Mommy Life

Am I Depressed?

BEC1C894-0E1D-453C-90C4-E9B0C9D6777E

Di usia 24 tahun alhamdulillah, saya sudah diamanahkan 2 kids yang jarak umurnya lumayan deket. Plus satu suami yang menyayangi sepenuh hati.

Menjalani biduk rumah tangga itu asyik, tapi stress mulai hadir saat anak kedua lahir, abangnya merasa kurang kasih sayang, di sisi lain feed instagram lagi banyak yang share tentang wisuda lempar topi.

Tersindir? Sedikit. Tapi makin ke sini, ketika temen-temen statusnya mulai kerja lembur bagai quda tapi masih sempet duduk cantik ngopi sama temen sepermainan, disitu gue mulai pengen keluar dari rumah dan ketemu sama satu organisasi yang sekarang saya geluti, alhamdulillah akhirnya punya teman yang statusnya sama: Emak Beranak Tapi Masih Bisa eksis.

Ga berhenti sampai disitu, mulai dihadapkan sama teori parenting: Anak sekolah vs homeschooling, ibu bekerja tidak jauh lebih baik dari ibu di rumah (?), ga boleh bersuara keras ke anak, senyum harus keliatan gigi (?), alias bermuka dua gitu? Hahaha.

Kadang, kalo pikiran lagi steril, ekonomi lagi stabil, suami lagi pas ngajakin liburan, anak lagi anteng, saya bisa berfikir positif sepositif-positifnya. Tapi, pikiran ga selamanya steril, virus duluan nyangkut tanpa proses filter, anak nangis bersahut-sahutan, saya bisa hampir gila.

Kalo dipikir-pikir lagi, sebenarnya saya masih menganggap diri saya ini mampu melakukan apapun tanpa batas. Saya masih bisa hang out, bisa happy, bisa menikmati liburan yang hakiki, bisa mencapai mimpi. Tapi mungkin selama ini saya kurang satu hal: bersyukur.

Segala hal yang saya rasakan hingga saat ini adalah bentuk Allah masih sayang sama saya. Allah berikan saya amanah anak-anak di usia 24 tahun yang belum tentu teman saya yang sudah sarjana itu mampu menerimanya. Saya melalui tandem nursing dengan begitu bahagia, meski tak luput dari duka.

Sampai di suatu titik, saya semakin berfikir negatif, ketika datang suatu kabar yang seharusnya menjadi kabar bahagia bagi banyak orang, tapi tidak bagi saya.

Sorry, bahkan sampai hari ini saya belum bisa cerita ke siapapun, kecuali suami & beberapa teman dekat.

Saya merasa tidak ada satupun orang yang mengerti kondisi saya. Apa yang saya rasakan dan apa yang mau saya kerjakan. Di lain hal, saya dipaksa untuk terus menyelesaikan kuliah, sementara anak-anak tak ada yang pegang.

Dulu, saat anak pertama saya lahir, saya berfikir untuk menyelesaikan apa yang saya mulai. Namun, di sisi lain, pekerjaan suami yang sedang menanjak harus saya korbankan. Sementara untuk bayar SPP itu butuh uang, kan? Jadi, apa yang harus saya dahulukan?

Saya bingung, tanpa tau tujuan. Saya ingin A tapi jalannya jauh, harus dari Z dulu. Apakah kalo saya kuliah, saya akan bahagia? Apakah kalo saya sudah sarjana dengan dua anak, akan bikin saya bangga dan pamer di instagram?

Atau saya hanya ingin diakui?

Sampai saat ini, saya terus mencari, apa yang ingin saya tekuni. Saya mencoba hal baru: blogging. Ternyata asyik, namun sayangnya saya sering tak punya waktu untuk menyelesaikan tulisan.

Saya mencoba desain, jauh lebih menyenangkan. Ternyata buat nyari ide desain ga segampang ngidupin laptop.

Saya mencoba programming, ruwet tapi seru. Saya akhirnya menyerah.

Ada yang salah dengan diri saya. Tekanan ini sungguh memusingkan. Sisi filtering lagi enggan diajak bekerjasama. Bawaannya selalu kerdil melihat pencapaian orang lain. Hati saya dipenuhi rasa ‘coba kalau’ dan sebagainya. Saya jadi jijik dengan segala hal yang bikin saya jalan di tempat. It’s really makes me give up. Saya serasa tak punya impian lagi.

Setiap kali curhat, yang ada makin nambah pusing di kepala. Padahal yang saya butuhkan adalah big hug. Ga lebih.

Saya takut, ini akan jadi masalah besar suatu hari. Akan berpengaruh ke cara saya mendidik anak. Akan berpengaruh ke hari-hari saya. Akan berpengaruh ke apapun yang saya lakukan.

Apakah saya udah jauh banget dari Allah? Apakah saya udah ga punya teman lagi? Apakah saya semenyedihkan itu?

Am I Depressed or just sad? Ke mana saya harus pergi? Siapa yang harus saya temui?

Dan pagi ini saya begitu bahagia mendapati dua blogger kesayangan, mami @grace melia yang membahas tentang tantangan mom milenial dan mbak @annisast yang bahas confidence, dan seberapa pentingnya hal itu.

Sending a lot of thank you and hug for you two, sekarang saya sungguh tak sendiri.

Membaca insta story mereka yang sungguh berfaedah, bikin mood hidup saya balik lagi. Selama ini saya begitu kurang mampu menjaga kepercayaan diri dan tak mampu berbuat apapun. Saya ga berani tanya ke diri, mau ke mana saya selesai ini?

Sejauh apa sudah saya perjuangkan kebahagiaan untuk diri sendiri? Selama ini saya selalu berfikir tentang ‘kata orang’, sementara saya ngga ikutin kata hati saya sendiri.

Sejauh apa sudah saya bahagia menjadi diri sendiri dan menikmati hari-hari?

Sejauh apa sudah saya BERHENTI membandingkan diri dengan orang lain?

Tarik nafas, berbahagialah. Meskipun kadang abis nulis ini saya berfikir hal aneh2 lagi, setidaknya sekarang saya sudah mencoba untuk bertanya pada diri.

Saya harus benar2 menanamkan pada diri bahwa everyone itu punya problemnya masing/masing. Mereka sedang berjuang, untuk tetap stay healthy and waras. I know it. I feel it.

I’m with you. Yang bilang enak jadi saya, saya boleh bilang juga, enak betul bila saya jadi kamu :)

salam,

ibu biasa saja

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply
    Yuni
    14 August 2018 at 22:15

    Kayak nemu sodara senasib sepenanggungan dengan cerita yg agak dimodifikasi. You are not alone dek ayi, at least there is me

  • Leave a Reply