Aksi Nyata

Bekerja Bersama Karena Indonesia Butuh Kita yang Berjiwa Pancasila

IMG-20170728-WA0011-01

“Biarlah anak ini kulahirkan dan kudidik sendiri,” adalah pemikiran dari seorang ibu yang tidak bijak sama sekali. Melahirkan, memang perjuangan kita. Tapi lupakah kalau manusia tak mampu hidup sendiri?

Sudah 2 tahun statusku berubah. Dari seorang mahasiswi menjadi seorang ibu. Sehari-hari membersamai mereka bukanlah hal yang baru bagiku. Mengganti popoknya, mengajaknya tertawa hingga kami tertidur bersama adalah hal manis yang akan kuingat hingga ia besar kelak. Menjadi seorang Ibu, bertambah tanggungjawabku. Bukan sekedar melahirkan, justru akan kubawa ke mana dirinya juga menjadi doa yang terucap di sepertiga malam.

Masih kuingat jelas dipikiran ketika anakku lahir dan tangisnya pecah, buatku terharu. Di kamar operasi yang dingin, perawat membawanya ke tempat di mana aku terbaring tak berdaya. Kucium ia tanpa bisa menyentuhnya. Sebab kedua tanganku harus terbaring lemah. Yang satu diinfus, yang satu terlilit sfigmomanometer yang setiap 30 detik sekali mencengkeram lenganku. Sementara di luar sana, suamiku merapal doa agar anak dan istrinya selamat tanpa kurang suatu apapun. Ia diam dalam doanya. Hidup atau mati adalah pilihan, lantas bagaimana jika mati menjadi jawaban? Ia terus berfikir positif meski hatinya tak berhenti menerikkan kalimat negatif. Perlahan air mata menyeruak ke permukaan, membasahi pipinya yang kering tak terawat setelah seharian menyelesaikan dokumen rumah sakit. Semenit kemudian, ada degup baru bersuara dalam jantungnya. Perawat mendekatinya sembari membawa bayi merah ke pelukan lelakiku untuk diadzankan.

Pemuda Harapan Bangsa

Pemuda Harapan Bangsa

“Anakku telah lahir,” ucapnya sambil menggendong bayi itu dengan penuh harapan. Harapan baru dari seorang ayah yang lelah mencari nafkah demi anaknya.

Hari demi hari berlalu. Awan berarak membawa harapan segar bagi Ayah Bunda yang kedatangan anggota keluarga baru. Angin datang pada waktunya. Menyejukkan cuaca Banda Aceh yang jauh dari rinai hujan. Anakku begitu cepat belajar. Ia belajar menyusui dengan baik. Dan akupun belajar mengerti kemauannya. Ia belajar mengoceh, dan akupun belajar mengerti bahasa bayinya. Ia belajar tengkurap, duduk, berteriak hingga ia mampu berjalan dan berlari tanpa perlu dipapah kedua orangtuanya. Ia yang bertumbuh dengan harapan dapat menerapkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupannya sehari-hari, kelak.

Pancasila Sebagai Ideologi Negara

Seketika aku teringat kembali ke-5 sila yang sering kita bacakan saat upacara di Senin pagi dari SD sampai SMA? Yap, pancasila. Pancasila yang kita kenal sebagai ideologi negara adalah alat pemersatu bangsa. Sila-sila yang tercantum di dalamnya sudah pasti menjadi dasar kita bernegara, menjalankan hidup bermasyarakat yang adil bijaksana.

1. Ketuhanan Yang Maha ESA

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyarawatan Perwakilan

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sudahkah kita mengamalkannya? Jika kita tidak berjiwa pancasila, bagaimana menjadi masyarakat Indonesia? Bagaimana menjalani hari-hari hingga hidup di usia segini? Bukankah mengamalkan pancasila juga hablumminallah dan hablumminannas? Bagaimana saya bisa melahirkan seorang anak, dan dibantu banyak pihak yang jikalau mereka tak berjiwa pancasila, saya mau jadi apa?

Anak-anak kita kini hadir di saat yang tepat, di saat bangsa butuh pemuda yang hebat. Pemuda yang berani unjuk diri serta gigi. Pemuda yang tidak patah semangat meski perpecahan terjadi di mana-mana. Dengan semangat kebhinekaan, ia hadir. Menyatukan, menyejukkan. Bak hujan yang dirindukan. Ia menjadikan Pancasila sebagai inspirasinya untuk maju. Sudah seharusnya kitapun menjadi teladan yang nyata untuk mereka dalam mewujudkan nilai-nilai pancasila. Karena kita termasuk salah satu pemuda yang dibutuhkan bangsa.

Balij lagi, melahirkan seorang anak, bukan hanya tugas Ibu. Namun juga Ayah, para perawat, dokter dan rumah sakit terkait. Mendidiknya, apalagi. Banyak faktor yang tidak hanya akan menumbuhkan kepercayaan dirinya, bahkan mungkin menghenyakkan mimpinya. Atau mungkin melakukan perundungan padanya karena semangat kebhinekaan telah pudar? Kau mau jadi orang yang mana? Membantuku melahirkan pemuda kebanggaan negeri, atau dicemooh satu negri?

Indonesia justru tidak butuh pencemooh, bukan?

Begitupula membangun Indonesia. Kita butuh pancasila untuk terus diamalkan. Kita butuh jiwa yang sadar dan memperbaiki diri.

Anak adalah harapan bangsa

Di usia 72 tahunnya sekarang, banyak sekali pergolakan yang terjadi di Indonesia. Entah itu bisnis, hutang yang mencekik, rakyat miskin yang menangis hingga perang pemikiran yang kian marak terjadi di era globalisasi. Melihat ini semua membuat kita berpikir, di mana pancasila kita letakkan? Sesungguhnya Indonesia bukanlah harapan bagi satu golongan, satu kaum, pemerintah dan atau hanya rakyat. Tapi, Indonesia adalah harapan bagi semua instansi tanpa terkecuali. Indonesia milik bersama, untuk kepentingan bersama yang hanya dapat kita raih jika berangkulan tidak gengsi dilakukan. Mungkinkah rakyat kita sekarang sudah lupa peajaran tenggang rasa dan gotong royong yang diajarkan semasa SD? Atau mungkin pelajaran sejarah selalu jadi ajang olok-olokan karena merasa itu lagi itu lagi yang dijelaskan?

Untuk membangun Indonesia yang bermartabat, diperlukan banyak sekali kerja keras rakyat dan pemerintah secara bersama-sama. Pemuda-pemuda hebat di belahan daerah, justru dibutuhkan kontribusinya untuk tetap menegakkan pancasila. Menegakkan pemerintahan yang adil dan amanah. Toh, Indonesia juga perlu kita wariskan kepada anak cucu, bukan?

Festival Prestasi Indonesia, Pancasila Inspirasi Maju

UKP PIP

Bertepatan dengan 72 tahun lahirnya Indonesia, Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP): menyelenggarakan Festival Prestasi Indonesia di Jakarta Convention Centre mulai 21 Agustus – 22 Agustus 2017. Di acara tersebut, Presiden mengapresiasi 72 ikon anak negri yang berprestasi di berbagai bidang, diantaranya saintis dan inovator, olahraga, seni budaya, dan pegiat sosial. Ke 72 ikon ini mendapatkan pengharaan karen telah memperoleh penghargaan atau juara tingkat nasional dan internasional. Bagi yang belum pernah mendapatkan penghargaan, tim seleksi melihat apakah karya dan tindakan ikon tersebut memiliki dampak nyata dan pengaruh yang besar bagi lingkungan maupun profesinya. Masya Allah, hal ini justru bikin kita terkagum-kagum, bukan? Bahwa masih banyak anak negri yang berprestasi untuk bangsa, demi bangsa.

Jadi, tak ada salahnya buat kamu yang di Jakarta untuk datang ke JHCC dan menyaksikan ikon berprestasi ini untuk membarakan semangat Pancasila Inspirasi Maju-mu. Sebelumnya, kenalan lebih dekat ke UKP-PIP dulu, yuk!

 

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply
    Ipeh Alena
    21 August 2017 at 20:21

    Isi pancasila itu mewakili ajaran agama manapun ya, Hablumminallah aka hubungan sama Tuhan dan hablumminannas aka hubungan sama manusia, dibahas juga. Tapi prakteknya itu yang berat, terutama dalam kaitan dengan berbuat adil pada sesama manusia.

    Semoga sehat selalu ya Ayi dan keluarga (^~^)

  • Reply
    Ardiba
    22 August 2017 at 03:20

    Ideologi negara kita itu keren banget. Sayang kalo cuma jadi simbol aja, harus dan wajib diamalkan.

  • Reply
    Mugniar
    22 August 2017 at 07:03

    Pancasila itu asalnya dari kebijakan / krarifan lokal bangsa Indonesia. Nilai2nya sesuai dgn kita, ya Ayi.

  • Reply
    Rotun Df
    22 August 2017 at 07:32

    Serasa diingatkan lagi akan nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan hiruk pikuk dan segala permasalahannya, Indonesia tetap harus bangga dengan banyaknya prestasi yang ditorehkan oleh putra putri terbaiknya.
    Semangat Indonesiaku!

  • Leave a Reply