makan pedes dan ngga suka-suka lainnya. Nah, berhubung saya #hamiljarakdekat antara adik janin dan Abang Kizain, perasaan kehamilan yang saya rasa ngga jauh berbeda. Masih sama seperti setahun yang lalu saat hamil Abang Kizain. Apa aja sih perasaan yang sama itu?

Hal-hal yang Disuka & Tidak Disuka Selama Menjalani Kehamilan - cutdekayi.com

Persamaan Rasa Antara Hamil Adik Janin dan Abang Kizain ( Hal yang Disukai Selama Kehamilan)

1. Ngidam

Nah, bicara soal ngidam saya ngidamnya ngga pernah aneh-aneh selama hamil pertama dan kedua. Mungkin yang paling aneh cuma pas minta suami tercinta untuk botak aja kali, ya. Selebihnya alhamdulillah bisa ditahan dan bisa dikehendaki kalau memang memungkinkan. Hanya bedanya ketika hamil adiknya Abang Kizain, saya jadi lebih menerima aja. Kalau memang ngidamnya ngga bisa diturut, saya ngga memaksa.

Baca: Hal yang Bikin Rindu Hamil (lagi)

2. Morning Sickness Tidak Berlebihan

Alhamdulillah banget, saya ngga mengalami morning sickness yang berlebihan baik di saat hamil Abang Kizain dan Adik Janin. Perut kembung, itu biasa. Bahkan saat awal-awal hamil Adik Janin, saya yang menerapkan NWP (nursing while pregnant) ke Abang Kizain tetap kuat mengurusnya sepanjang hari. Saat hamil Abang Kizainpun, saya tetep seneng kalo diajak jalan-jalan.

Baca: Tips Membawa Bayi Jalan-jalan Naik Motor

3. Masih Suka Sama Wangi yang Seger-seger

Yang seger itu yang gimana? Yang gitulah pokoknya. Tiap keluar dari kamar mandi, saya selalu suka meninggalkan wangi-wangian yang seger. Atau bahasa halusnya saya suka nyiram sabun khusus lantai (no endorse) di lantai trus saya siram-siram air bisa berbusa. (Ga sanggup nyikat lagi, euy. Hihihi). Udah gitu aja udah seneng. Baik saat hamil Kizain dan Adik Janin, saya tetap melakukan hal ini. Ntah kenapa rasanya jiwa saya jadi segar untuk beraktivitas kembali.

Kalo milih sabun badanpun, saya selalu milih sabun dengan harum yang seger-seger. Seperti jeruk fresh, lemon yang ga terlalu menyengat, juga apple (bukan apple pie, ya!).

4. Suka Mandi!

Sehari kadang 4-5 kali saya mandi. Padahal saya ga keringetan, dan di kamar AC-an terus, tapi saya suka sekali mandi. Saya suka melihat busa-busa dari sabun yang saya pakai. Ini lucu, ya? Tapi entah kenapa saya suka aja, balik lagi ke poin no.3, saya suka yang seger-seger :’)

5. Suka Cuci Piring

Tebak kenapa? Karena ada busa dari sabun pencuci piring. Gausah saya jabarin lagi, ya. Intinya saya jadi merasa rajin aja selama hamil :’D.

6. Suka Dandan

Mungkin lebih tepatnya bukan suka dandan, sih. Tapi saya jadi suka browsing tentang beauty blogger dengan produk-produk yang bisa saya jangkau di Banda Aceh. Kalo nunggu mesen online, kadang suka kesal sama ekspedisinya. Jadi, saya selalu milih untuk belanja make up yang langsung terima barang daripada online.

Tetep setrong gendong Abang bayi

Tetep setrong gendong Abang bayi

Nah kalo soal ini, balik lagi ke selera suami. Karena saya ngga suka muka kucel atau berminyak saat suami pulang atau diajakkin jalan-jalan, minimal udah pinter deh make pelembab, spf, skin care juga polesan lipstik tipis biar ga pucat amat. Selain itu, saya belajar juga ketika saat ngampus dulu wajah saya sempat belang karena terpapar sinar matahari, dan sekarang saya ngga mau hal itu terjadi lagi. Cuma kemaren-kemaren belum terealisasi karena sayanya yang males dan belum ketemu temen sharing yang tepat. Alhamdulillah sejak hamil, keinginan untuk menjaga wajah itu datang dan beberapa beauty blogger yang saya kenalpun sharing dengan panjang lebar. Terimakasih mbak-mbak :*

Hal yang Tidak Disukai Selama Menjalani Kehamilan

Hal-hal yang Disuka & Tidak Disuka Selama Menjalani Kehamilan 1 - cutdekayi.com

Dibalik perasaan yang sama (dan saya senang), ada beberapa hal juga selama kehamilan baik Abang dan Adik yang saya ngga suka. Faktornya biasanya dari eksternal, ya. Tapi ada beberapa faktor juga memang dari internal, dari sayanya sendiri. Apa aja, sih?

1. Saya Males Senyum

Saya tau senyum adalah sedekah, makanya saya malas banget sama kemalasan senyum yang saya rasa. Saya ngga tau kenapa, tapi saya ngga suka senyum duluan sebelum orang yang berpapasan dengan saya yang nyapa saya. Padahal saya dulunya anaknya asik banget lho. Orang ga senyum aja saya senyumin. Orang ga nyapa aja saya sapa. Sampai saya dikira SKSD banget.

Jujur, saya gatau perubahan ini ada di dalam diri saya sampai kemudian suami yang bilang. Saya jadi jutek dan cemberut terus. Saya kan jadi malu sebenernya :'( Jadi maafin ya kalo ketemu saya ngga seramah sebelumnya. Tapi insya Allah saya anaknya ngga sombong, kok. Ini cuma perasaan yang entah gimana saya harus mendeskripsikannya.

2. Jadi Sering Tidur

Zzzt.. Saya paling ngga suka kalo udah merasa ngantuk. Apalagi ketika Abang Kizain lagi ngajak main. Saya pernah tuh ya ninggalin Kizain dengan snack dan mainannya di samping saya, lalu saya ketiduran. Ya Allah, bangun-bangun anak sholeh itu udah bobok juga di samping saya. Sedih banget. Jadi sekarang kalo saya udah ngantuk berat biasanya saya main HP aja, atau scroll-scroll percakapan teman-teman di beberapa grup whatsapp. Biarpun ngga nongol, tapi saya tetep silent reader, kok. :”)

3. Semua yang Dilakukan Suami Harus Semau Saya

Kamar berantakan, saya sabar banget beresin. Setelah beresin kamar, saya iyain banget ganti popok Kizain. Tapi sekali dua kali saya lelah dan meminta tolong sama suami, dengan syarat suami harus ikutin apa yang saya bilang. Misalnya popok kotor jangan letakin di kamar mandi, seprai yang digunakan harus yang warna ini juga baju yang Kizain pakai harus serasi, dan jangan lupa dipakein bedak, parfum dan sisirin rambutnya. (Dan saya selalu menangis ketika sudah sadar).

Suami mana sih yang mau pulang kerja cape-cape namun kamar berantakan dan anak belum fresh? Saya merasa jadi orang yang tidak bersyukur. Padahal, yang dilakukan suami tidak begitu membuat bathin saya menangis. Malah harusnya saya bersyukur bisa beristirahat. Makanya, setiap malam jika sudah malu untuk minta maaf saya mengadu saja pada Allah SWT. Dan kalo abangku tercinta baca ini, maafin adinda ya bang :'(

Baca: Tentang Penerimaan

4. Menganggap Diri Ibu yang Tidak Baik

Selama hamil dan perut makin buncit, saya jadi jarang sekali menggendong Kizain. Kadang, dia maunya hanya sama saya meski Ayahnya sudah mengajak bermain permainan yang Kizain sukai. Tak bisa dipungkiri kadang saya merasa sedih dan terhempas di jurang kegalauan. (halaaah)

Jangan lupa makan biar tetep bahagia

Jangan lupa makan biar tetep bahagia

Dasar saya anaknya perfeksionis, saya ingin semuanya berjalan sebagaimana biasanya dengan sempurna. Namun, di akhir selalu saya sadar bahwa tidak ada ibu yang sempurna, yang ada hanya ibu yang terus berusaha sempurna dengan bahagia dan cara mereka memaknai kebahagiaan itu sesuai kapasitas mereka.

Kadangkala rasa ini datang, saya selalu ingin menyendiri. Namun setiap kali ingin menyendiri, Kizain tidak pernah meninggalkan saya dengan senyum khasnya dan pelukannya. Ya, Kizain kecil begitu mengerti akan kondisi saya. Ia yang sudah pintar memeluk dan mencium, melakukan kedua hal itu kepada saya. Kemudian dia bermain dan kembali lagi untuk melakukan dua hal itu lagi.

Maka, manakah nikmat Allah yang saya dustakan?

(maaf agak mellow)

Intinya: Bersyukur

Alhamdulillah dengan rasa suka dan ga suka yang saya alami, saya harusnya menjadi pribadi yang bersyukur. Allah menciptakan begitu banyak rasa agar saya bisa berbagi pengalaman dan kemudian melompat menuju ke pengalaman baru.

Sekarang, tinggal saya (dan kita semua) yang ketika diuji dengan rasa tidak suka, apakah tetap menggalaukan nasib atau mengubahnya menjadi istimewa? Tidak pernah ada pribadi yang sempurna, yang ada hanyalah pribadi yang (berusaha) mengenal dirinya. Dengan ketidaksukaan yang kita rasa, kita menjadi berbeda. Dengan berbeda kita menjadi istimewa. Dan keistimewaan ini menjadi cara kita untuk berbagi menuju masa depan yang lebih cerah. Bagaimana indahnya menerima setiap hal yang tidak kita sukai dalam hidup dengan bersyukur dan bersabar. Semoga setiap apa yang kita perjuangkan akan Allah balas dengan pahala yang berlipat ganda.

Selamat mengenali pribadi kita, duhai Ibu muda!

Salam,

cutdekayi

P.S:

Punya Kak Bena bisa baca di sini

Punya Mbak Dian bisa baca di sini

Punya Uda Fanz bisa baca di sini

Punya Mba Ajen bisa baca di sini

Punya Kak Radhian bisa baca di sini

Punya Lucky bisa baca di sini

pregnancy

Hamil Jarak Dekat

_20161003_095936

Allah Maha Berkehendak. Setiap kehendakNya, banyak yang mengejutkan, memang. Tapi, saya yakin Allah tidak akan memberikan beban melebih kemampuan hambanNya. Termasuk beban menghadapi komentar miring kiri kanan tentang kondisi saya saat ini. Yang menjatuhkan, yang menyindir, ah semoga hati saya terus lapang selapang-lapangnya lapang.

Alhamdulillah, Allah izinkan saya hamil lagi tepat diusia Kizain menginjak 7 bulan. Awalnya, saya bingung dengan kondisi badan yang kurang enak dan kembung yang tak kunjung berhenti. Saya pikir ini hal yang biasa karena pada saat itu saya sedang berpuasa (tepat di bulan Ramadan) namun tetap menyusui. Dan lagi saya tidak ingat kapan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) saya, sehingga saya belum bisa menyimpulkan kondisi saya tengah hamil muda.

Namun, suami terus memaksa. Karena beliau yakin saya tengah hamil. Akhirnya saya testpack. Setelah di testpack, ternyata benar saya hamil lagi.

Baca: Kisah Kehamilanku

Saat tau hamil, rasa berkecamuk mulai mendatangi dada dan fikiran. Terbayang saat proses kelahiran Kizain dulu yang qadarullah harus di SC, awal-awal pemberian ASI yang penuh kontroversi, hingga proses recovery SC yang bersamaan dengan bayi newborn yang butuh mimik di malam hari. Takut? Iya. Terkejut? Iya. Bahagia? Iya.

Kizain Syamil Rabbani-ku saat baru lahir

Kizain Syamil Rabbani-ku saat baru lahir

Namun, yang paling saya takuti dari semua hal adalah para komentator yang datang silih berganti. Kok nggak KB? Kok cepat kali? Ngga kasian apa sama anak pertama? Duh saya jadi makin stress, sebenarnya. Apa hidup ini memang terus butuh dikomentari, ya? Padahal orang-orang seperti saya ini butuh dikuatkan, disemangati dan mengingat lagi kehadiran si jabang bayi adalah kehendak Allah. Bukan semata-mata ‘cling’ langsung jadi.

Baca: Pasca SC

Saat akan jujur ke bunda saja rasanya ada perasaan ketakutan tersendiri. Takut bunda marah karena saya yang tidak bisa ‘menjaga’ juga takut bunda ikut komentar yang aneh-aneh. Tapi, ibu memang yang terbaik. Bunda malah bersyukur akan diberi cucu lagi. Dan menyemangati saya agar tetap setrong dengan memberi poding telur setengah matang setiap hari.

Selanjutnya saya harus menghadapi keluarga besar. Kakak beradik bunda dan ayah yang tinggal berdekatan dengan kami. Termasuk makwo (kakak ayah yang berprofesi sebagai bidan), yang ternyata malah berkata,”Biar aja dia hamil lagi, gapapa. Alhamdulillah.’ Demikian. Dan respon keluarga lainnya juga turut mendoakan agar kandungan dan saya baik-baik saja. Saya bersyukur sekali berada di lingkungan orang-orang yang baik dan semoga Allah terus mengizinkan kita mendapat hidayahNya.

Saya semakin tenang menjalani hari-hari. Tidak perlu nahan-nahan nafas setiap jumpa keluarga. Tidak perlu nahan-nahan perut, meski belum keliatan buncit.

Baca: Selamat datang anakku

Suami bertekad, bahwa kehamilan kedua ini harus tetap diperlakukan sama dengan saat saya hamil Kizain dulu. Mulai dari nutrisi hingga rajinnya kami ke dokter setiap bulan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Tetap bahagia sebagaimana menyambut kehadiran anak pertama. Mulailah kami mengupgrade sabar dan syukur bahwa ini adalah hadiah menyongsong usia pernikahan yang akan menginjak 2 tahun November mendatang.

hamil jarak dekat

Saat akan ke dokter, saya mencari info di mana dokter yang pro dengan hamil jarak dekat dan pro NWP alias nursing while pregnant. Bertanya ke sana ke mari, tak ada jawaban pasti. Abang mengambil kesimpulan untuk ke dokter yang sama, tempat Kizain di usg dahulu.

Menjelang dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter, jantung saya berdegup kencaaaaaang sekali. Berusaha menerka-nerka jawaban yang atas setiap pertanyaan dokter agar kami tidak keliatan seperti orang yang tidak punya rencana kehidupan (?). Dan ternyata, respon dokternya baik dan sangat ramah. Cuma yang disayangkan, niat VBAC (Vaginal Birth After Caesar) harus dibuang jauh-jauh karena menurut dokter saya harus SC lagi. Tapi gapapa, suami menyemangati. Yang penting ibu dan janin sehat selamat, terserah bagaimana proses kelahirannya.

Dokter menyatakan bahwa kondisi janin baik-baik saja, sehat sempurna insya Allah. Karena saya lupa HPHT, jadi dokter mendeteksi umur lewat USG dan insya Allah due date 3 Februari 2017. Mohon doanya, teman-teman.

Hamil Jarak Dekat

Alhamdulillah juga dokter tetap mendukung saya untuk NWP (Nursing Whilr Pregnant). Namun, saya tetap harus berhati-hati. Karena selama hamil, hormon penghasil ASI akan cenderung berkurang, sehingga asupan Kizain harus lebih banyak diberikan lewat makanan sehari-hari. Saya juga harus berjaga agar ketika proses menyusui berlangsung, tidak terjadi kontraksi rahim. Dan sayapun harus tetap bahagia agar hormon oksitoksin terus bekerja. Kalaupun harus sufor karena ASI sudah tidak mencukupi, saya menunggu usia Kizain setahun dulu agar bisa mengenalkannya pada susu UHT dan reaksi alergi susu sapi yang jadi momok menakutkan para ibu-ibu berkurang karena usia ananda sudah setahun.

Terlalu banyak PR yang harus saya kerjakan. Tapi alhamdulillah saya diberi pendamping yang begitu pengertian. Pengalaman hamil jarak dekat membuat saya belajar banyak hal.

Mengurus bayi yang beranjak toodler sembari hamil, kadang-kadang memang terasa sangat melelahkan. Si Abang yang masih butuh perhatian dan butuh banyak stimulasi agar otaknya terus berkembang dengan baik, kadang-kadang menyita waktu istirahat saya. Namun, siapa sangka? Allah memberi kekuatan yang lebih di pundak saya di kehamilan kedua ini.

Saat ini, kandungan sudah masuk usia 6 bulan. Kizain sedang aktif-aktifnya belajar jalan. Alhamdulillah saya masih diberi kekuatan untuk menggendongnya, menyusuinya, memandikan dan bermain dengannya. Beberapa waktu ketika suami sedang  di rumah, baru saya beristirahat. Dan Kizain begitu pengertian akan kondisi saya. Banyak sekali yang mengatakan bahwa jika ibunya hamil, maka si anak pertama akan rewel. Tapi saya tidak merasakan Kizain rewel. Dia tetap seperti biasanya. Bahkan kalo digangguin dengan kalimat,”Kizain sudah mau jadi abang lho, nak,” dia tersenyum dan mendekat ke saya.

Berbeda sekali dengan kondisi saya saat hamil Kizain dulu. Usia 5-6 bulan saja sudah malas diajak jalan-jalan. Maunya ngadem aja di rumah. Malas makan, maunya makanan yang dipengenin aja. Dan lagi sedikit ngantuk, selalu tidur. Kalo sekarang? Rasanya lebih produktif. Mungkin ini yang dinamakan cinta ❤ Semoga Allah terus menguatkan saya saat hamil besar nanti dan terus hingga adiknya Kizain lahir dan dimampukan mendidik mereka menjadi anak sholeh dan sholehah, investasi akhirat kelak.

Saya membayangkan, banyak sekali ibu-ibu hebat di luar sana yang bahkan mungkin jarak kehamilan dengan usia anak pertama hanya 3,4 dan 5 bulan saja. Tapi mereka tetap mampu dan Allah kuatkan untuk terus beraktivitas. Ini juga yang memacu saya untuk terus bergerak, tidak diam membisu begitu saja.

Capek itu lumrah. Namun, kebahagiaan akan menimang anak kedua di usia muda jauh melebihi di atas kadar capek. Saya husnudzon bahwa hamil jarak dekat ini membawa kebaikan. Ketika nanti berusia 40 tahunan, insya Allah anak-anak sudah mandiri. Saya dan suami bisa terus melejit mencapai mimpi -sekarangpun begitu-

Alhamdulillah. Semoga Allah ridho dengan apapun yang kita kerjakan.

Siapa bilang nikah muda tidak bahagia? Siapa bilang hamil jarak dekat tidak bahagia? Ah, bahagia itu kita yang ciptakan, bukan orang lain. Tanya lagi hati kita setiap kali kita bersedih dan menyendu disudut pintu. Mungkin ada syukur yang belum kita selesaikan. Mungkin ada stock sabar yang belum kita pergunakan.

Tetap semangat dan berbahagialah, ibu-ibu. Semoga kehamilannya menyenangkan :)

Salam,

cutdekayi

pregnancy

5 Hal Yang Bikin Rindu Hamil (Lagi)

hal yang bikin rindu hamil 2

Hamil adalah pengalaman luar biasa. Saat saya hamil Kizain dulu, banyak sekali hal-hal yang bikin rindu hamil lagi. Entahlah itu keinginan yang dikabulkan atau hal-hal yang bisa jadi rajin untuk saya tekuni. Saya pikir, kehamilan adalah sosok yang menakutkan. Membawa bayi yang berat di dalam perut dan kelelahan yang tiada berujung. Maka dari itulah, Allah berikan pahala yang luar biasa buat seorang ibu yang mengandung dan melahirkan.

Kizain kini sudah berusia 5 bulan. Sudah asik diajak becanda, diajak ngomong, ditowel-towel pipi hingga diajak jalan-jalan. Sayapun jadi lebih tenang untuk tidak setakut dulu mengurusnya. Dulu? Gendong dikit, takut salah. Ngasih ASI, takut habis. Mandiin, kurang telaten. Tapi, dengan bergulirnya waktu semua teratasi.

Hingga suatu waktu setelah menyusui Kizain pukul 03.00 WIB, dengan perasaan ga tega saya bangunin suami yang sedang pulas.

“Bang.. Bang.” Kuat-kuat saya goyangkan badannya. Diapun tersentak dan langsung duduk.

“Ya Allah dek, abang kira ada tsunami. Kenapa sayang kok bangunkannya gitu kali?” jawabnya sambil mengusap-usap mata.

“Bang, adek pengen kali jus jeruk lah. Tadi malam abang ada belikan?” sayapun beranjak dan keluar kamar, menuju ke kulkas. Saya cari jus jeruk mulai dari meja makan, kulkas hingga meja tamu. Balik lagi ke kamar, dan menyapukan mata ke atas mejanya.

“Adek kenapa? Ngigau, ya?” tanyanya kebingungan melihat tingkahku.
“Enggak, adek cari jus jeruk.” Jawab saya tak berdosa.
“Kan semalam ga ada bilang kalo adek mau jus jeruk. Abang pulang sholat aja adek udah tidur.”
“Kalo abang belikan, mau?” tanya saya kemudian.
“Sekarang???????”
“Iya.”
“Besok pagi aja boleh, dek? Ini udah jam 3 pagi. Ke mana abang cari.” Diapun kembali menggunakan selimut dan tertidur.

Sayapun berusaha tidur dengan sedikit kesal dan mengingat-ingat masa hamil dulu. Saat di mana saya :

1. Minta apa aja jam berapa aja diladeni

“Bang, adek pengen kebab.”
“Bang, adek pengen bakso tapi maunya bakso yang di xxx dan ga pake mie putihnya.”
“Bang, adek pengen jus jeruk. Dua ya!”
“Bang, kita jalan-jalan yuk.”
Dan rata-rata permintaan semua itu terjadi di atas jam 11 pm. Bak diberi tugas, suami dengan semangat mengangguk dan beranjak melaksanakannya.

Kamu percaya? Saya pernah minta suami untuk mencukur habis rambutnya loh! Alias botak! HAHAHAHAHA. Gatau, pengen aja gitu. Dikabulin, ga? Iya dong~

hal yang bikin rindu hamil lagi 5

2. Sehari 4++ kali sikat kamar mandi

Entah kenapa saat kehamilan menginjak usia 4 bulan kemarin, kurang merasa nyaman setiap masuk ke kamar mandi. Rasanya selalu kotor dan merasa *maaf* jijik. Berkali-kali minta  tolong abang buat menyikat, namun selalu merasa belum sepenuhnya bersih. Ujung-ujungnya, sayapun menyikat sendiri. Dimulai dari sehari sekali.

Kehamilan yang semakin membesar, tak urung membuat saya harus bolak-balik buang air kecil ke kamar mandi. Dan selalu diakhiri dengan menyikat kamar mandi. Pembersih lantai sampai harus diperbaharui 5 hari sekali. Ada sensasi sendiri saat menyikat kamar mandi dan melihat lantai yang penuh busa. HAHAHA.

Namun sekarang? Kerajinannya hilang tak bersisa. Bahkan mencium bau pembersih lantai saja rasanya mau muntah. Dulu? Suka banget *_*

3. Bebas istirahat kapan saja

Yang ini bikin hidup saya makin terasa hidup. HAHAHA. Setiap main ke rumah saudara atau kos-an teman, selalu ditawari bantal hingga leyeh-leyeh di kamar ber-AC. Maklum. ibu hamil itu selalu merasa kegerahan. Milih baju aja susah, maunya yang nyaman-nyaman sampai gaya jilbabpun jadi permasalahan. Rada risih kalo kurang nyaman dipakai.hal yang bikin rindu hamil lagi

4. Dingertiin Orang

Baca : Hanya Orang-orang Tertentu Yang Mengerti Kondisi Bumil

Walau ga semua pihak mengerti, tapi masih tersisa ibu -yang dulunya pernah hamil-, juga bapak -yang istrinya lagi hamil- dan pria muda -yang mengerti kondisi ibu hamil-. Dan setiap kali dingertiin itu rasanya bahagia. Hati jadi lapang, lebih lapang dari lapangan sepakbola.

5. Berat badan bertambah? Ya gapapa~

hal yang bikin rindu hamil lagi 1

Hey kaum wanita yang hari ini bisa gagal move on dari timbangan dan setiap kali nimbang selalu berharap jarum di timbangan bergerak ke kiri, percayalah. Saat kamu hamil, sejenak kamu lupakan timbangan itu. Kamu lebih menikmati kehamilan dan berdoa akan kesehatan anakmu. Selama dokter mengatakan timbanganmu dalam keadaan baik-baik saja, maka berbahagialah. Omongan orang jadi gelap.

Ketika orang justru mengatakan,” Ih Ayi gendutaaaaaan.” Dengan enteng dan percaya diri sayapun menjawab,” ya iyalah. Kan diriku lagi hamil.” hahahahahahaha

Tapi, tak bisa dipungkiri. Menjadi ibu hamil itu butuh kewaspadaan tingkat tinggi. Setiap kali USG aja saya selalu tutup mata. Sampai dokternya bingung, “Kamu lagi sakit mata?”

Dan tanpa berdosanya saya menjawab, “Engga, dok. deg-deg an aja.” hihihi.

Menjadi ibu hamil itu sensitifnya jangan ditanya lagi. Bapernya tingkat tinggi. Pernah suatu waktu, abang pulang dan lupa bawa pesenan saya. Ya Allah, entah kenapa saya yang biasanya pemaaf jahil ini jadi males ngeladenin abang. Padahal udah disayang-sayang, dimanja-manja, dan abang rela keluar lagi buat beli yang saya mau, ntah kenapa sulit move on. Sekarang kalo diingat-ingat rasanya… pengen minta maaf sepanjang hari :’D

Jadi inilah 5 hal yang bikin saya rindu pengen hamil (lagi). Kalo kamu, gimana?

 

Banda Aceh, 10 April 2016