Cerita Bunda

Aku Memilih Bersamamu

Bayi

Akan ada waktunya, di mana kita akan di hadapkan oleh dua hal yang sangat penting dalam hidup kita. Meninggalkan anak selagi masa emas dalam hidupnya atau bermain bersamanya sampai waktu memilihnya beranjak dewasa.

Keegoisan kerap kali muncul, di saat keeksisan lebih dominan di dalam diri. Membiarkannya bermain sendiri, melewati siang ke sore tanpa ibu di dekatnya. Dia memang belum tau siapa kita dan apa hubungan kita dengannya di usia bayi ini. Maka dari itu tak apa meninggalkannya selagi dia belum dekat dan menangis apabila jauh dari kita. Tapi aku -dan kurasa semua ibu di dunia ini- tak ada yang sepenuhnya sanggup.

Setelah berdiam diri dalam istikharah panjang, diskusi hebat dengan suami tersayang dan perang bathin yang luar biasa antara hati dan pikiran, jawaban itu datang.

Kali ini aku jauh lebih tenang.

Siapapun tau, bagaimana repotnya mengurus bayi, menimang, menidurkan, menyusui bayi. Seutuhnya. Siapapun tau, betapa bahagianya memiliki bayi mungil nan lucu, setiap hari ada saja tingkah lakunya yang membuat kegalauan meluap, membumbung tinggi ke langit sana. Dan kuakui, siapapun yang berada diumurku, di posisiku saat ini, ini adalah pilihan yang sulit.

Bayi.

Hanya sekali saja dalam daur hidupnya dia berumur bayi. Kelak dia sudah bisa jalan, dia takkan membutuhkan pegangan tangan kita lagi untuk memegang jemarinya. Dia akan lebih bebas ke mana-mana sendiri. Dan kita? Cukup memantau, mendoakannya dari rumah.

Adakah ibu yang mau berpisah dengan anaknya semasa bayi? Saya kira tidak. Dan jikapun harus, itu adalah pilihan yang sulit. Yang menghantui saya berkali-kali saat sedang bahagianya di kampus, bersama teman-teman.

Maka, anakku. Kali ini bunda akan mengalah. Karena kamu sudah begitu banyak mengalah. Kamu begitu kecil untuk memahami. Begitu lugu untuk mencari tahu. Biarkan nanti, pada waktunya bunda akan bercerita. Mencarikan benang merah, agar kau paham. Mengapa bunda lebih memilihmu.

Selamat datang di dunia ibu rumah tangga, Ayi.
Berbahagialah. Jangan putus asa. Banyak hal yang bisa kau lakukan di rumah, bersama anakmu. Jangan menyerah dan jangan pernah merasa rendah diri.
Allah akan menolong orang yang memudahkan urusan orang lain.

Anakku, untuk ke sekian kalinya izinkan bunda pinta padamu untuk mengerti. Bahwa bunda lebih memilihmu daripada karir bunda yang bundapun belum tau, bagaimana kelanjutan ke depannya.

Banda Aceh, 17 Februari 2016

Bundamu

You Might Also Like

11 Comments

  • Reply
    Inda Chakim
    17 February 2016 at 20:02

    maaakkkk, terharu bacanya,
    aku jg pernaah dlm posisi ini mak, dan rasanyaaa….hhhhh..
    Semangat ya mak, semangaaattt :)

  • Reply
    Tira Soekardi
    18 February 2016 at 03:21

    nice

  • Reply
    Sri Luhur Syastari
    19 February 2016 at 19:12

    Iya, mak. Beraaaat, hikssshh.. Btw, thanks ya mak :')

  • Reply
    Sri Luhur Syastari
    19 February 2016 at 19:12

    Terimakasih yaaa :)

  • Reply
    Mairiska Putri Maulana
    22 February 2016 at 22:34

    kak kok ngk ke kampus lagi ????
    ;(

  • Reply
    Sri Luhur Syastari
    23 February 2016 at 16:20

    Kakak jadi full IRT dulu ya sayaang

  • Reply
    Mairiska Putri Maulana
    23 February 2016 at 20:47

    ya kakak…:( padahal udh semangat lah.. tapi itu adalah pilihan yang paling baik untk skarang ini..semangat ya kak..semoga menjadi the best mother for kizain.. :)

  • Reply
    Rotun DF
    27 February 2016 at 05:21

    Barakallahu fiik, Ayi! Welcome to the club :). Nikmati saja tiap detiknya, kunyah kunyah. Karena bayi itu, akan cepat sekali besar :')

  • Reply
    Sri Luhur Syastari
    29 February 2016 at 09:46

    Betul mbaaaak… Dan akan rindu masa bayinya :')

  • Reply
    Adriana Dian
    19 March 2016 at 21:11

    Berbahagialah Mak Ayi.. Karena masa-masa kecil anak-anak kita, memang cuma akan kita rasakan sekali seumur hidup kita.. :’)

    • Reply
      cutdekayi
      23 March 2016 at 08:32

      Iya mak, trus skrg udah kaya ga sadar. Si kecil terus bertumbuh dan berkembang dg pesaaat :’)

    Leave a Reply