Browsing Category

Kuliner

Jalan-jalan Kuliner

Berburu Kedai Es Krim Legendaris di Surabaya dan Malang

images (2)

Surabaya dan Malang, dua kota yang tersinergi dengan luar biasa. Orang-orang Malang banyak yang kerja di Surabaya, sementara masyarakat Kota Pahlawan sering kali menghabiskan akhir pekannya di dataran tinggi Malang. Transportasi? Bukan masalah, ada banyak pilihan kereta yang memungkinkan kamu berpindah kota dengan mudah. Tinggal cek jadwal kereta Surabaya Malang memang yang hampir tersedia setiap waktu dari dan menuju kedua kota tersebut. Continue Reading

Kuliner

Suatu Sore di Surabi Bantai

surabi bantai kuliner banda aceh

Hampir setiap sore saya, suami dan anak kami, Kizain melakukan rutinitas jalan-jalan sore. Entah cuma berputar di sekitar rumah, atau duduk santai di pinggiran Pantai Ulee Lheue.

Baca : Tips Bawa Bayi Naik Motor

Hari ini -Sabtu, 4 April 2016- sepupu suami -Namira- tiba dari Kota Langsa. Kami sepakat mengajaknya untuk bertemu di salah satu tempat yang kondusif dan nyaman. Pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.00 dan sudah mepet dengan Maghrib. Namirapun akan pulang pada malamnya. Akhirnya kami memutuskan bertemu di Surabi Bantai, Ulee Lheue.

Saat itu adalah Minggu sore. Saat di mana masyarakat beramai-ramai mengunjungi pantai Ulee Lheue yang letaknya tak jauh dari lokasi kami bertemu. Baru-baru ini pun Taman Meuraxa sudah mengadakan kegiatan di sore Minggu. Membuat padat merayapnya Ulee Lheue semakin terasa.

Sesampainya di Surabi Bantai, Namira yang lebih dulu tibapun sudah duduk dan memesan makanan. Kamipun hanya mengikuti.
Setibanya kami di sana, ramai sekali anak muda nongkrong cantik di Surabi Bantai, hingga parkir memakan sedikit badan jalan. Kami sedikit introvert, jadi belum apa-apa sudah merasa kurang nyaman. Lha, namanya aja tempat nongkrong, ya rame lah! :’D

Ketika kami masuk dan duduk, setiap mata memandang. Hal yang paling tidak kami harapkan terjadi. Kami sih bodo amat ya. Kan kita pesan dan bayar, so what gitu lho. Akhirnya hati berusaha tenang dan jiwa ditenang-tenangkan. Berharap juga Kizain bisa anteng hingga pulang nanti.

Beberapa saat setelah duduk, pegawai menyodorkan daftar makanan. Nah, kebingungan mulai melanda. Daftar makanannya banyaaaakkk dan bikin ngiler. Nama-namanya pun unik. Mulai dari surabi sadar, surabi guling, hingga es tante. Ha? Es tante? Hahaha. Tapi bener, lho! Di sini, surabinya disuguhkan dengan pilihan manis atau pedas dengan berbagai variasi. Ada yang dicampur dengan telur dadar, nugget, hingga sosis.

surabi bantai kuliner aceh

 

surabi bantai kuliner aceh 3

 

surabi bantai kuliner aceh 1

Akhirnya kami memutuskan memesan surabi manis, yakni surabi yang pakai es krim, pakai jagung, pakai coklat. Lupa nama keren surabi-nya apa. Dan pesen minum jus mangga. Lagi pengen, sih. Hehe.

 

surabi bantai kuliner banda aceh

Selama menunggu pesanan, Kizain mulai mengeluarkan suara. Berkali-kali jemarinya masuk ke mulut. Sepertinya dia haus, hiks. Saya pun berniat memberikan ASI dan memantau sekeliling, emm tempatnya terlalu terbuka. Saya seka keringat Kizain yang sudah meleber ke mana-mana. Begitupun abang yang ternyata sudah sejak awal masuk kepanasan. Ramai sekali orang, jadi kami seperti kehabisan oksigen.
Saya pun mencari kipas angin atau AC agar Kizain tak rewel.

Namun, apa yang saya dapat? Kipas angin ada, dan itu berada di pojok. Bukan di lokasi kami duduk. Dan di daerah kipas angin tersebut sudah ramai pelanggan. Surabi bantai ini ada ruang outdoornya. Tapi ada yang merokok, membuat kami tak beranjak dan tetap memilih duduk di tempat semula. Saya kipasi Kizain dengan kipas hadiah giveaway yang selalu ada di dalam tas saya. Namun cuaca panas ditambah lampu ruangan yang menyala, membuat ‘cuaca’ benar-benar jadi kepanasan dan membutuhkan udara segar.

Beberapa menit kemudian, pesanan diantar. Seperti biasa, saya duluan makan lalu kemudian abang. Biar bisa gantian menjaga Kizain. Sembari ngobrol satu dua kata dengan Namira, bertanya kabar keluarga juga berujung ke kapan kami akan ke Langsa? Insya Allah, segera, secepatnya ya de :)

surabi bantai kuliner banda aceh

Di tengah saya makan, Kizain yang jarang sekali menangis itu sedikit rewel. Berkali-kali dia mengusap mata dan menghisap baju ayahnya. Keringatnya semakin banyak. Mengalir dari kepala hingga pipinya. Saya sebagai ibu jujur jadi kurang nyaman dengan keadaan Kizain. Dan abang mengerti kegelisahan saya, dia membawa anaknya keluar dari tempat ramai ini. Sayapun segera menyelesaikan makan dan buru-buru keluar.

5 menit lagi waktu akan menunjukkan pukul 18.10. Namun makin ramai saja orang yang datang dari arah kota menuju Ulee Lheue. Knalpot motor bersahut-sahutan. Begitupun dengan Surabi Bantai, yang datang makin ramai saja. Sayapun bertukar gendong dengan abang. Namun beliau sepertinya sudah kurang nyaman untuk menghabiskan makanan sementara pendingin ruangan sangat minim di dalam sana. Diapun meminta saya untuk take away saja pesanannya.

Melihat Kizain yang sudah kriyep-kriyep dan kehausan, sayapun mengiyakan. Segera menuju kasir dan meminta untuk membungkus saja makanan suami yang eskrimnya sudah mencair.

1 menit

2 menit

3 menit

4menit

Akhirnya pesenan saya tiba dan langsung saya bayar bill-nya. Saat saya hendak pamitan dengan Namira dan meminta maaf karena harus pulang duluan, tiba-tiba ada pelanggan lain -yang juga hendak pulang- yang ternyata mengeluhkan bahwa bungkusan yang dia bawa pulang bukan miliknya.

Mbak-mbakpun meminta saya untuk mengecek bungkusan yang saya pegang; yang ternyata bungkusan kami tertukar. Huhuhu. Mungkin si mbak bingung membedakannya.

Tapi walau begitu, Surabi Bantai ini bisa dijadikan tempat untuk merayakan ultah teman dengan dihias dengan balon-balon yang indah, baik di indoor maupun outdoornya. Dan makanan yang unik dan ramah di kantung anak muda yang selalu menghemat di akhir bulan.

surabi bantai kuliner aceh 2

indoor

 

surabi bantai kuliner aceh 4

Outdoor

Akhirnya setelah saya tukar barang dan menyelesaikan pembayaran, sayapun keluar dan segera menemui abang. Dan kamipun pulang.

Di mobil, sembari saya menidurkan Kizain, abangpun membuka bungkusannya. Saat dibuka, ternyata packagingnya kurang menyenangkan. Surabi bantai tersebut tumpah dan kuahnya tak ada sisa. Tinggal surabinya saja. Hiks. Abangpun mengurut dada.

Baca : Yang Penting Itu Kebersamaan

‘Sabar ya sayang, alhamdulillah dibalik semua ini kita sudah menyambung silaturahmi dengan Namira.’ Ucap saya menenangkan.

*Catatan Kecil*

  • Kalo mau ke Surabi Bantai, bawa kipas angin tangan, yaa
  • Lebih baik makan di tempat daripada bawa pulang
  • Kalo ga mau ramai, bisa pilih waktu siang atau jangan terlalu sore

Sekian~

Banda Aceh, 6 April 2016