Browsing Category

pernikahan

pernikahan

Optimalisasi Diri Sebelum Menikah

optimalisasi diri - cutdekayi

Cita-cita ingin menikah adalah sebuah pengharapan yang sejak lama membathin di dalam diri saya. Berkaca dari bunda saya yang juga nikah muda, di usianya yang menginjak 43 tahun ini ia sudah bebas berkreasi dan tidak mengurus anak yang kecil-kecil, karena kami bertiga sudah berusia di atas 15 tahun. Bunda juga bebas liburan ke manapun selama ayah juga libur tanpa harus membawa-bawa bayi. Dan saya ingin sekali seperti itu. Continue Reading

pernikahan

Bersenda Gurau = Bernilai Pahala

pernikahan adat aceh

SENDA gurau itu bagaikan bumbu dapur. Jangan kebanyakan. Dan jangan juga terlalu sedikit. Secukupnya saja, minimal tawanya mampu meredakan gundah :)

Siapa yang tahan jika setiap hari pasangan halal kita terus menerus memasang muka jutek, serius dan enggan tersenyum? Membuat hati jadi cenat-cenut dan timbul su’udzon kepada mereka masing-masing.
Belum lagi jika istri memasak masakan yang sedikit asin, beranglah suami kepada istri dan menimbulkan masalah-masalah baru yang seharusnya bisa diselesaikan dengan lembut, bersenda gurau sewajarnya. Inilah salah satu keindahan dalam pernikahan, adalah bersenda gurau yang bernilai pahala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ, وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِيْ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).”
Termasuk akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu dengan istri, bersikap lembut terhadap mereka dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak ‘Aisyah Ummul Mukminin berlomba, untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477)
Selain itu pula dari ‘Atha’ ibnu Rabbah ra ; “Aku melihat Jabir ibnu Abdullah dan Jabir ibnu ‘Umair Al-Anshari sedang bergurau dengan berlempar-lemparan. Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada temannya, “Aku pernah mendengar Rasulullah S.a.w bersabda; Setiap orang yang melakukan sesuatu yang tidak ada zikir kepada Allah di dalamnya dinilai sebagai orang yang bermain-main dan melakukan kesia-siaan, kecuali empat orang, yaitu suami-isteri yang bersenda-gurau, seseorang yang menjaga kudanya (atau kendaraan yang digunakan untuk berjihad atau berbuat kebajikan), seseorang yang berjalan di antara dua tujuan, dan seseorang yang mengajar berenang (olahraga untuk kesehatan tubuh).”  [HR An-Nasa’i]
Lantas, masih mau berjutek-jutekan dengan pasangan halal kita, jika bersenda gurau saja bernilai pahala?
.
Yuk bersenda gurau dengan pasangan ala Rasulullah saw, yakni :
Rasululah SAW pernah ditanya “Wahai, Rasullullah! Apakah Engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Rasulullah SAW menjawab, “Benar. Hanya saja saya selalu berkata benar.” (HR Ahmad)
jangan ghibah,  dan
Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(QS al- Hujuraat :11).

 

 Banda Aceh, 261214
pernikahan

Alhamdulillah, Hari yang Dinanti Tiba

pernikahan adat aceh

Alhamdulillah, beginilah pernikahan yang saya inginkan. Mahar diberikan oleh suami tanpa permintaan berapa jumlahnya dari orang tua saya. Saat make up di hari pernikahan, hampir saja alis saya dicukur, namun dengan perdebatan yang panjang akhirnya si kakak tidak melangsungkan niatnya. Jilbab di hari nikah juga hampir diputar-putar jika sejurus kemudian saya tak mengambil jilbab petak dalam lemari dan memakainya sendiri 😀

MENJADI istri adalah hal yang paling membahagiakan buat saya. Sudah sejak kelas 2 SMA saya membaca buku pernikahan dan selalu bahagia melihat foto-foto pernikahan. Kadangkala terbesit bisikan ‘Aku kapan, ya?’.

Sampai akhirnya saya menyatakan ingin menikah dengan Ayah dan Bunda 2 tahun silam. Dan hal yang sudah saya duga adalah Ayah mengizinkan asal S1 sudah ditangan. Sedangkan Bunda? Beliau sangat ingin anaknya nikah muda mengikuti jejaknya.

Hingga akhirnya saya dan suami dipertemukan di sebuah organisasi. Pertemanan dimulai. 1 bulan setelah berteman, dia menyatakan keinginan ingin mempersunting saya sebagai istri. Ahay! Ternyata dia juga sudah ingin menikah. Biar berkah dan rezeki melimpah ruah sesuai janjiNya, begitu katanya. Saya bertanya tentangnya ke beberapa sahabat dekatnya, sesuai arahan ayah yang pada saat itu sudah agak luluh.

Akupun istikharah. Alhamdulillah doa dan harap saya diijabah Allah. Allah Maha Baik, saya dijodohkan dengan pemuda yang insya Allah sholeh dan sangat patuh kepada orang tua. Saat lamaran di 7 Juli 2014, akhirnya Ayah luluh sepenuh hati sebab ketulusan suami saya dan beliau tidak muluk-muluk. Suami saya datang seorang diri, mengenalkan diri dan menyampaikan kehendak hati.

Alhamdulillah, akhirnya Ayah mengizinkan saya menikah muda mengikuti jejak Ibunda. Namun syaratnya saya harus off dari semua organisasi. Tapi bersyukur juga, kulit jadi putih seperti sediakala.
Selain itu Ayah juga yang memilihkan tanggal 10 November sebagai hari bahagia saya dan suami. Terimakasih Ayah!

Alhamdulillah sejak 10 November 2014 saya dinyatakan resmi menjadi seorang istri dari Aslan Saputra. Pernikahan kami langsungkan di Mesjid Agung Al-Makmur, Lampriet pukul 10.00 WIB.

 

Ijab Qabul

 

Selesai Menandatangani Buku Nikah

 

 

Salaman setelah selesai ijab qabul dan penerimaan mahar

 

After Wedding @ taman putroe phang banda aceh

Sehari setelah pernikahan, walimatul ‘ursypun digelar di rumah Ayah dan Bunda saya. Linto Baro (pengantin lelaki) di antar oleh keluarga pada pukul 11.00 WIB ke rumah saya. Disambut dengan tarian ranup lampuan oleh adik-adik TK dan saya sebagai pelatihnya hehe

Make Up

 

Suami saya datang dan disambut oleh keluarga besar saya

Alhamdulillah, beginilah pernikahan yang saya inginkan. Mahar diberikan oleh suami tanpa permintaan berapa jumlahnya dari orang tua saya. Banyak keluarga yang nanya kenapa segini kenapa ngga segini? Duh Gusti. Bunda urut dada saja. Itu bukan lagi daerah pikir bunda. Kasian bunda, semua ngurus sendiri sampai pucat pasi.

 Saya dan suami duduk manis di pelaminan sampai pukul 14.00 WIB. Mengingat kami belum shalat dzuhur, terpaksa beberapa tamu tidak dapat kami salami dan foto bersama lagi.. Mohon maaf yaaaaa :’)

Saat make up di hari pernikahan, hampir saja alis saya dicukur, namun dengan perdebatan yang panjang akhirnya si kakak tidak melangsungkan niatnya. Jilbab di hari nikah juga hampir diputar-putar jika sejurus kemudian kakak bunda masuk dan berkata STOP!(lebay!) Saya bergegas mengambil jilbab petak dalam lemari dan memakainya sendiri.

Selama menuju pernikahan, kami tidak ada yang namanya tunangan, memberikan mahar di awal, ikut adat-adat dan sebagainya. Ayah juga tak mau lama-lama sebab banyak pekerjaan lain yang menunggu kita. Salah satunya adalah menyelesaikan rumah Ayah yang belum 100 % siap. Maka dari itu Ayah menyegerakan pernikahan putri satu-satunya ini.Lancar?
Siapa bilang?
Banyak sekali pihak yang meremehkan niat kami yang ingin nikah muda. Datang menemui bunda trus nanya “itu calon mantu ngaji di mana? Emang udah wisuda? Kerja di mana?” Kepo banget yaa… Tapi jawaban bunda dahsyat membahana badai.
Selama ridho orangtua sudah di tangan, segalanya jadi menenangkan. Allah itu baik banget. Masya Allah. Semua jadi mudah dan detik-detik pernikahan, ada banyak sekali pihak yang membantu. Kita jadi tau siapa yang sebenarnya ada buat kita di saat kita lagi susah dan senang. #bersyukur

Inilah jawaban dari penantian, awal mula keberanian untuk meraih ridhaNya. Allah Maha Baik. Alhamdulillah.

Abang, terimakasih sudah mengambil alih tanggung jawab dari orangtuaku. Terimakasih sudah dan akan mewujudkan mimpi kita bersama. Terimakasih imamku tersayang, tetaplah bersamaku, tuntun aku menjadi istri dan ibu shalihah untukmu dan anak-anak kita.
Selamat 1 bulan pernikahan, sayangku.
Istrimu
Banda Aceh, 10 Desember 2014
00:01