Browsing Category

keluarga

keluarga

Anakku, Terimakasih Sudah Mengerti

IMG_20160202_181851

Beberapa hari belakangan, aku mulai disibukkan dengan aktivitas kuliah. Mulai merancang power point presentasi untuk tugas kelompok dan sibuk membaca ulang bahan yang telah diberikan. Lumayan, semangat diawal harus tetap dipompa agar terjaga hingga akhir.

Selama kuliah, aku meninggalkan anakku yang masih 3 bulan di rumah. Anakku yang masih ASI ekslusif itu harus berjuang minum ASIP yang kuperah dini hari dan pagi buta. Aku kurang yakin dengan ASIP yang telah lama di dalam kulkas, jadi aku berusaha untuk memberikan asi segar kepada Kizain. Kalaupun harus masuk kulkas, kuusahakan agar tidak lebih dari semalam saja.

Awal-awal pemberian ASIP, Kizain menolak. Dotnya digigit, geram. Berkali-kali dilepeh dengan lidahnya dan memalingkan wajah. Jujur, aku bingung dan sedih. Aku khawatir Kizain akan kehausan selama kutinggal ke kampus.

Pelan-pelan kubujuk saat Kizain tengah menyusu padaku. Kuberitau bahwa ibunya harus berpendidikan. Maka dari itu ibu melanjutkan kuliah.

Kizain menatap mataku. Sayu. Aku terenyuh. Matanya seakan berbicara, sekejap kemudian ia tertidur pulas. Kututup malam dengan mengadu resahku pada Yang Maha Segala.

Esoknya, hari pertamaku kuliah. Berbekal keyakinan dan helaan nafas panjang, kutinggalkan Kizain dengan ASIP seadanya. Hanya 50ml saja.

Selama tiga jam aku pergi, hatiku berusaha untuk tenang dan tidak berpikiran macam-macam. Sepanjang perjalanan, aku melamun. Membayangkan buah hatiku tengah minum ASIP dan tertidur.

Tak lama, HPku berdering. Sms dari suamiku. Beliau mengabarkan bahwa Kizain sudah tidur lelap. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Setelah bangun Shubuh hari, Kizain akan minta tidur di jam 8pagi dan terbangun jam 10pagi.

Hatiku sedikit lega dan berharap Kizain tidur agak lama, minimal ia terbangun saat aku pulang nanti.

Sepulang kuliah, kudengar ocehan anakku. Segera kutemui dirinya. Rasa rindu yang membuncah sudah tak mampu lagi kutahan.

Ya, Kizain sudah bangun. Dia tertawa, sedang bermain dengan suamiku. ASIP tersisa 10ml lagi.

“Hallo bunda, kami lagi bermain lho.. Oh iya tadi awalnya dia ngga mau minum, De. Nangis kencang dan pengen digendong terus. Abang ajakkin dia ngobrol kalo bunda sedang berjuang, jadi Kizain juga harus berjuang. Nanti pulang bunda kuliah, Kizain boleh minum ASI langsung sama bunda. Dia mau minum ASIPnya, walau masih bersisa. Padahal tidurnya tadi cuma 20 menit saja,” kata suamiku sambil mengaduh, sebab janggutnya ditarik tangan mungil anakku.

“Alhamdulillah. Gapapa asal bisa mengganjal perutnya. Assalamualaikum Kizain anak sholehkuuu…” segera kutemui dia dan tersenyum, terharu. Ingin sekali kudekap tubuhnya. Namun kuurungkan. Kebiasaan kita ketika pulang dari mana-mana adalah tidak menyentuh dan mencium anak sampai mencuci tangan, wajah dan kaki.

Kizain membalas senyumku kemudian menangis. Eu, dia haus.

Kucuci tangan dan muka serta berganti baju untuk segera menyusui anakku. Dia pun minum dengan baik dan tertidur pulas.

Terimakasih anakku, atas pengertianmu.. Mengerti kalau bundamu masih berstatus mahasiswi. Mengerti kalau bundamu lelah dan rewelmu tak pernah berkepanjangan. Mengerti kalau bundamu terkadang tidak mengajakmu berbicara lantaran tengah membuat tugas. Mengerti kalau kuajak jalan-jalan sehingga tidur sepanjang perjalanan. Mengerti kalau malam waktunya tidur, sehingga kau tak begadang. Mengerti kalau ayah dan bunda sedang berbicara dan kau diam mendengarkan. Mengerti kalau menangis, membuat hatiku susah. Mengerti kalau kau tersenyum, membuat lelahku hilang seketika. Mengerti kalau hadirmu buat duniaku berwarna. Mengerti kalau kau adalah investasi akhirat kedua orangtua.

Bunda sayang Kizain karena Allah, nak.

 

Banda Aceh, 4 Februari 2016

 

keluarga

Surat Cinta Untuk Anakku

Anakku,

Jika suatu hari nanti kau temukan catatan kecil ini, kau tak usah gelisah. Cukup bacalah.
Bacalah dengan nafas yang kau hela satu-persatu. Bacalah dengan pikiran yang tenang. Bacalah dengan hati yang lapang.

Bahwa aku mungkin bukan ibu yang sempurna. Sebelumnya kuyakin kau telah diskusikan denganNya bagaimana kriteria perempuan yang akan menjadi ibumu. Dan aku? Mungkin tak masuk di dalamnya.

Terkadang, aku masih mengedepankan egoku ketika kau menangis kehausan. Aku mengabaikan kegelisahanmu akan popok yang basah. Aku mengabaikan tangis kebosananmu dengan pekerjaanku sebagai mahasiswa. Aku memilih untuk memosting komentar di social mediaku daripada mengajakmu berbicara. Kuakui, nak. Aku tak pantas menerima penghargaan sebagai ibu terbaik. Aku adalah ibu yang belum bisa berbagi dengan waktu.

Namun, akulah ibumu nak. Walau bagaimanapun dunia menyatakan cintanya padamu, aku adalah ibumu.
9 bulan kau menggeliat dalam rahim ibu dan kulahirkan kau dengan tangis mengharu biru.
Berkali-kali kubaca bagaimana cara mendidik anak dengan baik, agar kelak kau menjadi anak yang membanggakan, menjadi harapan ummat, bangsa dan agamamu. Agar kelak di hari akhir nanti, kukembalikan kau kepada Yang Maha Kuasa dengan kelembutan hati dan ketenangan jiwa. Tak ada yang cacat dalam pendidikanku padamu.

Maka, maafkan aku nak.

Jika dalam perjalanan aku tak mampu menjadi ibu seideal yang kau mau.

Begitu banyak komentar orang yang datang silih berganti. Mengomentari cara ibu mendidikmu, menggendongmu, memelukmu bahkan memandikanmu. Tangan ibu bergetar, mata ibu basah nak. Setiap malam ibu mencari referensi baru agar esok kau mendapati ibumu cerdas, dan komentar itu berkurang.
Apalah daya nak, ibu terlalu muda untuk dipercaya.

Namun ibu berprinsip, ibu akan selalu memberi yang terbaik untukmu. Sebisa ibu, semampu ibu. Agar kau tak kurang kasih sayang, bahagia dunia dan akhirat. Agar kau menjadi jembatan kebaikan Ibu sepeninggal Ibu nanti. Senantiasa mendoakan Ibu, meski ibu tak lagi nyata di sampingmu.

Meski kau masih kecil, bahkan mungkin belum jelas melihat wajah ibumu, ibu bahagia nak. Atas perkembanganmu yang baik, senyummu yang menawan, kesehatanmu yang senantiasa Allah berikan. Semoga Allah menjagamu, melindungi dari segala kejahatan yang nampak dan tak tampak. Kau mulia dalam penjagaanNya.

Anakku yang ibu cintai selalu, dalam diam dan dalam doa ibu..
Tumbuhlah sehat, bahagia dan tetap rendah hati. Jadilah hamba yang Allah cinta dan mencintaiNya. Kuatkan dirimu, kuatkan imanmu. Jangan biarkan kezaliman mengoyak teguh prinsipmu.
Meski kau masih bayi, namun kau harus tau. Dunia hanyalah tempat singgah. Bawa ayah dan ibu ke syurga dengan bahagia ya nak.

Tengkuraplah, merangkaklah, berjalanlah, berlarilah, jadilah lelaki yang gagah dan bersahaja, Kizainku sayang. Tegapkan badanmu, tegakkan kepalamu.
Ibu menunggu setiap perkembanganmu. Kita lalui sama-sama ya nak.

Akan ada masanya nanti jiwa ini sangat merindukanmu. Kau tumbuh besar dan gagah. Kau jadi jarang menjumpai ibu, namun ingatlah bahwa aku adalah ibumu nak. Seberapa sering kau berpaling, seberapa sering kau terlupa, cinta ibu takkan berkurang. Rumah ini, akan selalu menunggu kaki kecilmu untuk pulang. Memelukku yang kian hari kian rapuh dan akan menghilang.

Salam sayang,
Ibumu selalu

 

Banda Aceh, 29 Januari 2016

 

keluarga

Milad 41 Bunda

Sosok bunda bagiku adalah luar biasa. Dan aku yakin setiap anak di dunia pasti merasa setiap ibu mereka adalah harta paling berharga. Bagaimana tidak? Mereka menyayang kita sejak dalam kandungan hingga besar dan kadangkala kita suka pura-pura lupa untuk menyium punggung tangannya. Atau memang malas sebab mereka tengah sibuk di dapur. Takut kecium bau bawang, kata kita. Benar tidak?

Namun bunda tetap memaafkan.

Sosok bunda bagiku adalah luar biasa. Tiada terganti setiap jasanya. Beribu bantahan kita haturkan, namun suara lembutnya tetap menunjukkan rasa sayang. Ketika dirinya harus bersabar akan kita yang lebih memilih main game online atau gadget daripada panggilan rindunya. Lelah terhampar namun ditepisnya. Pulang kerja bukan berleyeh di kamar tapi sibuk di depan penggorengan, “Anakku belum makan.”

Dan ketika harus merelakan sang anak menikah, itulah bahagia di antara sedihnya. Bahagia karena kini anaknya telah ada yang mendampingi. Dan sedih karena merasa masih kurang pembelajaran yang diberi, Dirinya berharap nasihatnya selama ini bermanfaat untuk keberlangsungan hidup anak-anaknya, dan hidup jauh lebih bahagia dan lebih baik dari dirinya.

Terlalu banyak kenangan dan kebaikan yang Bunda lakukan. Maka izinkan tulisan ini mewakili perasaan ananda. Selamat ulang tahun ibundaku tercinta. Kini, aku tengah berproses untuk memiliki seorang anak. Sedikit banyak rasa sakitmu selama mengandung sudah kurasa. Aku tak berdaya kala mengingat rasa sakitmu. Sebagaimana yang kau katakan, semuanya akan hilang setiap melihat tumbuh kembang. Aku menemukannya. Kala curhat denganmu menjadi penyejuk, aku memilihnya.

Aku malu mengingat dulu lebih asyik menjalin pertemanan sehingga kadang suka telat pulang dan kesibukan di luar daripada merasakan banyak waktu indah bersamamu di rumah, di dapur bahkan melihat wajahmu tertidur. Sekarang, setelah menjadi seorang istri dan calon ibu, rasa rindu dan sayang padamu semakin tertohok, menuju kepadamu setiap waktu. Temakasih bunda, karena telah melahirkanku dengan susah payah. Doakan aku bunda, agar cucumu lahir sehat, selamat dan akupun bisa mendidiknya dengan ilmu yang kau berikan, ilmu yang tak terukur dan tak berbayar.
Atas cintamu yang tak pernah lengah, izinkan aku berbakti di sisa umur kita berdua. Allah sayang bunda, tiada satupun yang boleh melukai hati bunda, selamanya.

Bundaku, kekasihku. Dan cintaku adalah bunda.

Selamat 25 Juli yang ke-41, Bunda.