Blogging

Alasan Cutdekayi Ngeblog

alasan-cutdekayi-ngeblog

Dalam dunia ini ada orang yang senengnya nulis berujung terbitin buku. Ada juga orang yang senengnya nulis diary online alias blogging tapi belum berani nerbitin buku. Ada juga yang memilih nulis buku dan jadi pembicara. Kamu ada di bagian mana?

Yah saya selalu yakin, di manapun posisi kita saat ini, yang paling penting dan terutama adalah taat pada Sang Pencipta. Sejauh apapun langkah kaki kalo tidak ada Tuhan dalam hati, saya rasa sungguh sia-sia. Kita bernafas dan sehat hingga hari ini tak lepas dari kasih sayangNya.

Awal Mula Blogging

Balik lagi ke topik, yaitu tentang alasan cutdekayi ngeblog. Sebenarnya alasan saya terus berbeda setiap tahun. Dulu awal-awal, niatan hati hanya untuk mengcompile setiap puisi yang saya tuliskan. Yes, awal mula saya menulis blog itu tahun 2009, saya senengnya nulis puisi cinta pada masanya. Saat itu saya tergabung dalam beberapa komunitas sastra yang bila bertemu puisi harus jadi satu. Berbicara soal membukukan puisi-puisi saya, rasanya masih terlalu jauh. Belum tentang modal, tentang bagaimana caranya dan lain sebagainya. Fyi, 2009 itu saya masih jadi anak SMA yang hobi main media sosial tapi belum berfikir nerbitin buku.

Hingga suatu hari saya masuk ke dunia kuliah, blog saya yang masih di platform blogspot beralih peran menjadi cerita hari-semasa kuliah, kebanyakan sih cerita konyol menakjubkan dalam hari-hari saya. Saat itu jujur saya belum tau gimana tips n trik menulis blog yang baik, bahkan dalam pemilihan template pun masih amatir. Referensi saya di dunia perbloggingan masih cetek. Kenal dengan komunitas bloger? Boro-boro.

Hingga pada tahun 2013 saya kehilangan motor dan depresi berat, hidup saya kembali tegak ketika seorang teman mengirimkan tulisan blog suami saya (saat itu doi belum jadi suami, bahkan saya belum kenal sama sosoknya). Suami saya menulis tentang kehilangan yang ia rasakan, bagaimana ia survive dan  tetap bangkit menemui mentari esok hari. Saya terkejut. Dan surprise. Karena dari tulisannya saya kembali menemukan ruh yang hilang. Bahwa ternyata tulisan di blogpun bisa menginspirasi orang banyak tanpa perlu bertatap muka.

Akhirnya makin ke sini tulisan saya ga ngawur lagi. Terlebih ketika beberapa bulan setelahnya saya bertemu dengan sesama teman blogger di salah satu organisasi ternama, dan kami mulai diarahkan untuk menulis satu tema dan mengembangkannya.

Saya mulai punya referensi blog yang cantik, dan belajar mengotak-atiknya. Saat itu sih saya belum paham ngoding dan teman-temannya. Saya masih edit template bawaan dan mencoba mengubahnya sesuka hati saya.

Di tahun tersebut pula saya menikah. Jujur saat menikah saya dan suami ngga punya kantor dan ga bekerja di kantor. Saya yang masih kuliah dan suami yang baru wisuda, membawa kami mendirikan suatu perusahaan IT Konsultan bernama Gumugu yang alhamdulillah eksis hingga saat ini.

Gumugu awalnya hanya fokus di animation dan web developer. Nah yg web developernya itu, blog saya menjadi uji coba suami untuk mengerjakan proyek-proyeknya pada masa itu. Kemudian, karena saya baru menikah dan butuh teman sepermainan, saya browsing tentang dunia ibu-ibu. Dipertemukanlah saya pada komunitas bloger nasional, saya mendaftar, dan diterima sebagai membernya. Alhamdulillah.”, akhirnya saya punya kesibukan baru. Yaitu blogwalking, meninggalkan komentar dan menunggu komentar balik datang.

Saya kenal dengan berbagai niche blog, tulisan blog, nama branding blog yang keren hingga optimasi media sosial yang baik & benar. Akhirnya saya pun mulai benar-benar fokus di tahun 2014 dan tulisan pertama saya adalah tentang kehamilan anak pertama.

Yap balik lagi, karena memang saya seneeeeeng sekali mengabadikan kenangan hari-hari, blog saya hanya berisi tentang keluarga kecil kami. Tentang kisah kasih menjadi seorang istri programmer, ibu muda dan sebagainya.

Sampai suatu waktu saya merasa bosan menulis dan terus mengejar blogwalking, saya fokus di media sosial. Yah namanya idup, ada bosannya ada jalan di tempatnya. Tapi lagi-lagi setelah saya tinggalkan, saya selalu ingin kembali. Makin ke sini saya bisa dapat duit hanya dengan menulis 1 artikel. Saya diundang untuk datang ke event dan dibayar. Saya diajak campaign media sosial dan dibayar. Tak lain tak bukan awalnya adalah dari blog. Jadi, mengapa saya masih ngeblog hingga hari ini?

Alasan Cutdekayi Ngeblog

1. Blog membuat saya terus belajar dunia kepenulisan; hari-hari menjadi ibu rumah tangga kadang saya merasa ingin punya kesibukan. Dan blog mampu menerbangkan kejenuhan saya jauh sejauh-jauhnya. Saya belajar menulis 500-1000 kata, saya belajar EBI agar tulisan lebih enak dibaca, saya belajar untuk menulis hal-hal yang bermanfaat, saya belajar menulis 5W1H, saya belajar menahan ego ketika menulis, dsb.

2. Blog membuat saya belajar desain dan coding, pasti pengen dong punya featured image yang bagus? Nah saya rela belajar photoshop ke suami demi bisa punya featured image yang cantik. Selain itu saya jadi punya tambahan jajan karena banyak teman-teman yang akhirnya tau saya bisa desain, untuk membantu desain usaha/branding mereka.

Sebenarnya bukan hanya desain dan coding, saya juga belajar marketing dan public speaking. Mau ga mau banyak yang nanya gimana sih caranya ngeblog? Atau gimana sih tips bagi blogger pemula? Yah bagi yang kenal saya pasti tau banget kalo saya anak belakang layar, yang setiap diundang buat bicara selalu menolak. But, ngga lagi dong. Sekarang dunianya berbagi, ga cuma untuk diri sendiri.

3. Blog membuat saya ‘hidup’, saya senang menulis sejak kecil. Dan setiap tulisan yang saya abadikan, mampu membuat saya terus hidup. Membaca cerita masa lalu, kadang rasa tak percaya saya sudah hidup di jaman ini. Saya melalui hari-hari yang struggling dan penuh lika-liku. Dan hari ini saya bersyukur, tanpa adanya tulisan di hari lampu mungkin saya lupa bahwa saya pernah berada di sana.

4. Blog membuat saya memiliki penghasilan; kayanya munafik kalo kita ga butuh duit toh? Tapi jujur awal mulanya saya ndak begitu mikirin fee-nya. Karena suami menekankan saya untuk tidak bekerja karena dibayar. Tapi kerjakanlah apa yang menjadi passion, maka bayaran akan datang dengan sendirinya. Maka dari itu ketika mulai datang job-job, saya harus melawan diri sendiri untuk tidak berleha-leha dan tetap mengupdate blog agar rapih dan ciamik. Toh kenyamanan user adalah yang paling utama. Siapa sih yang mau baca kalo tulisannya berbayar semua? Alias endorse semua?

5. Blog membuat saya menjadi saya yang sekarang.

Terimakasih dunia blogging. Mungkin tanpamu, saya takkan mampu meyakinkan diri saya bahwa saya bisa berdiri di atas nama saya sendiri, hari ini. Mungkinpun saya akan selamanya bau dapur tanpa pembelajaran yang HQQ. Mungkinpun saya tak bisa menjadi seorang yang kreatif baik dalam mengurus anak, mengurus blog dan amanah baru di Coding Mum yang baru saya dapatkan beberapa waktu lalu.

Semoga, saya terus survive di dunia blogging. Karena jaman digital sudah begitu dielu-elukan banyak pihak. Tinggal kita, mau masuk atau tergerus jaman?

Jadi, yuk ngeblog :)

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply
    iqbal
    21 November 2018 at 10:09

    Keren tulisannya ayi, kayaknya pada ikutan alasan mengapa pengen nulis di blog. Saya ikutan juga ah…

  • Leave a Reply