Monday Marriage

MondayMarriage – Tentang Memilih Pasangan Hidup

MondayMarriage - Tentang Memilih Pasangan

Hai hai, assalamualaikum. Sudah lama ga posting yaaaa.. Dan sekalinya posting saya langsung mau ngenalin teman kolaborasi blogging di blog saya, yakni Nyak Rotun. Kenapa saya memilih Nyak untuk jadi teman kolab saya? Karena nyak udah jadi temen curhat selama ini, dan saya juga nyaman untuk cerita sama Nyak Rotun walau kami belom pernah ketemu secara nyata. Hihihi.

Nah jadi di tema #MondayMarriage kami yang pertama, saya dan Nyak Rotun akan bahas tentang Memilih Pasangan Hidup. Bagaimana kriteria pasangan hidup kami, yang alhamdulillah sudah kami temukan sekarang :)

MondayMarriage - Tentang Memilih Pasangan

Tulisan Nyak Rotun

Memilih pasangan hidup itu hal yang sulit namun sangat menentukan. Mengapa? Karena setiap kita pasti memiliki kriteria masing-masing dalam penantian sembari terus memohon kepada Tuhan. Dan pasangan hidup juga menentukan akan di bawa ke mana bahtera rumah tangga kita. Jika kamu seorang perempuan, maka memilih pasangan hidup haruslah meletakkan agama di atas poin-poin lainnya.

Sebelum mengetahui seluk beluk pernikahan, kriteria pasangan saya selalu tak jauh dari fisik belaka. Yang gantenglah, yang putihlah, dsb dsb. Namun, makin ke sini setelah saya belajar sedikit-sedikit tentang agama, saya merasa kriteria pasangan saya terlalu manusiawi sekali. Sedangkan pernikahan adalah persoalan membangun cinta menuju surga. Lah, di mana kriteria agama yang mampu membawa saya ke surgaNya?

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian
ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Setelah membaca hadist di atas, saya mengubah poin pasangan idaman. Namun, sebelum itu saya mulai berkaca diri dan belajar menjadi wanita yang baik. Yang pantas untuk lelaki yang saya inginkan. Kriteria suami yang saya idamkanpun berubah menjadi seorang lelaki yang se-aqidah, akhlaknya baik, dan sholeh. Saya membutuhkan pasangan yang pola pikirnya lurus alias bukan liberal. Karena dia akan menjadi imam saya, membawa saya lebih dekat ke Illahi Rabbi, dia juga akan menjadi ayah bagi anak-anak saya. Bagaimana jika aqidahnya tidak lurus? Siapa yang membimbing saya menjadi istri yang shalihah?

Karena suami itu ibarat Kepala Sekolah. Saya adalah Gurunya. Dan anak-anak kami adalah muridnya. Dia yang memeriksa kinerja saya sudah kompeten atau tidak terhadap anak-anak. Jika suami saya tidak becus menjadi Kepala Sekolah, bagaimana bisa saya berjalan sendiri tanpa bimbingannya?

Monday Marriage

Selanjutnya adalah soal akhlak. Hari ini, kita sangat krisis akhlak. Dan saya sangat merindukan akhlakul karimah yang dilakukan secara konsisten. Kalo dulu sih saya bertanya ke teman-temannya. Bagaimana sikap dan tingkah lakunya selama ini. Mengapa akhlak menjadi penting? Karena sosok ayah adalah teladan yang nyata. Yang setiap hari dilihat oleh anak-anak dan keluarga. Tak jarang sering sekali kita mendengarkan, ‘Ayah saja begitu, masa aku ga boleh,’ dari mulut anak-anak kita. Well yeah, saya tidak mau hal itu terjadi di keluarga saya. Dan akhlak menjadi poin penting yang saya masukkan ke dalam kriteria pasangan.

Dan yang terakhir adalah kesholihan agamanya. Bagi saya seseorang yang sholih belum tentu baik akhlaknya. Seseorang yang baik akhlaknya belum tentu ia sholih. Sholih di sini adalah soal agama, soal ia kepada Tuhannya. Bisa saja ia seorang yang taat agama, namun akhlak terhadap keluarga dan teman-temannya ZERO. Untuk itu saya sandingkan sholih setelah akhlak. Bagaimana ia bertaqarrub kepada Tuhannya, bagaimana ibadah 5 waktu dan ibadah sunnahnya, bagaimana tilawah alqurannya, bagaimana tingkat keingintahuannya kepada ilmu agama, dsb. Jika seseorang sudah meletakkan Rabb di dalam hatinya, ditambah akhlak yang juara, maka ia insya Allah akan tau bagaimana cara mencintai dan memuliakan istrinya, anak-anaknya & keluarga besarnya.

MondayMarriage

Faktor fisik, harta, keturunan menjadi faktor belakangan. Jika diberi, maka bersyukur. Jika tidakpun bersyukur juga. Karena agama dan akhlak menjadi poin penting di dalam kriteria pasangan. Dan setiap pemberian Allah adalah yang terbaik untuk kita.

Setelah poin penting di atas, poin yang tak kalah penting selanjutnya ketika proses taaruf (perkenalan) adalah visi & misi pernikahan. Saat itu, saya mengirimkan proposal pernikahan ke suami, begitupun dia. Saya membaca dengan seksama visi & misi pernikahan yang ia bawa, sesuaikah dengan keinginan Allah dan RasulNya? Dan ketika diskusi taaruf berlangsung, saya langsung klik dengan jawaban – jawaban beliau. Terlebih lagi, beliau siap belajar dan membimbing istrinya.

Namun, lupanya saya adalah ketika saya mengirimkan proposal taaruf dan diskusi dilaksanakan, saya tidak menyinggung sedikitpun tentang sakinah – mawaddah – warahmah. Padahal, samara adalah keinginan setiap pasangan, setiap suami istri untuk mendapatkan rasa aman, tentram dan damai, kedua belah pihak (suami-istri) diharuskan untuk saling pengertian, saling mencintai, saling menjaga, saling memberi kepercayaan dan kasih sayang sepenuhnya.

Namun alhamdulillah, setelah pernikahan saya menyampaikan hal-hal yang tidak tersampaikan, dan suami saya menerimanya.

Berbicara soal memilih pasangan memang takkan ada habisnya, namun percayalah jika kita meletakkan agama diatas segala-galanya, insya Allah rumah tangga kita akan terwujud menjadi sakinah mawaddah warahmah.

Nah, teman-teman punya kriteria yang bagaimana nih dalam memilih pasangan hidup? Sharing-sharing, yuk :)

2 Comments

  • Reply
    Dian Ravi
    13 February 2017 at 09:26

    Tiap baca soal yang taaruf itu rasanya aku kok adem ya, Yi. Aku malah jadi malu karena aku masih menjalani yang namanya pacaran sebelum akhirnya menikah.

  • Reply
    mutia nurul rahmah
    14 February 2017 at 07:07

    aku g tau mau komen apa yi…
    lagi masa healing.
    thx udh nulis ini,nambah pandangan :)
    Cemana bikin proposal taaruf tu? cuma tau proposal kerjasama blog kyakyaaa

  • Leave a Reply